Ketika bank syariah semakin sumringah
Jum'at, 14 Oktober 2011 - 15:03 WIB
Ketika bank syariah semakin sumringah
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia merupakan pasar yang potensial bagi pertumbuhan perbankan syariah.
Kalangan perbankan syariah menilai potensi keuangan syariah di Indonesia untuk terus membangun perekonomian Indonesia cukup besar karena didukung dengan regulasi, pemain, dan dukungan masyarakat.
"Sekarang, kontribusi keuangan syariah di Indonesia sudah sekira tiga persen bagi perekonomian nasional. Ke depan, asalkan kita bisa berbenah di infrastruktur dan aturan, itu kontribusinya akan semakin besar. Apalagi secara regulasinya mendukung, ditambah dengan adanya pembukaan bursa komoditas berjangka syariah kemarin," ucap Direktur Bank Syariah Mandiri Yuslam Jumat (14/10/2011).
Saat ini pemain di sektor keuangan sekarang, di mana di Indonesia ada sekira 11 bank syariah, 23 unit usaha syariah dan 150 Badan Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).
"Kebanyakan unit usaha syariah yang sekira 23 ini kan berdirinya di tahun ini, jadi mungkin tahun ini masih fokus pada perkembangan infrastruktur. Kalau tahun depan mereka bisa fokus ke pengembangan bisnisnya, saya pikir kita punya player syariah yang lebih dari cukup," lanjutnya.
Menurut Yuslam, dalam mengembangkan industri keuangan syariah di Indonesia, juga dibutuhkan pemahaman masyarakat yang menyeluruh tentang pengertian keuangan syariah itu sendiri. "Masyarakat harus mengerti dan mendukung industri keuangan syariah," tambahnya.
Kemarin, Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Mulia Siregar menyatakan bahwa industri keuangan syariah di Indonesia menduduki posisi keempat dunia setelah Iran, Malasyia, dan Saudi Arabia.
"Hasil itu dari penelitian seorang expert dari Inggris, Humayon Bar yang pernah berkunjung ke Indonesia, termasuk tempat saya beberapa waktu lalu. Jadi, kata dia, industri keuangan syariah kita, bukan dilihat dari besarnya saja, tetapi juga melihat beberapa kriteria lain, itu nomor keempat di dunia," tutup Yuslam.
Industri keuangan syariah Indonesia menduduki peringkat keempat dunia setelah Malaysia, Iran, dan Arab Saudi. Posisi Indonesia ini, berada di atas negara-negara terkemuka dalam industri keuangan syariah seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Pakistan.
"Peringkat keempat tersebut berdasarkan hasil survei Islamic Finance Country Index dari Global Islamic Finance Report yang dikeluarkan oleh BMG Islamic, sebuah lembaga konsultan bisnis dan manajemen terkemuka yang berbasis di London," lanjutnya.
Penilaian ini, menurut Mulia diperoleh dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu dengan bobot yang bervariasi, seperti jumlah lembaga keuangan syariah, kelengkapan infrastruktur, izin pengaturan syariah, volume industri, edukasi, dan budaya.
Kalangan perbankan syariah menilai potensi keuangan syariah di Indonesia untuk terus membangun perekonomian Indonesia cukup besar karena didukung dengan regulasi, pemain, dan dukungan masyarakat.
"Sekarang, kontribusi keuangan syariah di Indonesia sudah sekira tiga persen bagi perekonomian nasional. Ke depan, asalkan kita bisa berbenah di infrastruktur dan aturan, itu kontribusinya akan semakin besar. Apalagi secara regulasinya mendukung, ditambah dengan adanya pembukaan bursa komoditas berjangka syariah kemarin," ucap Direktur Bank Syariah Mandiri Yuslam Jumat (14/10/2011).
Saat ini pemain di sektor keuangan sekarang, di mana di Indonesia ada sekira 11 bank syariah, 23 unit usaha syariah dan 150 Badan Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).
"Kebanyakan unit usaha syariah yang sekira 23 ini kan berdirinya di tahun ini, jadi mungkin tahun ini masih fokus pada perkembangan infrastruktur. Kalau tahun depan mereka bisa fokus ke pengembangan bisnisnya, saya pikir kita punya player syariah yang lebih dari cukup," lanjutnya.
Menurut Yuslam, dalam mengembangkan industri keuangan syariah di Indonesia, juga dibutuhkan pemahaman masyarakat yang menyeluruh tentang pengertian keuangan syariah itu sendiri. "Masyarakat harus mengerti dan mendukung industri keuangan syariah," tambahnya.
Kemarin, Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Mulia Siregar menyatakan bahwa industri keuangan syariah di Indonesia menduduki posisi keempat dunia setelah Iran, Malasyia, dan Saudi Arabia.
"Hasil itu dari penelitian seorang expert dari Inggris, Humayon Bar yang pernah berkunjung ke Indonesia, termasuk tempat saya beberapa waktu lalu. Jadi, kata dia, industri keuangan syariah kita, bukan dilihat dari besarnya saja, tetapi juga melihat beberapa kriteria lain, itu nomor keempat di dunia," tutup Yuslam.
Industri keuangan syariah Indonesia menduduki peringkat keempat dunia setelah Malaysia, Iran, dan Arab Saudi. Posisi Indonesia ini, berada di atas negara-negara terkemuka dalam industri keuangan syariah seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Pakistan.
"Peringkat keempat tersebut berdasarkan hasil survei Islamic Finance Country Index dari Global Islamic Finance Report yang dikeluarkan oleh BMG Islamic, sebuah lembaga konsultan bisnis dan manajemen terkemuka yang berbasis di London," lanjutnya.
Penilaian ini, menurut Mulia diperoleh dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu dengan bobot yang bervariasi, seperti jumlah lembaga keuangan syariah, kelengkapan infrastruktur, izin pengaturan syariah, volume industri, edukasi, dan budaya.
()