Menahan Ekspansi untuk Mengerem Laju Kredit Bermasalah
Jum'at, 10 Januari 2020 - 11:32 WIB
Menahan Ekspansi untuk Mengerem Laju Kredit Bermasalah
A
A
A
Kondisi perekonomian global yang tidak bersahabat dan berimbas pada pertumbuhanekonomi Indonesia membuat industri perbankan tahun ini menahan ekspansi kreditnya. Hal ini demi menghindari melonjaknya rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).
Tahun ini tantangan besar perbankan Indonesia ada dua, yaitu sikap pelaku usaha yang terkesan belum akan mau ekspansi sehingga menghambat pertumbuhan kredit yang ironisnya itu terjadi ketika outlook perekonomian global dan domestik cenderung membaik. Kedua, posisi loan atrisk (LaR) di perbankan nasional yang cenderung membesar (kalau tidak salah diatas 10%) yang mengindikasikan rasio NPL gross masih tinggi sekitar 2,8%. Hal tersebut lantaran terganggunya pemenuhan kewajiban debitor disebabkan stagnasi perekonomian domestik. SVP Chief Economist BNI Ryan Kiryanto mengatakan, posisi kredit yang direstrukturisasi untuk semua golongan atau kolektibilitas kredit membesar karena sebagian debitor terkendala repayment capacity-nya.
“Ini membuat perbankanmerestrukturisasi semua kredit yang berpotensi downgrade kolektibilitasnya supaya posisi kredit tetap lancar atau performing,” ujar Ryan. Jadi kondisi likuiditas tidak lagi menjadi isu penting karena BI sudah sukses melonggarkan likuiditas melalui jalur kebijakan makroprudensial seperti menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM). Maka penting bagi perbankan mencermati dinamika ekonomi global dan domestik supaya LaR tidak membesar sehingga netinterest margin (NIM) bisa meningkat kekisaran 5%.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menuturkan, meski peluang perbaikan ekonomi tetap terbuka tahun 2020, perbankan tetap akan berhati-hati memilah sejumlah sektor atau debitor dengan performa yang masih baik serta memiliki prospek bisnis yang potensial. Misalnya penyaluran kredit di sektor infrastruktur atau juga pariwisata dan ekonomi kreatif.
Direktur Utama Bank Bukopin Eko RGindo menyatakan bakal mendorong NPL hingga ke bawah 5% di tahun 2020. Pada tahun ini perbankan juga dipastikan bakal lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Di samping itu perseroan juga akan lebih mengarahkan penyaluran kreditnya ke segmen konsumer yang risikonya lebih terukur. “Kami target kredit single digit 4%-5%, komersial memang flat tapikonsumer kami terus tumbuh,” imbuhnya.
Dari pihak otoritas pun menyarankan agar perbankan lebih selektif menyalurkan kredit. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Erwin Rijanto meminta perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang relatif aman,misalnya ke sektor pariwisata yang kini menjadi salah satu prioritas pemerintah serta kredit infrastruktur.
Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis tahun ini beberapa sektor yang sempat memburuk di tahun 2019 lalu bakal membaik. Contohnya sektor pertambangan, perkebunan, dan industri pengolahan.
OJK meyakini rasio NPL akan menurun di tahun ini lantaran perbankan kemungkinan bakal melakukan restrukturisasi kredit lebih besar di tahun ini. Meski begitu berdasarkan rancangan bisnis bank (RBB) yang diterima regulator, industri perbankan menargetkan kredit bermasalah di level 2,2% tahun ini.
Kepala Eksekutif Perbankan OJK Heru Kristiyana berharap agar tensi ekonomi global dapat mereda sehingga mengurangi potensi kredit bermasalah perbankan tahun ini. (Kunthi Fahmar Sandy)
Tahun ini tantangan besar perbankan Indonesia ada dua, yaitu sikap pelaku usaha yang terkesan belum akan mau ekspansi sehingga menghambat pertumbuhan kredit yang ironisnya itu terjadi ketika outlook perekonomian global dan domestik cenderung membaik. Kedua, posisi loan atrisk (LaR) di perbankan nasional yang cenderung membesar (kalau tidak salah diatas 10%) yang mengindikasikan rasio NPL gross masih tinggi sekitar 2,8%. Hal tersebut lantaran terganggunya pemenuhan kewajiban debitor disebabkan stagnasi perekonomian domestik. SVP Chief Economist BNI Ryan Kiryanto mengatakan, posisi kredit yang direstrukturisasi untuk semua golongan atau kolektibilitas kredit membesar karena sebagian debitor terkendala repayment capacity-nya.
“Ini membuat perbankanmerestrukturisasi semua kredit yang berpotensi downgrade kolektibilitasnya supaya posisi kredit tetap lancar atau performing,” ujar Ryan. Jadi kondisi likuiditas tidak lagi menjadi isu penting karena BI sudah sukses melonggarkan likuiditas melalui jalur kebijakan makroprudensial seperti menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM). Maka penting bagi perbankan mencermati dinamika ekonomi global dan domestik supaya LaR tidak membesar sehingga netinterest margin (NIM) bisa meningkat kekisaran 5%.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menuturkan, meski peluang perbaikan ekonomi tetap terbuka tahun 2020, perbankan tetap akan berhati-hati memilah sejumlah sektor atau debitor dengan performa yang masih baik serta memiliki prospek bisnis yang potensial. Misalnya penyaluran kredit di sektor infrastruktur atau juga pariwisata dan ekonomi kreatif.
Direktur Utama Bank Bukopin Eko RGindo menyatakan bakal mendorong NPL hingga ke bawah 5% di tahun 2020. Pada tahun ini perbankan juga dipastikan bakal lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Di samping itu perseroan juga akan lebih mengarahkan penyaluran kreditnya ke segmen konsumer yang risikonya lebih terukur. “Kami target kredit single digit 4%-5%, komersial memang flat tapikonsumer kami terus tumbuh,” imbuhnya.
Dari pihak otoritas pun menyarankan agar perbankan lebih selektif menyalurkan kredit. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Erwin Rijanto meminta perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang relatif aman,misalnya ke sektor pariwisata yang kini menjadi salah satu prioritas pemerintah serta kredit infrastruktur.
Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis tahun ini beberapa sektor yang sempat memburuk di tahun 2019 lalu bakal membaik. Contohnya sektor pertambangan, perkebunan, dan industri pengolahan.
OJK meyakini rasio NPL akan menurun di tahun ini lantaran perbankan kemungkinan bakal melakukan restrukturisasi kredit lebih besar di tahun ini. Meski begitu berdasarkan rancangan bisnis bank (RBB) yang diterima regulator, industri perbankan menargetkan kredit bermasalah di level 2,2% tahun ini.
Kepala Eksekutif Perbankan OJK Heru Kristiyana berharap agar tensi ekonomi global dapat mereda sehingga mengurangi potensi kredit bermasalah perbankan tahun ini. (Kunthi Fahmar Sandy)
(nfl)
Lihat Juga :