Jaga Inflasi 2019, Harga BBM dan Tarif Listrik Disarankan Tak Naik
Kamis, 25 Juli 2019 - 19:14 WIB
Jaga Inflasi 2019, Harga BBM dan Tarif Listrik Disarankan Tak Naik
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah diminta berkomitmen dalam menjaga inflasi di tahun 2019, setelah pada tahun kemarin lalu bergerak stabil. Dimana realisasi inflasi tahun 2018 tercatat tetap terjaga yakni sebesar 3,13% year on year (yoy)
Ekonom Indef Bhima Yudisthira mengatakan, salah satu komitmen pemerintah bisa ditunjukkan dengan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik. Pasalnya menaikan harga BBM bisa membuat target meleset. "Asalkan tidak ada kenaikan harga BBM dan tarif listrik inflasi bisa terjaga di range 3.2-3.5%," ujar Bhima Yudisthira saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (25/7/2019)
Dia pun menekankan agar menjaga distribusi bahan komoditas, ketika dua bulan ke depan diprediksi mulai memasuki periode musim kemarau panjang. Hal ini berpotensi menganggu produksi hingga membuat harga naik yang pada akhirnya berdampak ke inflasi.
Untuk itu, dia menyarankan agar menjaga stabilitas harga agar tidak melonjak tinggi. "Itu juga menjadi tantangan karena mempengaruhi pasokan bahan makanan. Cabai harga di daerah masih tinggi salah satunya karena ada musim kemarau," jelasnya.
Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, dengan dibentuknya Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), sejak tahun 2015 hingga sekarang inflasi rendah dan selalu di sasaran sekitar 3%.
"Kalau kita lihat komponen yang biasanya membuat inflasi naik turun adalah inflasi volatile food. Kalau 5 tahun terakhir sejak 2015, hanya tahun 2016 saja yang inflasi volatile di atas 5%, selebihnya di bawah 5%," terang Perry Warjiyo.
Ekonom Indef Bhima Yudisthira mengatakan, salah satu komitmen pemerintah bisa ditunjukkan dengan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik. Pasalnya menaikan harga BBM bisa membuat target meleset. "Asalkan tidak ada kenaikan harga BBM dan tarif listrik inflasi bisa terjaga di range 3.2-3.5%," ujar Bhima Yudisthira saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (25/7/2019)
Dia pun menekankan agar menjaga distribusi bahan komoditas, ketika dua bulan ke depan diprediksi mulai memasuki periode musim kemarau panjang. Hal ini berpotensi menganggu produksi hingga membuat harga naik yang pada akhirnya berdampak ke inflasi.
Untuk itu, dia menyarankan agar menjaga stabilitas harga agar tidak melonjak tinggi. "Itu juga menjadi tantangan karena mempengaruhi pasokan bahan makanan. Cabai harga di daerah masih tinggi salah satunya karena ada musim kemarau," jelasnya.
Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, dengan dibentuknya Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), sejak tahun 2015 hingga sekarang inflasi rendah dan selalu di sasaran sekitar 3%.
"Kalau kita lihat komponen yang biasanya membuat inflasi naik turun adalah inflasi volatile food. Kalau 5 tahun terakhir sejak 2015, hanya tahun 2016 saja yang inflasi volatile di atas 5%, selebihnya di bawah 5%," terang Perry Warjiyo.
(akr)
Lihat Juga :