Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Diperkirakan Turun Jadi 5,03%
Rabu, 05 Februari 2020 - 07:02 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Diperkirakan Turun Jadi 5,03%
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 mencapai 5,03% year on year (yoy). Angka ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,17% yoy.
Dan perkiraan 5,03% meleset dari target pemerintah sebesar 5,2% yoy. Josua mengemukakan penurunan ini karena investasi tahun 2019 masih melambat kendati konsumsi rumah tangga bergerak stabil.
Penurunan ini, dalam kalkulasi Josua, tidak lepas dari perkiraan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 yang disinyalir dalam tren pelemahan. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 akan mencapai 4,99% yoy, lebih rendah dibandingkan kuartal III 2019 sebesar 5,02%.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu ini akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2019. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia dari kuartal I-III 2019 baru mencapai 5,04%.
Pada kuartal I 2019, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,07%. Kemudian turun di kuartal II 2019 menjadi 5,05%, dan lalu kembali turun pada kuartal III 2019 menjadi 5,02%.
Meski demikian, sambung Josua, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menjadi penopangnya diperkirakan tetap solid di kisaran 5,01% yoy. Ini disokong oleh pertumbuhan penjualan ritel dalam kuartal terakhir yang cenderung meningkat juga indeks kepercayaan konsumen (IKK).
"Beberapa data yang mengukur tingkat konsumsi rumah tangga cenderung bervariasi, dimana laju pertumbuhan penjualan ritel pada periode Oktober-Desember 2019 cenderung meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya," ujar Josua saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Rabu (5/2/2020).
Sementara itu, dari sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada kuartal IV 2019 diperkirakan akan meningkat menjadi 4,99% yoy. Sementara pada kuartal sebelumnya tumbuh 4,21% yoy.
Menurut Josua, peningkatan ini disebabkan oleh pertumbuhan penjualan semen yang diperkirakan meningkat menjadi 6,06% yoy. Peningkatan ini pun berarti terjadi peningkatan investasi bangunan di sepanjang Oktober-Desember 2019.
Hanya saja, investasi non bangunan terlihat masih tertahan pertumbuhannya. Kata dia, ini disebabkan oleh impor barang modal yang diperkirakan terkoreksi cukup dalam di kuartal IV 2019 sebesar 7,9% yoy, sementara pada kuartal sebelumnya hanya terkontraksi 0,5% yoy.
Sedangkan konsumsi pemerintah pada kuartal IV 2019 akan cenderung flat. Menurutnya, realisasi penyerapan belanja kementerian dan lembaga (K/L) masih dalam tren melambat, termasuk belanja barang dan pegawai serta bantuan sosial.
Dan perkiraan 5,03% meleset dari target pemerintah sebesar 5,2% yoy. Josua mengemukakan penurunan ini karena investasi tahun 2019 masih melambat kendati konsumsi rumah tangga bergerak stabil.
Penurunan ini, dalam kalkulasi Josua, tidak lepas dari perkiraan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 yang disinyalir dalam tren pelemahan. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 akan mencapai 4,99% yoy, lebih rendah dibandingkan kuartal III 2019 sebesar 5,02%.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu ini akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2019. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia dari kuartal I-III 2019 baru mencapai 5,04%.
Pada kuartal I 2019, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,07%. Kemudian turun di kuartal II 2019 menjadi 5,05%, dan lalu kembali turun pada kuartal III 2019 menjadi 5,02%.
Meski demikian, sambung Josua, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menjadi penopangnya diperkirakan tetap solid di kisaran 5,01% yoy. Ini disokong oleh pertumbuhan penjualan ritel dalam kuartal terakhir yang cenderung meningkat juga indeks kepercayaan konsumen (IKK).
"Beberapa data yang mengukur tingkat konsumsi rumah tangga cenderung bervariasi, dimana laju pertumbuhan penjualan ritel pada periode Oktober-Desember 2019 cenderung meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya," ujar Josua saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Rabu (5/2/2020).
Sementara itu, dari sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada kuartal IV 2019 diperkirakan akan meningkat menjadi 4,99% yoy. Sementara pada kuartal sebelumnya tumbuh 4,21% yoy.
Menurut Josua, peningkatan ini disebabkan oleh pertumbuhan penjualan semen yang diperkirakan meningkat menjadi 6,06% yoy. Peningkatan ini pun berarti terjadi peningkatan investasi bangunan di sepanjang Oktober-Desember 2019.
Hanya saja, investasi non bangunan terlihat masih tertahan pertumbuhannya. Kata dia, ini disebabkan oleh impor barang modal yang diperkirakan terkoreksi cukup dalam di kuartal IV 2019 sebesar 7,9% yoy, sementara pada kuartal sebelumnya hanya terkontraksi 0,5% yoy.
Sedangkan konsumsi pemerintah pada kuartal IV 2019 akan cenderung flat. Menurutnya, realisasi penyerapan belanja kementerian dan lembaga (K/L) masih dalam tren melambat, termasuk belanja barang dan pegawai serta bantuan sosial.
(ven)
Lihat Juga :