Kinerja Investasi Migas Belum Memuaskan

Minggu, 28 Juli 2019 - 23:07 WIB
Kinerja Investasi Migas...
Kinerja Investasi Migas Belum Memuaskan
A A A
JAKARTA - Institute For Development of Economics and Finance (Indef) menilai kinerja investasi migas di Indonesia masih belum memuaskan. Hingga semester I-2019, realisasi investasi migas baru mencapai USDD5,21 miliar atau 35% target 2019 sebesar USD14,79 miliar.

Padahal investasi migas merupakan syarat mutlak untuk dapat meningkatkan produksi migas nasional, memperkuat ketahanan energi nasional dan sekaligus menambah sumber penerimaan negara.

Peneliti Indef, Abra Talattov, mengatakan sejak tahun 2014, investasi hulu migas selalu mengalami penurunan. Sementara itu, realisasi investasi migas sepanjang 2018 tercatat tumbuh 14,9% menjadi USD12,69 miliar. Namun masih jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2014.

"Rendahnya realisasi investasi migas tersebut menjadi anomali ditengah suburnya terobosan kebijakan yang telah ditelurkan pemerintah. Salah satunya seperti skema gross split yang digadang-gadang dapat meningkatkan keuntungan yang lebih besar bagi investor," ujarnya di Jakarta, Minggu (28/7/2019).

Melalui skema gross split, pemerintah menjanjikan simplifikasi proses bisnis, prosedur dan administrasi dalam melaksanakan kegiatan operasi perminyakan sehingga diharapkan mampu mendorong investor untuk lebih giat berinvestasi. Namun nyatanya hanya ada 14 blok yang berhasil dilelang dengan skema gross split dalam 2 tahun terakhir.

"Hal yang sangat penting dan menjadi perhatian investor justru adalah soal stabilitas hukum dan politik, bukan sekadar insentif yang dijanjikan pemerintah," imbuhnya.

Abra melanjutkan, investasi migas merupakan investasi jangka panjang sehingga wajar jika isu utama yang mesti diantisipasi oleh investor adalah potensi gejolak politik yang berujung pada perombakan kebijakan, baik secara minor apalagi yang bersifat mayor. Untuk itu, setiap perubahan kebijakan mesti dilakukan dengan smooth, melalui dasar kajian yang kredibel dan proses dialog yang terbuka dan setara dengan stakeholders.

"Pemerintah harus bisa berkomitmen dan meyakinkan investor dalam mengurangi risiko instabilitas hukum dan politik. Di sisi lain juga dapat menunjukkan potensi keuntungan kepada investasi di sektor migas," jelasnya.

Ekonom Senior Indef, Faisal Basri, mengatakan pemerintah perlu meninjau kembali metode gross split. Ada baiknya menawarkan menu beragam, bukan tunggal.

"Jadi bukan sekedar perubahan PSC cost recovery ke PSC gross split, tapi menawarkan menu beragam. Ladang minyak kita beragam tingkat kesulitannya, juga beragam potensinya. Berilah keleluasaan untuk setiap equity migas yang kita miliki," ungkapnya.

Menurut Faisal, akibat menu tunggal, penerapan sistem gross split dapat menghambat investasi di sektor hulu migas.

"Penerapan sistem gross split menyebabkan persentase proyek yang tidak ekonomis (uneconomic) meningkat dari 17% menjadi 18% untuk proyek minyak bumi. Sementara ketidakekonomisan proyek gas bumi dari sistem ini meningkat dari 35% menjadi 45%," tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tepis Anggapan Investasi...
Tepis Anggapan Investasi Migas Tak Lagi Menarik, SKK Migas Tunjukkan Bukti
Investasi Hulu Migas...
Investasi Hulu Migas Sepanjang 2021 Merayap Capai Rp152 Triliun
Tarik Investor, Aspermigas...
Tarik Investor, Aspermigas Sebut Indonesia Butuh UU Migas Baru
Siapa Bilang Ambles?...
Siapa Bilang Ambles? Ini Sumbangsih Industri Hulu Migas untuk Ketahanan Energi Nasional
Investasi Hulu Migas...
Investasi Hulu Migas Seret, Baru Capai Rp85 Triliun di Semester I 2023
Pemerintah Dengerin...
Pemerintah Dengerin Nih, Insentif Migas Belum Cukup Menarik Bagi Investor
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Integrasikan Penanganan Stunting dan Pemberdayaan UMKM
21 menit yang lalu
Heboh Surat Dinas ke...
Heboh Surat Dinas ke AS dengan Keluarga Bocor, Menteri PU: Saya Nggak Jadi Berangkat
31 menit yang lalu
Pupuk Kaltim Dukung...
Pupuk Kaltim Dukung Pengembangan SDM melalui Olahraga
54 menit yang lalu
Pimpin BGN, Sudaryono...
Pimpin BGN, Sudaryono Lepas Jabatan Wakil Menteri Pertanian
1 jam yang lalu
Gejolak Global Meningkat,...
Gejolak Global Meningkat, Gubernur BI Prediksi Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,9-5,7%
1 jam yang lalu
Prudential Indonesia...
Prudential Indonesia Catat 10 Tahun Beruntun dengan Jumlah MDRT Terbanyak di RI
1 jam yang lalu
Infografis
Wilayahnya Berdekatan,...
Wilayahnya Berdekatan, Negara-negara Ini Belum Serang Israel di 2024
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved