Cermati Ketidakpastian Global, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga

Selasa, 20 Agustus 2019 - 18:17 WIB
Cermati Ketidakpastian...
Cermati Ketidakpastian Global, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga kebijakan BI di level 5,75% setelah memangkas sebesar 25bps pada bulan Juli lalu.

Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat perang dagang AS-China telah mengurangi sentimen risiko dan menekan Rupiah dalam beberapa waktu terakhir ini.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, meskipun BI diperkirakan akan menunda untuk kembali memangkas suku bunga kebijakan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini, BI dapat mengoptimalkan instrumen kebijakan lainnya, seperti kebijakan makroprudensial, kebijakan operasi pasar terbuka, sembari menunggu waktu yang tepat untuk menurunkan tingkat suku bunga kebijakan.

"Lebih lanjut, ruang pelonggaran kebijakan moneter diperkirakan terbuka dalam jangka pendek," ujar Josua di Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Hal ini juga mempertimbangkan ekspektasi penurunan defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) pada sepanjang tahun 2019 serta ekspektasi terkendalinya inflasi yang dapat mendukung stabilitas rupiah.

Senada, Chief Economist BNI Ryan Kiryanto menuturkan, BI masih akan mempertahankan BI rate di level 5,75%.

Meskipun ruang penurunan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) masih terbuka karena didasari oleh realisasi dan ekspektasi inflasi, faktor eksternal yang masih kuat membuat pilihan BI menurunkan BI rate di RDG bulan ini menjadi berkurang.

"Dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi global dan domestik yang masih diliputi oleh ketidakpastian yang kembali meningkat utamanya terkait dengan perang dagang, brexit dan risiko geopolitik, sebaiknya BI menahan dulu BI rate di level 5,75%," bebernya.

Dia menuturkan, isu likuiditas masih membayangi kendati rasio Giro Wajib Minimum (GWM), deposit rate dan lending rate sudah turun. Namun, dengan komitmen pemerintah untuk segera membelanjakan anggaran di kementerian/lembaga, diharapkan bisa melonggarkan kondisi likuiditas perbankan.

Bank Indonesia pun telah menekankan bahwa ada ruang bagi kebijakan moneter lebih akomodatif untuk mendukung pertumbuhan setelah pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan lalu.

Meski begitu, menurut Economist Bank DBS Indonesia Masyita Crystallin, hal tersebut tidak akan memberikan dampak secara langsung terhadap pertumbuhan tahun ini karena keterlambatan transmisi kebijakan moneter.

Pasalnya, likuiditas domestik yang lebih ketat, dan penetapan kembali suku bunga (repricing), dan jeda selama enam bulan antara penetapan kembali suku bunga pinjaman dan deposito, dapat membatasi efektivitas saluran suku bunga terhadap kredit sehingga mempengaruhi pertumbuhan.

Apalagi defisit transaksi berjalan (CAD) pada kuartal II/2019 memburuk hingga mencapai 3% dari PDB, dibandingkan dengan 2,6% dari PDB pada kuartal I/2019, karena repatriasi dividen musiman, pembayaran pinjaman luar negeri dan penurunan ekspor.

Dengan pelebaran CAD dan ketegangan perang mata uang yang tengah berlangsung, BI akan tetap berhati-hati dalam melakukan penurunan suku bunga lebih lanjut.

"Kami berharap bahwa besarnya pemotongan suku bunga akan hampir sama sebagaimana kebijakan Bank Sentral AS sehingga dapat mempertahankan perbedaan tingkat suku bunga," ujar Masyita.

Sekretaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Muhammad Yusron menambahkan, ruang penurunan lanjutan untuk BI7DRR dan kebijakan moneter yang akomodatif cukup terbuka sejalan dengan rendahnya proyeksi inflasi dan perlunya stimulus tambahan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, langkah lanjutan tersebut akan dipengaruhi juga oleh langkah lanjutan the Fed dan central bank negara lain dalam melakukan pelonggaran serta risiko volatilitas di pasar keuangan serta risiko kinerja neraca transaksi berjalan.

"Sejalan dengan penurunan BI7DRR dan penurunan GWM di periode sebelumnya, arah suku bunga antar bank (JIBOR) berpotensi untuk turun merespon kondisi likuiditas antar bank yang relatif membaik," ungkapnya.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Peluang Tipis...
Membaca Peluang Tipis Penurunan Suku Bunga Acuan BI Jelang Tutup Tahun 2025
Breaking News! BI Pangkas...
Breaking News! BI Pangkas Suku Bunga Jadi 6%
Ekonom: BI Berpeluang...
Ekonom: BI Berpeluang Lanjutkan Pemangkasan BI Rate hingga 5,50% Akhir 2024
BI Kembali Tahan Suku...
BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan November di Level 4,75%
BI Kembali Pertahankan...
BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan Maret 2026 di Level 4,75 Persen
Tok! BI Turunkan Suku...
Tok! BI Turunkan Suku Bunga Acuan ke Level 5,75 Persen
Berita Terkini
Dipakai Bayar Utang...
Dipakai Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Mei 2026 Ambles ke USD144,9 Miliar
20 menit yang lalu
Harga Emas Dibuka Naik...
Harga Emas Dibuka Naik Rp5 Ribu ke Rp2.743.000 per Gram, Intip Rinciannya
1 jam yang lalu
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
1 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Makin Terkapar di Posisi 5.486, Ada 515 Saham Melemah
2 jam yang lalu
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
3 jam yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
3 jam yang lalu
Infografis
4 Perempuan yang Mengguncang...
4 Perempuan yang Mengguncang Politik Global Sepanjang 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved