China dan India Lesu, ADB Ramal Ekonomi Asia Hanya Tumbuh 5,2%

Rabu, 11 Desember 2019 - 10:31 WIB
China dan India Lesu,...
China dan India Lesu, ADB Ramal Ekonomi Asia Hanya Tumbuh 5,2%
A A A
JAKARTA - Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang sedang berkembang untuk tahun ini dan tahun depan seiring merosotnya pertumbuhan di China dan India karena dibebani sejumlah faktor eksternal dan domestik.

Dalam laporan tambahan untuk Asian Development Outlook 2019 Update yang dirilis pada bulan September, ADB kini memperkirakan produk domestik bruto (PDB) di kawasan ini hanya akan tumbuh 5,2%, baik pada 2019 maupun 2020, turun dari prakiraan September sebesar 5,4% untuk tahun ini dan 5,5% tahun depan.

“Meskipun tingkat pertumbuhan di kawasan Asia yang sedang berkembang masih terbilang solid, ketegangan perdagangan yang terus berlangsung menyulitkan kawasan ini dan masih menjadi risiko terbesar terhadap proyeksi ekonomi dalam jangka yang lebih panjang. Investasi domestik juga melemah di banyak negara seiring menurunnya sentimen bisnis,” kata Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Laporan tambahan tersebut memprakirakan inflasi akan sebesar 2,8% pada tahun 2019 dan 3,1% pada 2020, naik dari prediksi September bahwa harga-harga akan naik 2,7% pada tahun ini dan tahun depan.

“Di sisi lain, inflasi bergerak naik akibat harga pangan yang lebih tinggi, apalagi demam babi afrika (african swine fever) telah menjadikan harga babi naik drastis," jelasnya.

Di Asia Tenggara, banyak negara yang masih mengalami penurunan ekspor dan pelemahan investasi, dan proyeksi pertumbuhan untuk Singapura dan Thailand telah diturunkan. Untuk Indonesia, ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1% pada tahun ini dan 5,2% pada 2020.

Pertumbuhan PDB diperkirakan akan melambat di Pasifik karena aktivitas di Fiji, perekonomian kedua terbesar di kawasan ini setelah Papua Nugini, tampaknya tidak sebesar yang diantisipasi sebelumnya.

Di Asia Timur, pertumbuhan di China kini diperkirakan sebesar 6,1% untuk tahun ini dan 5,8% untuk tahun depan akibat ketegangan perdagangan dan perlambatan aktivitas global, disertai pula dengan melemahnya permintaan domestik, terutama belanja rumah tangga, akibat harga daging babi yang sudah berlipat ganda dibandingkan dengan harga setahun lalu.

Namun, pertumbuhan dapat melaju kembali apabila Amerika Serikat dan China dapat mencapai persetujuan perdagangan, jelas laporan tersebut. Pada bulan September, ADB memperkirakan pertumbuhan PDB sebesar 6,2% pada tahun 2019 dan 6,0% pada 2020.

Hong Kong, China, yang memang secara teknis sudah mengalami resesi, akan mengalami tekanan berat yang kemungkinan akan terus berlanjut sampai 2020. Perekonomiannya kini diperkirakan akan berkontraksi 1,2% pada tahun ini dan tumbuh 0,3% tahun depan.

Di Asia Selatan, pertumbuhan India kini tampaknya hanya akan naik 5,1% pada tahun fiskal 2019 seiring kejatuhan sebuah perusahaan besar di bidang pembiayaan nonbank pada 2018 yang menimbulkan penghindaran risiko di sektor keuangan dan kredit yang semakin ketat. Selain itu, konsumsi juga terdampak oleh lambatnya pertumbuhan lapangan kerja dan buruknya panen yang sangat memberatkan masyarakat perdesaan.

Pertumbuhan semestinya akan naik ke 6,5% pada tahun fiskal 2020 jika ada kebijakan yang mendukung. Pada bulan September, ADB memperkirakan pertumbuhan PDB India sebesar 6,5% pada tahun 2019 dan 7,2% pada 2020.

Asia Tengah adalah satu-satunya subkawasan yang prospeknya tampak lebih cerah sekarang daripada di bulan September, terutama berkat peningkatan pengeluaran pemerintah di Kazakhstan, perekonomian terbesar di kawasan ini.

Asia Tengah kini diperkirakan akan tumbuh 4,6% pada tahun 2019, naik dari prediksi sebelum yang tumbuh sebesar 4,4%. Perkiraan pertumbuhan untuk 2020 adalah sebesar 4,5%. Perekonomian Kazakhstan kini diperkirakan akan meningkat 4,1% pada tahun ini dan tumbuh 3,8% tahun depan.

ADB berkomitmen mencapai Asia dan Pasifik yang makmur, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, serta terus melanjutkan upayanya memberantas kemiskinan ekstrem. Pada 2018, ADB memberikan komitmen pinjaman dan hibah baru senilai USD1,6 miliar. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 68 anggota—49 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Bangkit...
Ekonomi China Bangkit Diluar Prediksi, Tumbuh 4,9% Kuartal III-2023
Salip AS, Ekonomi China...
Salip AS, Ekonomi China Bakal Jadi Nomor 1 Dunia di 2030
Pakistan Masuk Daftar...
Pakistan Masuk Daftar 40 Besar Ekonomi Dunia, PDB Tembus Rp6.700 Triliun
Jelang Pengumuman Pertumbuhan...
Jelang Pengumuman Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025, Ekonom Ramal di Bawah 5%
Pernah Sejajar, Ekonomi...
Pernah Sejajar, Ekonomi Indonesia Kini di Bawah Malaysia
Jajak Pendapat Reuters:...
Jajak Pendapat Reuters: Ekonomi RI Kuartal II Tumbuh di Atas 6%
Berita Terkini
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
6 jam yang lalu
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
7 jam yang lalu
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
7 jam yang lalu
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
7 jam yang lalu
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
7 jam yang lalu
Antam Tebar Dividen...
Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, 70% dari Laba Bersih di 2025
7 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved