Rupiah Dibuka Tergerus Saat Daya Tarik Mata Uang Safe Haven Meningkat

Selasa, 12 Februari 2019 - 10:21 WIB
Rupiah Dibuka Tergerus...
Rupiah Dibuka Tergerus Saat Daya Tarik Mata Uang Safe Haven Meningkat
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal perdagangan, Selasa (12/2/2019) semakin tergerus untuk terus jatuh terperosok ke zona merah setelah beberapa pekan sebelumnya membaik. Tren negatif mata uang Garuda mengiringi dolar yang terjaga di dekat level terbaiknya sepanjang 2019.

Menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah pagi ini dibuka merosot menjadi Rp14.088/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah tidak berdaya untuk masih berada di zona merah dibandingkan sebelumnya Rp13.995/USD.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada sesi perdagangan pagi tidak terkecuali mengalami tekanan ke level Rp14.080/USD dengan pergerakan harian Rp13.991 hingga Rp14.095/USD. Peringkat tersebut menjadi sinyal keterpurukan rupiah, setelah awal pekan kemarin bertengger di posisi Rp14.035/USD.

Berdasarkan data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah dalam awal sesi hari kedua pekan ini juga jatuh setelah sebelumnya juga tidak terlalu baik. Tercatat, mata uang Garuda anjlok hingga level Rp14.090/USD dari sebelumnya Rp14.030/USD .

Posisi rupiah melihat data Bloomberg, pada perdagangan spot exchange juga memerah ke level Rp14.080/USD dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp14.034/USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran level Rp14.075-Rp14.097/USD.

Di sisi lain seperti dilansir Reuters, Dolar bertahan mendekati level tertinggi 2019 pada hari Selasa karena ketegangan perdagangan AS-China dan kekhawatiran pertumbuhan global mendukung daya tarik safe-haven greenback. Sedangkan euro dan pound Inggris terhantam oleh kondisi dalam negeri.

Dolar telah menguat terhadap mata uang safe havens lainnya seperti Yen Jepang dan Franc Swiss selama satu pekan terakhir. Saat melawan Yen, tercatat dolar stabil pada level 110,37 dan lebih tinggi dibandingkan franc Swiss di 1,0040.

Indeks dolar stabil pada posisi 97,06 setelah naik 0,45% di sesi sebelumnya, untuk menjadi persentase kenaikan terbesar sejak 24 Januari. Indeks telah naik selama delapan sesi berturut-turut, terutama berkat kejatuhan euro yang memiliki bobot terbesar dalam indeks.

Euro mengalami penurunan sedikit menjadi 1,1272 terhadap USD di perdagangan awal Asia, setelah kehilangan hampir setengah persen pada hari Senin, kemarin. Euro telah melemah selama enam sesi berturut-turut, dan para pelaku pasar memperkirakan bakal terjadi kerugian lanjutan.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Nilai Tukar Rupiah Melemah
Balik Arah, Rupiah Menguat...
Balik Arah, Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.251 Sore Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah...
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Level Rp15.036
Rupiah Tertekan Meski...
Rupiah Tertekan Meski Indeks Dolar AS Melemah
Dollar AS Masih Tidak...
Dollar AS Masih Tidak Berdaya, Rupiah Seharusnya Bisa Menguat
Rupiah Lemas di Awal...
Rupiah Lemas di Awal Sesi, Hanya Naik Tipis ke Rp14.907/USD
Berita Terkini
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
7 menit yang lalu
Lewat LinkUMKM BRI,...
Lewat LinkUMKM BRI, Zdrink Kembangkan Minuman Cokelat Instan Berbahan Kakao Khas Lampung
1 jam yang lalu
Mengulik Strategi Indonesia...
Mengulik Strategi Indonesia dalam Mengejar PLTS 100 GW, Apa yang Dibutuhkan?
1 jam yang lalu
Kisah BRILink Agen John,...
Kisah BRILink Agen John, Dorong Perekonomian Masyarakat Perbatasan RI-Papua Nugini
1 jam yang lalu
Bisnis F&B Tumbuh Pesat,...
Bisnis F&B Tumbuh Pesat, Bali Jadi Hotspot Baru Ekspansi Franchise di Indonesia
3 jam yang lalu
Petani Sawit Apresiasi...
Petani Sawit Apresiasi PKS Taat HPP di Tengah Anjloknya Harga TBS
3 jam yang lalu
Infografis
3 Ruas Tol Fungsional...
3 Ruas Tol Fungsional Dibuka Gratis saat Mudik Lebaran 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved