Kerugian Ekonomi Akibat Pengendalian Impor Jagung Capai Rp52,16 Triliun

Kamis, 21 Februari 2019 - 21:01 WIB
Kerugian Ekonomi Akibat...
Kerugian Ekonomi Akibat Pengendalian Impor Jagung Capai Rp52,16 Triliun
A A A
JAKARTA - Demi menekan impor jagung untuk kebutuhan domestik, langkah pengendalian impor jagung yang dilakukan pemerintah, dinilai justru berimplikasi negatif lebih besar. Penurunan impor jagung yang terjadi karena kebijakan pengendalian, justru membuat impor gandum sebagai subtitusi pakan ternak meningkat.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika, menuturkan berdasarkan cost-benefit analyis, sepanjang tahun 2016-2018, biaya yang dihasilkan dari kebijakan pengendalian impor jagung terdiri dari tiga aspek.

Pertama, impor gandum pakan tercatat sebesar Rp28,58 triliun; kedua terjadi kenaikan harga pakan sebesar Rp63 triliun; ketiga subsidi benih dan pupuk untuk menggenjot produksi jagung sebesar Rp8,4 triliun. Total dalam periode tersebut biaya yang dikeluarkan sebesar Rp99,98 triliun

Kemudian dari sisi benefit, pengendalian impor jagung menghemat impor sebesar Rp33,12 triliun. Ditambah peningkatan pendapatan petani jagung sebesar Rp14,7 triliun, maka total beneft yang dihasilkan menjadi sebesar Rp47,82 triliun.

"Kesimpulannya, kebijakan pengendalian impor jagung (stop impor jagung) yang dilakukan Kementrian Pertanian, telah mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar Rp52,16 triliun sepanjang 2016-2018," ujarnya dalam diskusi "Data Jagung yang Bikin Bingung" yang diselenggarakan Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi Makro (Forkem) dan Lembaga kajian Visi Teliti Saksama di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/2/2019).

Yeka membeberkan, selama periode 2013-2018, impor jagung rata-rata memang menurun sebesar 13,8% per tahun. Namun, selama periode 2013-2018, impor gandum pakan rata-rata mengalami peningkatan sebesar 296,5% per tahun.

"Jadi, kalau seperti itu, ini hanya substitusi saja. Di satu sisi kita amputasi jagung, di sisi lain kita menggelontorkan impor gandum," serunya.

Mengikuti formula perhitungan Kementan, lanjutnya, akumulasi penghematan impor jagung selama 2016-2018 sebesar 9,2 juta ton. Maka, kata Yeka, dengan cara yang sama, dapat diketahui kebijakan pengendalian impor jagung berakibat terhadap adanya akumulasi pemborosan impor gandum untuk pakan sebesar 6,35 juta ton, dalam periode yang sama.

Ia menuturkan, perhitungan harga jagung impor saat ini sebesar Rp3.600 per kg dan harga gandum impor sebesar Rp4.500 per kg, maka ada penghematan pengendalian impor jagung sebesar Rp33,12 triliun, sekaligus pemborosan dari impor gandum sebesar Rp28,58 triliun. Alhasil, kebijakan pengendalian impor jagung berdampak terhadap peningkatan harga pakan.

"Selama tahun 2016-2018, akumulasi kenaikan harga pakan rata-rata sebesar Rp1.200 per kg dengan memperhatikan akumulasi jumlah pakan ayam (layer dan broiler) selama 2016-2018 sebesar 52,5 juta ton. Maka kerugian akibat penerapan kebijakan pengendalian impor jagung sebesar Rp63 triliun," tuturnya.

Dengan meningkatnya harga jagung, pendapatan petani pun diakuinya meningkat. Dalam hitunganya, akumulasi peningkatan harga jagung ditingkat petani selama 2016-2018 sebesar Rp300 per kg. Dengan menggunakan asumsi faktor koreksi BPS sebesar 43,43%, maka produksi jagung per tahun diperkirakan sebesar 13 juta ton. Dengan demikian, selama 2016-2018, akumulasi produksi jagung sebanyak 49 Juta ton dan benefit tambahan akibat peningkatan harga jagung adalah Rp14,7 triliun.

"Tersenyumnya petani diiringi dengan menangisnya peternak karena harga pakan meningkat. Padahal, dalam program peningkatan produksi jagung, ada pengeluaran subsidi jagung Rp8,4 triliun," tuturnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rusia Embargo Ukraina,...
Rusia Embargo Ukraina, Pasokan Gandum ke Indonesia Terancam
Protes Rencana Impor,...
Protes Rencana Impor, Petani di Lombok Buang Jagung ke Jalan Raya
Industri Pangan RI Butuh...
Industri Pangan RI Butuh 1,6 Juta Ton Jagung di Tahun 2022, Pasokan Masih Seret
Panen Jelang Akhir Tahun,...
Panen Jelang Akhir Tahun, Petani Jagung Untung Besar
Ini Biang Kerok Harga...
Ini Biang Kerok Harga Jagung Kerap Melambung
Petani di Brebes Semringah,...
Petani di Brebes Semringah, Permintaan Jagung Manis Melonjak Jelang Pergantian Tahun
Berita Terkini
Perkuat Ekosistem Pendidikan,...
Perkuat Ekosistem Pendidikan, BTN Teken MoU Strategis dengan UNAIR
36 menit yang lalu
Brantas Abipraya Kebut...
Brantas Abipraya Kebut Penyelesaian Akhir Sekolah Rakyat Jabar II, DPR Optimistis Segera Operasional
40 menit yang lalu
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
47 menit yang lalu
Santai Seaplane Buka...
Santai Seaplane Buka Pangkalan di Banyuwangi, Perkuat Konektivitas Wisata Premium
1 jam yang lalu
IHSG Melesat 3,5 Persen,...
IHSG Melesat 3,5 Persen, Saham BUMN Jadi Motor Penguatan Bursa
1 jam yang lalu
Aksi Bersih dan Penghijauan...
Aksi Bersih dan Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
1 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved