Digitalisasi SPBU Tidak Efektif, Penyelewengan Solar Tetap Marak

Kamis, 22 Agustus 2019 - 14:47 WIB
Digitalisasi SPBU Tidak...
Digitalisasi SPBU Tidak Efektif, Penyelewengan Solar Tetap Marak
A A A
JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak (BPH Migas) mensinyalir lambatnya digitalisasi nozzle di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memicu terjadinya penyelewengan BBM bersubsidi jenis solar di sejumlah daerah.

Alhasil, banyak pengusaha SPBU sengaja menjual BBM bersubsidi terutama jenis solar kepada industri tambang dan perkebunan sehingga terjadi over kuota.

Berdasarkan hasil verifikasi BPH Migas, realisasi volume BBM bersubsidi jenis solar sepanjang tahun ini berpotensi melebihi kuota sebesar 1,4 juta kiloliter (kl) atau 9,6% dari kuota yang telah ditetapkan APBN 2019 sebesar 14,5 juta kl. Adapun jumlah kuota tersebut lebih kecil dibandingkan jumlah kuota BBM bersubsidi tahun lalu sebesar 15,62 juta kl.

"Selain lambat, digitalisasi nozzle SPBU juga tidak efektif karena tidak dilengkapi dengan identifikasi konsumen khususnya nomor kendaraan dan volume pembelian. Untuk itu, kami meminta kepada Menteri BUMN Rini Soemarno agar Pertamina dapat mengimplementasikan sistem identifikasi konsumen dan volume pembelian agar pengawasan dapat berjalan secara efektif," ujar Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa, di Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Menurutnya, digitalisasi SPBU tanpa identifikasi nomor kendaraan dan volume pembelian tetap akan memicu spekulan BBM bersubsidi. Sebab itu, digitalisasi nozzle SPBU perlu dilengkapi dengan instrumen tersebut.

Berdasarkan laporan BPH Migas, progres digitalisasi nozzle SPBU Pertamina baru terealisasi sebanyak 1.327 SPBU dari target yang telah ditetapkan hingga Juni 2019 sebanyak 5.518 SPBU.

"Progresnya memang terlambat, karena sampai dengan Juni 2019 tidak sesuai target. Sisanya akan diselesaikan sampai Desember 2019," kata dia.

Meski begitu, pihaknya memaklumi sulitnya Pertamina melaksanakan program digitalisasi nozzle SPBU. Selain umur SPBU terbilang sudah beusia tua juga daerah yang sulit dijangkau.

"Kendalanya memang sangat beragam, selain umur SPBU sudah tua, tangki timbun dan nozzle juga banyak yang sudah kuno," ungkapnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
SPBU Maupun Penyalur...
SPBU Maupun Penyalur Tidak Bisa ‘Nakal’
Tak Kendor oleh Pandemi,...
Tak Kendor oleh Pandemi, Digitalisasi SPBU Pertamina Diapresiasi
BPH Migas dan Pertamina...
BPH Migas dan Pertamina Resmikan 44 Lokasi BBM 1 Harga
Digitalisasi SPBU, Pengisian...
Digitalisasi SPBU, Pengisian BBM Lebih Akurat
Awas! Selewengkan BBM,...
Awas! Selewengkan BBM, SPBU Nakal Bisa Ketahuan Lho..!
Pertamina Pasang ATG...
Pertamina Pasang ATG di Tangki SPBU, Stok BBM Kini Terpantau Otomatis
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
5 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
6 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
6 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
7 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
7 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
7 jam yang lalu
Infografis
Profil Dadan Hindayana,...
Profil Dadan Hindayana, Kepala BGN yang Disorot Karena Marak Kasus Keracunan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved