Kebijakan Stimulus Dampak Corona Diingatkan Harus Akuntabel

Kamis, 09 April 2020 - 06:13 WIB
Kebijakan Stimulus Dampak...
Kebijakan Stimulus Dampak Corona Diingatkan Harus Akuntabel
A A A
JAKARTA - Dalam penanganan wabah virus Corona (Covid-19), pemerintah telah menjalankan serangkaian paket stimulus, baik untuk mengatasi dan memutus rantai penyebaran Covid-19 maupun penanganan dampak ekonomi sosial masyarakat.

Untuk itu, Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR Marwan Cik Asan mengingatkan, agar kebijakan-kebijakan itu dilaksanakan secara akuntabel. Pasalnya, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 memuat Pasal yang tidak akuntabel.

Marwan mencermati bahwa pemerintah telah menjalankan 3 paket kebijakan yakni, insentif sektor pariwisata untuk membantu aktivitas terdampak pariwisata sebesar Rp 10,3 triliun, paket stimulus II yang fokus pada menjaga daya beli dan kemudahan ekspor impor dengan nilai sebesar Rp 22,9 triliun dan paket stimulus III dengan anggaran sebesar Rp 405,1 triliun yang mencakup program kesehatan, social safety net, dukungan industri, dan dukungan dunia usaha.

“Dasar hukum yang digunakan pemerintah untuk pelaksanaan paket stimulus tersebut adalah, pertama dikeluarkannya Inpres Nomor 4 Tahun 2020 tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran, serta Pengadaan Barang dan Jasa Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Selanjutnya pemerintah menerbitkan Perppu 1/2020,” terang Marwan dalam siaran pers yang diterima SINDO Media.

“Sebagai peraturan turunan dari Perppu, Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Presiden nomor 54 tahun 2020 tentang perubahan postur dan rincian anggaran pendapatan dan belanja negara tahun anggaran 2020,” sambungnya.

Namun, politikus Partai Demokrat ini memberikan beberapa catatan terkait penerbitan Perppu 1/2020 itu. Pertama, untuk pelaksanaan program stimulus tahap III dengan pekiraan anggaran sebesar Rp 405,1 triliun, pemerintah melakukan penyesuaian APBN 2020 melalui penerbitan Perppu.

Namun, lanjut dia, Perppu itu tidak spesifik mengatur tentang APBN-P (APBN Perubahan) 2020 sebagaimana layaknya RUU APBN-P yang diajukan pemerintah setiap tahunnya ke DPR. Perpres 54/2020 tentang Perubahan postur dan Rincian Anggaran APBN 2020 yang tidak menyatakan sebagai APBN-P 2020. Sehingga, Pemerintah telah melakukan perubahan postur APBN hanya dengan Perpres bukan dengan UU APBN-P atau Perppu APBN-P, sebagaimana yang diamanahkan dalam pasal 23 ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 11 UU Keuangan Negara.

“Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa akuntabilitas pengelolaan APBN 2020 dengan perubahan posturnya tidak didasarkan pada peraturan perudang-undangan yang semestinya,” ujar Anggota Komisi XI DPR ini.

Kedua, dia melanjutkan, beberapa Pasal dalam Perppu juga berpotensi mengurangi akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, diantaranya pasal 27 ayat (1) dan (2). Ayat (1) menyatakan bahwa biaya yang telah dikeluarkan Pemerintah dan/atau lembaga anggota KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dalam rangka pelaksanaan kebijakan pendapatan negara termasuk kebijakan perpajakan, belanja negara dan keuangan daerah, pembiayaan, stabilitas sistem keuangan dan program pemulihan ekonomi nasional, merupakan bagian dari biaya ekonomi untuk penyelamatan perekonomian dari krisis dan bukan merupakan kerugian negara.

“Dengan bunyi ayat tersebut menutup kemungkinan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) melakukan pemeriksaan atas pelaksanaan anggaran atas potensi terjadinya kerugian negara. Tentu hal ini bertentangan dengan ketentuan UU Keuangan Negara pada pasal 35 ayat (1),” terang Marwan.

Selanjutnya, sambung dia, ayat (2) mengatakan Anggota KSSK, Sekretaris KSSK, anggota sekretariat KSSK, dan pejabat atau pegawai Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan dan pejabat lainnya, yang berkaitan dengan pelaksanaan Perppu ini, tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana jika dalam melaksanakan tugas didasarkan pada iktikad baik dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Artinya, KSSK yang berisi Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Otoritas Jasa Keuangan, dan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan, tidak bisa dituntut secara perdata maupun pidana. Keempatnya menjadi kebal hukum ketika melakukan stimulus tersebut,” sesalnya.

“Dengan pengaturan tersebut pemerintah tidak memperhatikan aspek akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang seharusnya dikelola secara transparan, akuntabel dan bertanggung jawab,” pungkas Marwan.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
DPR: Waspadai Penumpang...
DPR: Waspadai Penumpang Gelap dalam Paket Stimulus Dampak Corona
Biden Peringatkan Potensi...
Biden Peringatkan Potensi Korupsi Stimulus Virus Corona
Stimulus Pajak untuk...
Stimulus Pajak untuk COVID-19
Tenaga Medis Jabar Bakal...
Tenaga Medis Jabar Bakal Terima Insentif hingga Rp600.000 per Hari
Mutasi Baru Virus Corona
Mutasi Baru Virus Corona
Rentan Miskin, DPR Desak...
Rentan Miskin, DPR Desak Pemerintah Beri Insentif Pelanggan 1.300 VA
Berita Terkini
IHSG Rontok Lagi Hari...
IHSG Rontok Lagi Hari Ini, Tak Lama Pembukaan Anjlok 1,25% ke 5.866
3 menit yang lalu
IHSG Nyungsep, Purbaya...
IHSG Nyungsep, Purbaya Tuding Rumor Downgrade S&P Jadi Biang Kerok
21 menit yang lalu
Didimax Rayakan Ulang...
Didimax Rayakan Ulang Tahun ke-27, Kepala Bappebti Berikan Apresiasi
25 menit yang lalu
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
51 menit yang lalu
Transisi Energi Bersih...
Transisi Energi Bersih Didoorong Jadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi
1 jam yang lalu
Kerugian Akibat Kejahatan...
Kerugian Akibat Kejahatan Siber Capai Rp9,1 Triliun, Indodax Ajak Verifikasi Kontak Resmi
1 jam yang lalu
Infografis
5 Manfaat Salat Tarawih...
5 Manfaat Salat Tarawih bagi Kesehatan yang Harus Diketahui
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved