China Pangkas Pajak untuk Dorong Pertumbuhan

Rabu, 06 Maret 2019 - 08:41 WIB
China Pangkas Pajak...
China Pangkas Pajak untuk Dorong Pertumbuhan
A A A
BEIJING - China berupaya mengatasi ekonomi yang melemah dengan memangkas pajak dan belanja infrastruktur.

Saat ini pertumbuhan ekonomi China berada di level terlemah dalam hampir 30 tahun akibat turunnya permintaan domestik dan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Pemerintah China menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,0% hingga 6,5% pada 2019 menurut pernyataan Perdana Menteri (PM) Li Keqiang saat membuka rapat tahunan parlemen China kemarin.

Target itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 6,6% pada tahun lalu. Sejumlah sumber menjelaskan pada awal tahun ini bahwa China akan memangkas target pertumbuhan 2019 menjadi 6,0 hingga 6,5% dari target 2018 sebesar 6,5% saat permintaan domestik dan global turun dan perang dagang AS menambah risiko ekonomi.

Saat berbicara di Balai Agung Rakyat, Beijing, Li memperingatkan berbagai tantangan yang dihadapi China. Dia berjanji mempertahankan stabilitas ekonomni dengan sejumlah langkah stimulus.

“Lingkungan yang dihadapi China tahun ini lebih rumit dan lebih parah. Akan ada lebih banyak risiko dan tantangan yang telah diprediksi atau belum diprediksi dan kita harus sepenuhnya bersiap untuk pertarungan sengit,” tutur Li, dilansir Reuters.

Menurut Li, kebijakan fiskal China akan lebih kuat dengan rencana memangkas pajak dan fee perusahaan senilai hampir USD298,31 miliar atau 2 triliun yuan. Pemangkasan pajak itu lebih agresif dibandingkan pemangkasan pajak pada 2018 sebesar 1,3 triliun yuan, dan termasuk pengurangan yang bertujuan mendukung sektor manufaktur, transportasi dan konstruksi.

PDB China tahun lalu tumbuh pada level terendah sejak 1990 akibat perang dagang dan langkah China mengurangi risiko keuangan yang menambah biaya pinjaman perusahaan dan menekan investasi.

Para pengamat menyatakan langkah Beijing mengadopsi target PDB memberi ruang pada pembuat kebijakan untuk bermanuver. Namun peningkatan rencana stimulus fiskal menandai kekhawatiran otoritas pada pertumbuhan.

“Jika Anda tidak sakit, Anda tidak akan mengonsumsi sangat banyak obat dalam satu waktu. Ini berarti angin kencang belum berlalu dan masih ada di sana,” papar Iris Pang, ekonomi China di ING Wholesale Banking.

Kampanye jangka panjang untuk membatasi polusi dan industri bernilai rendah juga melemahkan sektor manufaktur China.

Rapat tahunan parlemen China itu diikuti oleh lebih dari 3.000 delegasi dari seluruh wilayah China, termasuk para etnik minoritas yang mengenakan pakaian tradisional berwarna-warni. (Syarifudin)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Masalah Ekonomi China...
Masalah Ekonomi China Bertambah, Raksasa Properti Country Garden Rugi Rp114,8 Triliun
Ramalan Ledakan Utang...
Ramalan Ledakan Utang Jumbo China: 3 Tahun Lagi Tambah Rp12.984 Triliun
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
3 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
3 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
4 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
4 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
5 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
5 jam yang lalu
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved