Trump Batalkan Hak Istimewa Perdagangan, India Anggap Remeh

Selasa, 05 Maret 2019 - 17:12 WIB
Trump Batalkan Hak Istimewa...
Trump Batalkan Hak Istimewa Perdagangan, India Anggap Remeh
A A A
WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump tampaknya siap membuka front baru dalam perang perdagangannya dengan rencana untuk mengakhiri perlakuan perdagangan preferensial bagi India. Perlakuan istimewa tersebut memungkinkan masuknya ekspor India ke AS tanpa pajak senilai USD5,6 miliar.

Sejauh ini, India mengecilkan dampak rencana tersebut dengan mengatakan bahwa negara itu tidak akan menerapkan tarif balasan dalam perundingannya dengan Amerika Serikat. Namun demikian, pihak oposisi di India dinilai dapat memanfaatkan masalah ini untuk mempermalukan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi menjelang pemilihan umum tahun ini.

Trump yang telah bersumpah untuk memangkas defisit perdagangan AS, telah berulang kali menegur India atas tarif tinggi yang dikenakan negara itu terhadap produk ekspor AS. Pejabat perdagangan AS mengatakan bahwa pembatalan konsesi akan memakan waktu setidaknya 60 hari setelah pemberitahuan ke Kongres dan pemerintah India.

"Saya mengambil langkah ini karena, setelah keterlibatan intensif antara Amerika Serikat dan pemerintah India, saya telah menentukan bahwa India belum meyakinkan Amerika Serikat bahwa itu akan memberikan akses yang adil dan masuk akal ke pasar India," kata Trump kepada kongres seperti dikutip Reuters, Selasa (5/3/2019).

India adalah penerima manfaat terbesar dunia dari Generalized System of Preferences (GSP), yang berasal dari tahun 1970-an. Pembatalan GSP bagi India akan menjadi sanksi terkuat yang diterima negara itu sejak Trump menjabat.

Kantor Perwakilan Dagang AS menyatakan, penghapusan India dari GSP tidak akan berlaku setidaknya 60 hari setelah pemberitahuan. "Diskusi sedang berlangsung dengan Amerika Serikat, dan dengan hubungan yang baik dan kuat antara kedua negara, (kami) mengecualikan (opsi) tarif pembalasan dari pembicaraan itu," tegas Menteri Perdagangan Anup Wadhawan di New Delhi.

Dia menambahkan, perlakuan istimewa yang diterima India dalam perdagangannya dengan AS tersebut "hanya" memberikan manfaat aktual tahunan sebesar USD190 juta. Wadhawan menambahkan, dari 3.700 produk yang dicakup, India menggunakan konsesi itu hanya untuk 1.784 produk saja.

"Manfaatnya bagi industri rendah, tarif AS sudah rendah," kata pejabat pemerintah India lainnya. "GSP lebih simbolis dari hubungan strategis, bukan dari segi nilai," imbuhnya.

Produk pertanian, kelautan dan kerajinan adalah di antara ekspor India yang paling mungkin terpukul, ungkap Direktur Jenderal Federasi Organisasi Ekspor India Ajay Sahai.

Pekan lalu, India mengumumkan penundaan pengenaan tarif yang lebih tinggi pada beberapa barang yang diimpor dari AS hingga 1 April, sebagai tanggapan atas penolakan AS untuk mengecualikannya dari tarif baja dan aluminium baru.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Negara Bagian Pennsylvania...
Negara Bagian Pennsylvania Medan Pertarungan Penting Donald Trump di Pemilu AS
Apa Respons Negara-negara...
Apa Respons Negara-negara NATO terhadap Penembakan Donald Trump?
Trump Umumkan Kesepakatan...
Trump Umumkan Kesepakatan Perdagangan Besar dengan Pakistan
Akui Kekalahan dari...
Akui Kekalahan dari Donald Trump di Pilpres AS, Kamala Harris Sampaikan Pidato Konsesi
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Trump: AS akan Jadi...
Trump: AS akan Jadi Negara Dunia Ketiga Jika Tanpa Tarif
Berita Terkini
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
18 menit yang lalu
Pertamax Naik Rp3.950...
Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
1 jam yang lalu
Harga BBM Pertamax Cs...
Harga BBM Pertamax Cs Resmi Naik per Rabu 10 Juni 2026, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
1 jam yang lalu
BI Rate Naik Demi Menahan...
BI Rate Naik Demi Menahan Tekanan Rupiah dan Capital Outflow
7 jam yang lalu
Dirut Perkebunan Nusantara...
Dirut Perkebunan Nusantara III Dorong Pemuda Jadi Motor Transformasi Perkebunan
7 jam yang lalu
Ekonom: Kebijakan BI...
Ekonom: Kebijakan BI dan Pemerintah Memperkuat Rupiah Sudah Tepat
9 jam yang lalu
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved