Dolar Melayang Imbas The Fed, Rupiah Goyang ke Rp14.096
Kamis, 01 Agustus 2019 - 12:47 WIB
Dolar Melayang Imbas The Fed, Rupiah Goyang ke Rp14.096
A
A
A
JAKARTA - Awal Agustus masih menjadi kabar tidak menyenangkan bagi rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sesi I perdagangan Kamis (1/8/2019) goyang 75 poin atau 0,53% ke level Rp14.096 per USD.
Awal perdagangan, rupiah di indeks Bloomberg dibuka melemah 46 poin atau 0,33% ke level Rp14.067, berbanding Rabu di akhir Juli sebesar Rp14.021 per USD.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mematok kurs tengah rupiah pada Kamis ini, di level Rp14.098 per USD, terdepresiasi 72 poin atau 0,51% dibanding posisi Rp14.026 per USD pada Rabu lalu.
Pelemahan rupiah juga terdata di Yahoo Finance. Mata uang kecintaan kita ini terjatuh 73 poin atau 0,52% menjadi Rp14.085 per USD, berbanding posisi Rabu kemarin di Rp14.012 per USD.
Rupiah tidak bertenaga setelah dolar AS menguat imbas pelonggaran The Fed yang bersifat terbatas. Meski bank sentral AS, menurunkan suku bunga 25 basis poin menjadi 2,25%. Namun Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, mengesampingkan siklus pelonggaran panjang untuk penurunan suku bunga.
"Pemotongan suku bunga ini bukan awal dari serangkaian penurunan berikutnya. Tapi saya tidak mengatakan ini juga hanya satu pemotongan suku bunga," ujar Powell seperti dilansir dari Reuters.
Kepala Strategi Mata Uang di Mizuho Securities Tokyo, Masafumi Yamamoto, mengatakan pernyataan Powell tidak bersifat dovish, hanya mengkonfirmasikan adanya pemotongan bersifat kecil. Sehingga memberi ruang positif bagi dolar untuk jangka panjang.
Dolar AS juga diuntungkan oleh ketidakpastian Brexit dan masih berlarutnya perundingan dagang AS dengan China. Selain itu, keuntungan dolar juga didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun.
Alhasil, indeks USD terhadap enam mata uang utama naik 0,3% ke level tertinggi dua tahun yaitu di 98,932. Euro jatuh menjadi USD1,1034, level terendah sejak 16 Mei 2017. Yen melemah ke 109,00 dan yuan China turun 0,26% ke 6,89. Level terendah selama 1 1/2 bulan.
Awal perdagangan, rupiah di indeks Bloomberg dibuka melemah 46 poin atau 0,33% ke level Rp14.067, berbanding Rabu di akhir Juli sebesar Rp14.021 per USD.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mematok kurs tengah rupiah pada Kamis ini, di level Rp14.098 per USD, terdepresiasi 72 poin atau 0,51% dibanding posisi Rp14.026 per USD pada Rabu lalu.
Pelemahan rupiah juga terdata di Yahoo Finance. Mata uang kecintaan kita ini terjatuh 73 poin atau 0,52% menjadi Rp14.085 per USD, berbanding posisi Rabu kemarin di Rp14.012 per USD.
Rupiah tidak bertenaga setelah dolar AS menguat imbas pelonggaran The Fed yang bersifat terbatas. Meski bank sentral AS, menurunkan suku bunga 25 basis poin menjadi 2,25%. Namun Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, mengesampingkan siklus pelonggaran panjang untuk penurunan suku bunga.
"Pemotongan suku bunga ini bukan awal dari serangkaian penurunan berikutnya. Tapi saya tidak mengatakan ini juga hanya satu pemotongan suku bunga," ujar Powell seperti dilansir dari Reuters.
Kepala Strategi Mata Uang di Mizuho Securities Tokyo, Masafumi Yamamoto, mengatakan pernyataan Powell tidak bersifat dovish, hanya mengkonfirmasikan adanya pemotongan bersifat kecil. Sehingga memberi ruang positif bagi dolar untuk jangka panjang.
Dolar AS juga diuntungkan oleh ketidakpastian Brexit dan masih berlarutnya perundingan dagang AS dengan China. Selain itu, keuntungan dolar juga didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun.
Alhasil, indeks USD terhadap enam mata uang utama naik 0,3% ke level tertinggi dua tahun yaitu di 98,932. Euro jatuh menjadi USD1,1034, level terendah sejak 16 Mei 2017. Yen melemah ke 109,00 dan yuan China turun 0,26% ke 6,89. Level terendah selama 1 1/2 bulan.
(ven)
Lihat Juga :