Transportasi Publik Berbasis Listrik di Soekarno-Hatta Terus Dikembangkan
Jum'at, 30 Agustus 2019 - 15:11 WIB
Transportasi Publik Berbasis Listrik di Soekarno-Hatta Terus Dikembangkan
A
A
A
JAKARTA - PT Angkasa Pura II (Persero) terus mendorong optimalisasi penggunaan transportasi publik sebagai sarana utama pergerakan masyarakat dari dan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sejalan dengan itu, Angkasa Pura II juga mendorong transportasi publik ke level berikutnya yakni dengan penggunaan kendaraan bermotor listrik atau Electric Vehicle (EV).
Presiden Direktur AP II Muhammad Awaluddin mengatakan, porsi penggunaan transportasi publik dari dan ke Soekarno-Hatta masih bisa ditingkatkan. "Jumlah penumpang pesawat di Soekarno-Hatta setiap hari rata-rata 200.000 orang dan pekerja sekitar 50.000 orang. Dari jumlah itu, yang memanfaatkan transportasi publik baru 40% dan sisanya 60% masih menggunakan kendaraan pribadi," ujar Awalludin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/8/2019).
Angkasa Pura II sebagai penyedia layanan di bandara, tegas dia, ingin bekerja sama dengan para operator transportasi publik agar semakin banyak yang memanfaatkan angkutan massal untuk menuju ke Soekarno-Hatta atau sebaliknya.
Saat ini, imbuh dia, jumlah transportasi publik sebetulnya sudah memadai. Terdapat tujuh operator taksi reguler yang mengoperasikan sekitar 5.000 unit, dan dua operator taksi eksekutif dengan 860 unit armada. Sementara untuk angkutan bus terdapat tujuh perusahaan otobus dengan total armada 423 unit dan enam perusahaan travel minibus dengan 93 unit armada.
"Apabila ada operator transportasi publik yang ingin membuka layanan baru di Soekarno-Hatta kami akan sangat menerima, seperti misalnya Transjakarta yang dalam waktu dekat akan membuka layanan dari Pantai Indah Kapuk ke Soekarno-Hatta," ujar Awaluddin.
Angkasa Pura II juga mendukung pengembangan transportasi publik tersebut ke arah penggunaan kendaraan bermotor listrik guna mewujudkan konsep eco airport.
Muhammad Awaluddin mengatakan Angkasa Pura II tengah mengembangkan inovasi dengan memperhatikan tiga hal yaitu sumber daya manusia (SDM), proses bisnis, dan pemanfaatan teknologi dalam memajukan transportasi publik di Soekarno-Hatta.
"Dari sisi SDM, Operator bandara tidak memiliki kompetensi terkait dengan kendaraan listrik, karena itu membutuhkan kerja sama dengan pihak lain untuk melakukan pengembangan dan penelitian," ujarnya.
Pihaknya juga membutuhkan bisnis proses yang baru, misalnya untuk menentukan bagaimana seharusnya taksi konvensional dan taksi listrik beroperasi di bandara. Kemudian, konsep pengisian daya bagi taksi listrik, di mana letak saluran pengisian listrik umum, semuanya membutuhkan sinergi dengan pihak yang berkompeten.
Adapun saat ini di Soekarno-Hatta juga telah beroperasi angkutan massal berbasis listrik yakni kereta bandara dan skytrain, serta mobil golf di dalam terminal. Taksi Blue Bird juga sudah mengoperasikan kendaraan listrik Tesla dan BYD khusus untuk layanan di Soekarno-Hatta.
Setelah pemanfaatan kendaraan listrik optimal di Soekarno-Hatta, lanjut dia, maka selanjutnya akan dikembangkan kendaraan tanpa awak atau autonomous vehicle untuk operasional di dalam bandara.
Adapun Skytrain yang menghubungkan Terminal 1, 2 dan 3 serta stasiun kereta di Soekarno-Hatta memang sudah disiapkan untuk bisa beroperasi mandiri sebagai autonomous vehicle.
Presiden Direktur AP II Muhammad Awaluddin mengatakan, porsi penggunaan transportasi publik dari dan ke Soekarno-Hatta masih bisa ditingkatkan. "Jumlah penumpang pesawat di Soekarno-Hatta setiap hari rata-rata 200.000 orang dan pekerja sekitar 50.000 orang. Dari jumlah itu, yang memanfaatkan transportasi publik baru 40% dan sisanya 60% masih menggunakan kendaraan pribadi," ujar Awalludin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/8/2019).
Angkasa Pura II sebagai penyedia layanan di bandara, tegas dia, ingin bekerja sama dengan para operator transportasi publik agar semakin banyak yang memanfaatkan angkutan massal untuk menuju ke Soekarno-Hatta atau sebaliknya.
Saat ini, imbuh dia, jumlah transportasi publik sebetulnya sudah memadai. Terdapat tujuh operator taksi reguler yang mengoperasikan sekitar 5.000 unit, dan dua operator taksi eksekutif dengan 860 unit armada. Sementara untuk angkutan bus terdapat tujuh perusahaan otobus dengan total armada 423 unit dan enam perusahaan travel minibus dengan 93 unit armada.
"Apabila ada operator transportasi publik yang ingin membuka layanan baru di Soekarno-Hatta kami akan sangat menerima, seperti misalnya Transjakarta yang dalam waktu dekat akan membuka layanan dari Pantai Indah Kapuk ke Soekarno-Hatta," ujar Awaluddin.
Angkasa Pura II juga mendukung pengembangan transportasi publik tersebut ke arah penggunaan kendaraan bermotor listrik guna mewujudkan konsep eco airport.
Muhammad Awaluddin mengatakan Angkasa Pura II tengah mengembangkan inovasi dengan memperhatikan tiga hal yaitu sumber daya manusia (SDM), proses bisnis, dan pemanfaatan teknologi dalam memajukan transportasi publik di Soekarno-Hatta.
"Dari sisi SDM, Operator bandara tidak memiliki kompetensi terkait dengan kendaraan listrik, karena itu membutuhkan kerja sama dengan pihak lain untuk melakukan pengembangan dan penelitian," ujarnya.
Pihaknya juga membutuhkan bisnis proses yang baru, misalnya untuk menentukan bagaimana seharusnya taksi konvensional dan taksi listrik beroperasi di bandara. Kemudian, konsep pengisian daya bagi taksi listrik, di mana letak saluran pengisian listrik umum, semuanya membutuhkan sinergi dengan pihak yang berkompeten.
Adapun saat ini di Soekarno-Hatta juga telah beroperasi angkutan massal berbasis listrik yakni kereta bandara dan skytrain, serta mobil golf di dalam terminal. Taksi Blue Bird juga sudah mengoperasikan kendaraan listrik Tesla dan BYD khusus untuk layanan di Soekarno-Hatta.
Setelah pemanfaatan kendaraan listrik optimal di Soekarno-Hatta, lanjut dia, maka selanjutnya akan dikembangkan kendaraan tanpa awak atau autonomous vehicle untuk operasional di dalam bandara.
Adapun Skytrain yang menghubungkan Terminal 1, 2 dan 3 serta stasiun kereta di Soekarno-Hatta memang sudah disiapkan untuk bisa beroperasi mandiri sebagai autonomous vehicle.
(fjo)
Lihat Juga :