PLTA Tulang Punggung Pengendalian Perubahan Iklim Sektor Energi

Senin, 29 April 2019 - 21:39 WIB
PLTA Tulang Punggung...
PLTA Tulang Punggung Pengendalian Perubahan Iklim Sektor Energi
A A A
JAKARTA - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bersama pembangkit listrik geothermal sangat diandalkan untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam produksi listrik nasional. Peningkatan penggunaan energi terbarukan ini penting untuk mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) demi mengendalikan bencana perubahan iklim.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, menyatakan PLTA dan geothermal adalah tulang punggung produksi listrik yang bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT). Sebanyak 10% dari 13% porsi penggunaan EBT dalam produksi listrik nasional, disumbang PLTA dan geothermal. Sementara 3% sisanya bersumber dari pembangkit EBT lain seperti panel surya, angin, maupun biomassa.

"PLTA dan geothermal ini tulang punggung, karena bisa menciptakan listrik dengan skala besar," kata Jonan usai penandatangan nota kesepahaman dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, di Jakarta, Senin (29/4/2019).

Jonan menambahkan, jika memang penggunaan energi terbarukan untuk pengendalian perubahan iklim ingin terus ditingkatkan, maka dia berharap KLHK bisa terus memberikan dukungan untuk pengembangan PLTA dan geothermal.

Terkait pembangunan salah satu PLTA, yaitu PLTA Batangtoru di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, menyatakan proyek tersebut penting untuk mendukung pasokan listrik di Sumatra. Proyek yang pembangunannya saat ini sedang berjalan. Itu pun sudah lama masuk dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Nasional karena kebutuhan listrik yang begitu mendesak di Sumatra. "Kalau tidak mendesak, tidak akan dibangun," kata Jonan.

Dia mengakui ada perhatian publik terhadap pengembangan pengembangan proyek tersebut terutama terkait konservasi orangutan. Jonan menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada KLHK.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno, menjelaskan saat ini pihaknya masih terus melakukan continous monitoring untuk memantau eksistensi orangutan yang ada di sekitar areal proyek PLTA Batangtoru. "Tim saya masih terus bekerja di lapangan," katanya.

Dia menegaskan, hingga saat ini tidak ada orangutan yang terluka apalagi sampai terbunuh sebagai dampak dari pembangunan PLTA Batangtoru. Ini juga dipengaruhi oleh sikap masyarakat setempat yang tidak memusuhi orangutan.

Wiratno menuturkan, PLTA Batangtoru sejatinya dibangun di areal penggunaan lain (APL) yang berada di luar kawasan hutan. Meski demikian, di lokasi masih terdapat tutupan hutan yang masih baik. Nantinya, areal yang terbuka untuk pengembangan PLTA hanya 60 hektar dari total bentang alam Batangtoru seluas 140.000-an hektar.

Hutan yang ada di wilayah hulu akan tetap dipertahankan untuk memastikan pasokan air untuk membangkitkan listrik tetap tersedia. Soal kelestarian orangutan, Wiratno menyatakan, yang juga harus diperhatikan adalah dampak dari aktivitas pertambangan emas dan perkebunan sawit yang ada di bentang alam Batangtoru. "Ada 4 konsesi kebun sawit, luasnya sekitar 25.000 hektar," katanya.

Menteri LHK, Siti Nurbaya menambahkan, pengembangan proyek listrik EBT penting untuk mencapai komitmen penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia untuk pengendalian bencana perubahan iklim global. Indonesia menargetkan menurunkan emisi GRK 29% dari praktik business as usual pada 2030 berdasarkan upaya sendiri.

Dua sektor terbesar yang menyumbang penurunan emisi GRK adalah kehutanan dan energi, dengan masing-masing 17% dan 11%. Menteri Siti menyatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan kajian untuk meningkatkan kontribusi sektor energi hingga 24% dengan mengandalkan pengembangan EBT. "Banyak langkah-langkah yang sudah diambil Kementerian ESDM yang bisa berdampak pada penurunan emisi GRK," katanya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementerian ESDM Genjot...
Kementerian ESDM Genjot Capaian Energi Baru Terbarukan
Masalah Lingkungan,...
Masalah Lingkungan, Kementerian LHK Rancang Peta Jalan Pengelolaan Limbah
Simontana Kementerian...
Simontana Kementerian LHK Masuk Top 99 Pelayanan Publik 2020
Balai Besar Tana Bentarum...
Balai Besar Tana Bentarum Raih Dua Penghargaan Lomba Video Kementerian LHK
Kementerian LHK Latih...
Kementerian LHK Latih 57 Polhut Terbaik Menjadi SPORC
Dirjen PSLB3 Kementerian...
Dirjen PSLB3 Kementerian LHK Sebut Masalah Sampah Harus Dituntaskan
Berita Terkini
Transaksi BI-FAST Capai...
Transaksi BI-FAST Capai 1,53 Miliar di Triwulan II 2026, Nilainya Tembus Rp3.777 Triliun
4 menit yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Integrasikan Penanganan Stunting dan Pemberdayaan UMKM
28 menit yang lalu
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
37 menit yang lalu
Pupuk Kaltim Dukung...
Pupuk Kaltim Dukung Pengembangan SDM melalui Olahraga
1 jam yang lalu
Pimpin BGN, Sudaryono...
Pimpin BGN, Sudaryono Lepas Jabatan Wakil Menteri Pertanian
1 jam yang lalu
Gejolak Global Meningkat,...
Gejolak Global Meningkat, Gubernur BI Prediksi Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,9-5,7%
1 jam yang lalu
Infografis
Jejak Pendidikan Stella...
Jejak Pendidikan Stella Christie, Wamen yang Jadi Komisaris Pertamina Hulu Energi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved