Sentimen Positif Perdagangan Diprediksi Bakal Bikin Rupiah Menguat
Senin, 28 Oktober 2019 - 09:25 WIB
Sentimen Positif Perdagangan Diprediksi Bakal Bikin Rupiah Menguat
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan, Senin (28/10/2010) diperkirakan bakal menguat setelah pekan sebelumnya melaju positif. Sentimen positif dari perdagangan global, dimana Amerika Serikat dan China yang diklaim segera mencapai kesepakatan bakal menopang pasar mata uang.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, hasil kesepakatan dagang memberikan sentimen posotif bagi mata uang garuda. "Rupiah berpotensi menguat dengan sentimen positif dari kelanjutan pembahasan kesepakatan dagang fase 1 AS-Tiongkok dimana keduanya sudah mengkonfirmasi akan mengusahakan perjanjian ditandatangani di awal November di acara KTT APEC Chile," ujar Ariston di Jakarta, Senin (28/10/2019).
Selain itu, isu beralih ke potensi pemangkasan suku bunga The Fed alias Bank Sentral AS dimana pemangkasan suku bunga ini berpotensi melemahkan nilai tukar dollar AS. "Dari dalam negeri juga pemangkasan suku bunga acuan BI memberikan sentimen positif ke rupiah karena pemangkasan ini bisa membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Potensi rupiah hari ini bergerak antara Rp13.970-Rp14.050 per USD," jelasnya.
Sebagai informasi sebelumnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis point menjadi 5,00% dari sebelumnya 5,25%. Selain itu BI juga menurunkan suku bunga deposit facility di angka 4,25%dan lending facility di 5,75.
Keputusan bank sentral menurunkan suku bunga dikarenakan sejalan dengan inflasi yang rendah. Kebijakan tersebut konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran, tetap menariknya imbal hasil investasi aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, hasil kesepakatan dagang memberikan sentimen posotif bagi mata uang garuda. "Rupiah berpotensi menguat dengan sentimen positif dari kelanjutan pembahasan kesepakatan dagang fase 1 AS-Tiongkok dimana keduanya sudah mengkonfirmasi akan mengusahakan perjanjian ditandatangani di awal November di acara KTT APEC Chile," ujar Ariston di Jakarta, Senin (28/10/2019).
Selain itu, isu beralih ke potensi pemangkasan suku bunga The Fed alias Bank Sentral AS dimana pemangkasan suku bunga ini berpotensi melemahkan nilai tukar dollar AS. "Dari dalam negeri juga pemangkasan suku bunga acuan BI memberikan sentimen positif ke rupiah karena pemangkasan ini bisa membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Potensi rupiah hari ini bergerak antara Rp13.970-Rp14.050 per USD," jelasnya.
Sebagai informasi sebelumnya Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis point menjadi 5,00% dari sebelumnya 5,25%. Selain itu BI juga menurunkan suku bunga deposit facility di angka 4,25%dan lending facility di 5,75.
Keputusan bank sentral menurunkan suku bunga dikarenakan sejalan dengan inflasi yang rendah. Kebijakan tersebut konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran, tetap menariknya imbal hasil investasi aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal.
(akr)