alexametrics

Grab Disuntik Investasi Rp11,84 Triliun

loading...
A+ A-
JAKARTA - Aplikator Grab menerima investasi sebesar USD856 juta (atau sekitar Rp11,84 triliun) dari dua investor Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group Inc dan TIS Inc yang merupakan bagian anggota TIS INTEC Corp. Melalui kucuran dana oleh MUFG, Grab akan membangun layanan keuangan di Asia Tenggara untuk meningkatkan inklusi keuangan di wilayah tersebut.

Kedua perusahaan bersama-sama membangun produk dan layanan keuangan inovatif, berdasarkan pada insight konsumen untuk lebih melayani kebutuhan pengguna Grab, mitra-pengemudi, dan mitra-merchant-nya. Sementara itu dalam kemitraan strategis dengan TIS, kedua perusahaan akan mengembangkan infrastruktur pembayaran digital di Indonesia dan Jepang untuk mempercepat adopsi pembayaran tanpa uang tunai, seperti GrabPay di Asia Tenggara.

Kedua perusahaan juga akan berkolaborasi dalam mengembangkan teknologi pembayaran baru. "Pembayaran digital sekarang mulai berkembang di Asia Tenggara karena mereka dapat melayani yang memiliki akses ke komunikasi seluler tetapi belum terlayani oleh perbankan," ujar Presiden Grab Ming Maa dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (28/2/2020).



Kucuran investasi yang didapatkan Grab bersamaan dengan munculnya desas-desus tentang rencana merger Grab dan Gojek. Menurut laporan theinformation.com awal bulan ini, tim manajemen kedua perusahaan telah melakukan pembicaraan serius tentang potensi merger dalam beberapa bulan terakhir.

Analis mengatakan penggalangan dana tersebut memberi tekanan pada Gojek yang masih berkutat dengan ekspansi internasional sementara bisnisnya di Indonesia menghadapi ancaman besar dari Grab. CEO Jetspree dan mantan Managing Director Zalora, Easy Taxi, Alex Le menuturkan bahwa penggalangan dana Grab memberi tekanan besar pada Gojek karena Gojek harus mengumpulkan lebih banyak uang untuk bersaing yang sulit dilakukan dalam lingkungan makro saat ini.

"Penggalangan dana terbaru Grab yang besar juga memaksa Gojek untuk mempertahankan ‘rumah’ mereka di mana Grab telah melakukan invasi dalam layanan pengiriman dan transportasi makanan. Jika mereka tidak segera memperkuat diri, Gojek akan terus menerima pukulan ketika Grab makin merambah pasar Gojek di Indonesia," paparnya.

Lembaga penelitian ABI Research yang berpusat di London menyatakan dalam rilisnya pada September 2019 bahwa Grab telah mempertahankan pangsa pasar transportasi online atau ride-hailing 11,4% di wilayah Asia-Pasifik dengan dominasi di pasar Indonesia dan Vietnam. Di Indonesia, Grab memimpin dengan menguasai 64 persen pangsa pasar.

Menurut ABI, kepemimpinan pasar ini adalah buah dari kesuksesan Grab dalam menyediakan super-aplikasi yang dapat menangkap volume besar permintaan publik selain transportasi, yaitu pengiriman barang dan makanan, serta layanan keuangan melalui GrabExpress, GrabFood, GrabFresh, dan GrabFinance. Berdasarkan data ABI Research, Gojek menguasai 35,3 persen pasar Indonesia pada 2019.

Analis Utama Smart Mobility James Hodgson di ABI Research mengatakan, operasi ride-hailing semakin tertekan oleh langkah-langkah untuk meningkatkan insentif pengemudi dan subsidi tarif untuk menemukan pelanggan baru dan memperluas pangsa pasar. "Oleh karena itu, pengembangan untuk menjadi 'supermarket' dari layanan mobilitas pintar yang dilakukan oleh Grab adalah contoh inovasi yang berhasil," kata dia.

Grab juga menunjukkan komitmen untuk pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih luas, termasuk dalam membangun ekosistem kendaraan listrik dan pembangunan ibu kota baru. Komitmen tersebut disampaikan CEO SoftBank Masayoshi Son dan Pendiri dan CEO Grab, Anthony Tan dalam beberapa kali pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top