Bekerja di Rumah Bukan Halangan untuk Tetap Produktif

Sabtu, 21 Maret 2020 - 06:30 WIB
Bekerja di Rumah Bukan Halangan untuk Tetap Produktif
Bekerja di Rumah Bukan Halangan untuk Tetap Produktif
A A A
JAKARTA - Hingga saat ini pemerintah masih konsisten mengajak masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah sebagai langkah memutus penularan mata rantai virus corona atau Covid-19.

Work from home (WFH) dan menjaga jarak sosial (social distancing) satu di antara langkah yang dinilai efektif untuk mengurangi jumlah penyebaran corona yang terus meningkat setiap harinya. Banyak perusahaan ‎telah melakukan langkah WFH sebagai antisipasi penyebaran virus Covid-19 . Seperti Unilever, Coca-cola Indonesia, Danone Indonesia, PWC Indonesia, BMW Indonesia dan perusahaan-perusahaan lainnya.

Kebijakan WFH sesuai dengan Surat Edaran Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta Nomor 14/SE/2020 tentang Imbauan Bekerja di Rumah. Hal ini sebagai tindak lanjut dari Instruksi Gubernur Nomor 16 Tahun 2020 mengenai peningkatan kewaspadaan terhadap risiko penularan infeksi Covid-19.

Social distancing dan peraturan pemerintah untuk bekerja dan belajar dari rumah tidak sekadar sebagai jalan untuk memutus penyebaran Covid-19. Di balik kebijakan tersebut, tentu memiliki dampak psikologi tersendiri.

Menurut psikolog Elizabeth Santosa, social distancing tentunya memiliki pengaruh yang sangat banyak, tidak hanya pada orang dewasa, anak-anak pun akan mengalaminya. Contohnya saat diberlakukan kegiatan belajar dari rumah dan bekerja dari rumah. Tentunya rasa kecemasan itu akan ada dan ini juga akan dirasakan oleh anak-anak.

“Orang tua tentu merasa cemas dengan keadaan yang tidak stabil seperti harus mempersiapkan segala sesuatu dari rumah, bekerja dan membantu anak belajar. Tentunya membuat emosi tidak stabil dan hal itu akan menimbulkan rasa cemas dalam diri anak,” ungkap Elizabeth di Jakarta, kemarin.

Lalu, bagaimana cara menyikapi agar tetap santai dalam melakukan kewajiban tersebut? Elizabeth mengatakan, hal pertama yang dilakukan adalah orang tua tetap memiliki mindset atau pola pikir tetap bekerja dari rumah seperti biasa. Mengimplementasikan pola pikir tersebut dalam tindakan yang menunjang seperti kegiatan sebelum berangkat kerja.

“Jadi, kalau memang bekerja di rumah, tetap mindset-nya seperti bekerja di kantor. Bangun pagi, mandi, siapkan sarapan. Pokoknya melakukan kegiatan seperti biasanya,” jelasnya. (Baca: BEI Terapkan Kebijakan Split Operation dan Work From Home)

Secara emosional setiap individu mungkin memiliki respons yang berbeda terhadap pembatasan social distancing. “Bila hal ini dilakukan secara berkepanjangan, pastinya akan ada dampaknya seperti kesepian, kebosanan, frustrasi, atau ketakutan,” tegas Elizabeth.

Namun, untuk bisa mengatasi hal tersebut, Elizabeth menyarankan mencari kegiatan yang disukai selama berada di rumah. “Kita bisa mengalihkan kegiatan lain seperti memasak, membaca buku, melukis, atau menonton serial yang mungkin selama ini dilewatkan juga bisa menghilangkan kecemasan,” jelasnya.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1965 seconds (11.210#12.26)