Pertamina Bangun Terminal Elpiji Rp1,2 Triliun

Selasa, 02 April 2019 - 08:42 WIB
Pertamina Bangun Terminal...
Pertamina Bangun Terminal Elpiji Rp1,2 Triliun
A A A
KUPANG - PT Pertamina (Persero) terus memperkuat infrastruktur di sektor hilir guna mendistribusikan gas elpiji khususnya di Indonesia Timur. Hal itu diwujudkan membangun empat terminal elpiji yakni di Kupang (NTT), Bima (NTB), Ambon (Maluku) dan Jayapura (Papua).

“Infrastruktur hilir tersebut nantinya akan memperkuat distribusi elpiji di wilayah timur Indonesia, sekaligus mendukung program pemerintah supaya masyarakat mulai beralih dari minyak tanah ke elpiji,” ujar Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina, Gandhi Sriwidodo di acara Groundbreaking Pembangunan Terminal Elpiji Tenau, di TBBM Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur, kemarin.

Menurut dia, untuk membangunan keempat terminal elpiji tersebut, Pertamina mengalokasikan anggaran lebih dari Rp1,2 triliun. Adapun fasilitas utama yang akan dibangun antara lain tangki spherical sebagai fasilitas penyimpanan utama, fasilitas pengisian elpiji ke mobil tangki dan dermaga untuk penerimaan elpiji dari kapal tanker.

“Nantinya jalur distribusi elpiji tersebut akan mengandalkan aspek laut sehingga lebih efisien dalam pengangkutannya,” kata dia.

Dia menambahkan, pembangunan terminal elpiji tersebut merupakan tindak lanjut dari penugasan pemerintah melalui Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia No. 2157 K/10/MEM/2017 tentang Penugasan Kepada PT Pertamina (Persero) dalam Pembangunan dan Pengoperasian Tangki Penyimpanan Bahan Bakar Minyak dan Liquefied Petroleum Gas.

“Proyek pembangunan terminal elpiji ini sepenuhnya menggunakan anggaran biaya investasi dari internal Pertamina yang telah dianggarkan sebelumnya,” sambung Gandhi.

Untuk keempat lokasi tersebut nantinya akan dibangun dengan jumlah kapasitas tangki elpiji yang berbeda-beda. Terminal Elpiji Kupang (NTT) akan dibangun dengan kapasitas 2 x 500 metrik ton (MT), Terminal Elpiji Bima akan dibangun dengan kapasitas 1 x 1.000 MT, sedangkan untuk Terminal Elpiji Ambon (Maluku) akan dibangun dengan kapasitas 2 x 1.000 MT dan Terminal Elpiji Jayapura (Papua) akan dibangun dengan kapasitas 2 x 1.000 MT.

Pembangunan terminal elpiji ini juga akan memberikan dampak positif, antara lain penyediaan lapangan kerja baru, baik pada saat tahap konstruksi yang dijadwalkan selama 18 bulan dan setelah beroperasi kelak. Selain itu juga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk pembangunan, serta memunculkan dampak ikutan berupa usaha-usaha jasa penunjang seperti katering atau kuliner, laundry, dan lain-lain.

Selain itu, dengan beroperasinya infrastruktur hilir ini diharapkan juga memberikan dampak pada penurunan harga jual elpiji khususnya non subsidi di masyarakat.

Sebagai informasi, harga jual elpiji di wilayah NTT yakni Timor, Flores dan Sumba untuk elpiji 12 kilogram dan Bright Gas 12 kg berada di kisaran Rp195.000-Rp225.000 per tabung sementara Bright Gas 5,5 kg sekitar Rp110.000-Rp135.000 per tabung.

Diharapkan dengan beroperasinya terminal elpiji Kupang dan dengan pembangunan SPPBE ke depannya, maka harga akan turun menjadi sekitar Rp155.000-Rp170.000 per tabung untuk elpiji 12 kg dan Bright Gas 12 kg, serta Rp72.000-Rp85.000 per tabung untuk Bright Gas 5,5 kg.

“Penurunan terjadi karena sebelumnya para agen elpiji non subsidi di NTT melakukan pengisian di Surabaya. Namun setelah Terminal Elpiji Kupang beroperasi dan adanya rencana pembangunan SPPBE maka rantai supply menjadi lebih pendek, dan harga menjadi lebih kompetitif. Harga jual diperkirakan akan sama dengan wilayah NTB,” ujar Gandhi.

Pembangunan Terminal Elpiji khususnya di NTT dilakukan oleh BUMN konstruksi yaitu PT Barata yang terbukti kompetitif setelah melalui proses seleksi sebelumnya.

Anggota Komisi VII DPR Fery Kase mendukung peningkatkan infrastruktur energi khususnya di NTT. Pembangunan terminal elpiji ini akan mendorong masyarakat lebih efisien dibandingkan menggunakan minyak tanah.

“Dampak pembangunan ini akan dirasakan semua masyarakat. Multiplier effect-nya perekonomian daerah akan tumbuh karena gas elpiji lebih efisien,” ucapnya.(Nanang Wijayanto)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
PT HTGJ Ogah Dituding...
PT HTGJ Ogah Dituding Distribusikan Elpiji Oplosan, Dukung Investigasi Pertamina
Ramadhan, Satgas Pertamina...
Ramadhan, Satgas Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan Elpiji Sumbar Aman
Prediksi Konsumsi Naik...
Prediksi Konsumsi Naik 5%, Pertamina Pastikan Stok LPG Aman Saat Lebaran 2020
UMKM Serap 17 Persen...
UMKM Serap 17 Persen Elpiji 3 Kilogram
Pertamina Lakukan Penambahan...
Pertamina Lakukan Penambahan Fakultatif Kebutuhan LPG 3 Kg untuk Wilayah Jabodetabek
Orang Kaya Pakai Gas...
Orang Kaya Pakai Gas Melon, Pengamat: Malu Dong!
Berita Terkini
IHSG Ambruk 4,55% dalam...
IHSG Ambruk 4,55% dalam Sepekan, Ini Saham-saham yang Cuan dan Boncos
2 jam yang lalu
Investor Saham Meningkat,...
Investor Saham Meningkat, Stockbit Andalkan Keamanan Berlapis
2 jam yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000, Buyback Melesat Rp38.000 per Gram
3 jam yang lalu
Cegah Kebocoran Devisa...
Cegah Kebocoran Devisa Hasil Ekspor, DSI Fokus Dongkrak Penerimaan Negara
4 jam yang lalu
Salah Pilih Rekening...
Salah Pilih Rekening Tujuan? Cara Batalkan Pencairan Pinjaman Kredivo
4 jam yang lalu
Daya Saing Indonesia...
Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam
4 jam yang lalu
Infografis
APBN Pernah Jebol Nyaris...
APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved