IHSG Masih Fluktuatif, Pelaku Pasar Harus Rasional

Sabtu, 21 Maret 2020 - 20:34 WIB
IHSG Masih Fluktuatif,...
IHSG Masih Fluktuatif, Pelaku Pasar Harus Rasional
A A A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terguncang akibat penyebaran pandemi virus corona (Covid-19). Dalam sepekan IHSG anjlok hingga 14,52%, menjadi 4.194,944 dibanding pekan sebelumnya di level 4.907,571.

Mencermati IHSG yang bergerak fluktuatif, Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, meminta pelaku pasar untuk tetap tenang jangan panik dan tetap rasional dalam mencermati IHSG.

"Lakukan akumulasi beli bagi investor yang punya jangka waktu investasi lebih dari 1 tahun," ujar Hans Kwee di Jakarta, Sabtu (21/3/2020).

Dia menerangkan bahwa akhir pekan ini, Bursa Eropa berhasil bangkit dari tekanan merespon positif kebijakan bank sentral Inggris untuk mengatasi dampak virus Covid-19. Bank sentral Inggris mengumumkan pemotongan suku bunga dan meningkatkan program pembelian obligasi.

"Sepekan berbagai stimulus di keluarkan bank sentral dan pemerintah kawasan Eropa. Sebelumnya European Central Bank mengumumkan Pandemic Emergency Purchase Programme dan akan menggunakan 750 miliar euro untuk membeli sekuritas untuk mendukung ekonomi Eropa," katanya.

Selain itu, ECB juga sudah mengeluarkan program quantitative easing senilai USD821 miliar. Pemerintah Inggris juga mengumumkan paket hampir USD400 miliar untuk membantu bisnis melalui krisis tersebut. Prancis juga meluncurkan paket USD50 miliar untuk membantu bisnis kecil dan karyawan.

Namun, langkah lockdown dan menutup perbatasan yang dilakukan beberapa negara Eropa dan yang lain, bisa membatasi aktifitas ekonomi dan sosial, ditengarai dapat memukul perekonomian kawasan. "Sehingga koreksi masih mungkin terjadi di bursa Eropa," katanya.

Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat (Wall Street) kembali turun akibat tekanan harga minyak dan meningkatnya kasus corona di AS. Menurut Johns Hopkins University, jumlah kasus corona di AS mencapai lebih dari 14.000 kasus dengan lebih dari 200 kematian.

Hal ini ditambah dengan menurunnya penjualan ritel dan data pengangguran. Departemen Tenaga Kerja mengatakan tingkat pengangguran bulan Februari, naik 70 ribu menjadi 281 ribu, dimana ini merupakan level tertinggi sejak September 2017.

Rilis data penjualan ritel AS secara tak terduga turun pada Februari, rumah tangga mengurangi pembelian berbagai produk, dan wabah virus corona diperkirakan menekan penjualan pada beberapa bulan mendatang.

Gedung Putih sedang berupaya mendapatkan persetujuan paket stimulus antara USD850 miliar hingga USD1,2 triliun. Hal ini ditambah dukungan anggota parlemen di Capitol Hill untuk memberikan bantuan kepada individu dan UKM, serta menopang maskapai penerbangan. Tetapi paket ini belum jelas kapan disahkan.

Sebelumnya, The Fed melakukan kebijakan darurat dengan memangkas suku bunga acuan menjadi 0%-0,25% dari sebelumnya 1%-1,25%, level terendah sejak 2015, dan meluncurkan program pelonggaran kuantitatif besar-besaran senilai USD700 miliar.

Tetapi berbagai stimulus ini hanya mampu menaikan pasar dalam jangka pendek. Sebagian melihatnya sebagai sinyal dampak pandemi Covid-19 cukup signifikan terhadap ekonomi dan bisnis.

Sedangkan pasar saham Indonesia berhasil ditutup positif pada perdangangan Jumat akhir pekan, merespon positifnya pasar global dan regional. Pemotongan suku bunga acuan tidak terlalu di respon pasar akibat pengaruh dari luar.

BPS menyatakan neraca perdagangan periode Februari 2020 surplus sebesar USD2,34 miliar. Surplus terjadi akibat nilai ekspor sebesar USD13,94 miliar dan nilai impor sebesar USD11,60 miliar.

Hal tersebut membuat IHSG berhasil naik membuat candle dengan shadow di bawah indikasi perlawanan atas tekanan turun.

Kendati demikian, melihat tekanan pada pasar Amerika, Hans Kwee memperkirakan IHSG berpeluang kembali tertekan dengan support di level 3.918 sampai 3.686 dan resistance di level 4.238 sampai 4.900.

"Awal pekan, peluang tekanan terjadi pada IHSG tetapi di akhir pekan, kami perkirakan IHSG dapat kembali naik (tapi secara) terbatas," analisanya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Awas Investor, Bursa...
Awas Investor, Bursa Saham Bisa Terkoreksi di Awal Tahun
Pasar Modal Mulai Dikuasai...
Pasar Modal Mulai Dikuasai Investor Lokal, Performa Lebih Kuat dari Thailand
Tertekan Aksi Jual Investor...
Tertekan Aksi Jual Investor Asing, IHSG Terkoreksi Cukup Dalam
Kondisi Bursa Saham...
Kondisi Bursa Saham Belum Stabil, Investor Disarankan Main Jangka Pendek
Kenali 3 Strategi Investasi...
Kenali 3 Strategi Investasi Saham untuk Investor Milenial
Fenomena IHSG Pasca-Lebaran:...
Fenomena IHSG Pasca-Lebaran: Penurunan Jadi Peluang untuk Rebound
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
3 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
4 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
5 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
7 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
7 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
7 jam yang lalu
Infografis
Ini Alasan Mengapa Tanaman...
Ini Alasan Mengapa Tanaman Ganja Harus Ditanam di Ketinggian
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved