Bahaya, produksi susu terancam berkurang
Rabu, 19 Oktober 2011 - 15:44 WIB
Bahaya, produksi susu terancam berkurang
A
A
A
Sindonews.com - Jumlah peternak sapi perah di Jawa Barat dikhawatirkan akan terus berkurang seiring semakin tidak prospektifnya usaha pada bidang tersebut. Padahal, Jawa Barat menjadi pemasok 40 persen susu segar untuk konsumsi dalam negeri.
Sekretaris BPD Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Jabar, Robi Agustiar memperkirakan, jumlah peternak sapi perah di Jawa Barat akan terus menyusut. Itu terlihat pada penurunan volume produksi susu tahun 2011 sekira 10-15 persen dari tahun lalu. Di mana, produksi susu di tahun 2010 mencapai 475.469 kg/hari dan menurun menjadi 441.975 kg/hari di tahun 2011. Angka tersebut didasarkan rata-rata produksi susu dari awal tahun sampai bulan September 2011.
“Penurunan produksi susu akibat faktor cuaca, biasanya tidak lebih dari lima persen. Ini mengindikasikan adanya penurunan jumlah sapi dan peternak sapi perah di Jabar,” tegas Robi Agustiar di Jalan Ciliwung, Kota Bandung, Rabu (19/10/2011).
Penurunan produksi susu Jabar tercatat pada KPSBU Lembang dari 140 ton/hari menjadi 110 ton/hari, Koperasi Tandang Sari dari 35 ton/hari menjadi 30 ton/hari, dan KUD Bayonbong dari 24 ton/hari menjadi 20 ton/hari.
Populasi sapi perah di tahun 2010 mencapai 111.237 ekor dan turun menjadi 90.469 ekor di tahun 2011 dengan jumlah peternak mencapai 30 peternak. Sementara peternak sapi perah berskala kecil memilih menjual sapinya. Begitupun dengan peternak sapi berskala besar yang memilih beralih industri.
Menurut Robi, turunnya jumlah peternak sapi perah di Jabar akibat sejumlah permasalahan yang tidak kunjung diselesaikan. Yang paling mengkhawatirkan adalah tidak adanya kenaikan harga susu segar dari tingkat petani selama tiga tahun terakhir.
PPSKI mencatat, harga susu segar dari tahun 2008 di tingkat petani antara Rp2.700-3.200 per liter. Sayangnya, hanya sekira lima persen susu segar petani yang dihargai Rp3.200 per loter. Sementara sisanya dijual ke Industri Pengolahan Susu (IPS) seharga Rp2.700 per liter.
“Sementara harga konsentrat sapi perah dari tahun 2008 sampai tahun 2011 naik hampir 30 persen. Hal itu semakin membebani petani sapi perah,” jelas dia.
Untuk diketahui, tahun 2008 harga konsentrat sapi dipatok Rp1.500 per kg. Sementara saat ini harganya mencapai Rp2.200 per kg.
Dia khawatir, kondisi tersebut akan memaksa petani susu beralih profesi. Karena, saat ini saja, sebagian besar petani susu memilih bertahan lantaran tidak ada sumber pencaharian lainnya.
Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pembangunan Peternakan Indonesia (LSPPI) Rachmat Setiadi menjelaskan, pemerintah perlu memberikan insentif harga susu bagi para peternak susu. Intensif tersebut berupa subsidi harga susu sebesar Rp400 per liter.
Sehingga harga jual susu segar dari petani susu ke IPS lebih tinggi. “Itu untuk mencukupi biaya operasional dan pakan ternak yang semakin tinggi,” kata dia singkat.
Pihaknya meminta pemerintah provinsi Jabar untuk merealisasikan program susu anak sekolah. Dengan harapan, program tersebut bisa menggenjot produksi susu lokal dan menaikkan harga jual petani. “Bila program tersebut terlaksana, kami optimis susu dalam negeri bisa terserap dengan harga yang lebih baik,” imbuh dia.
Sekretaris BPD Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Jabar, Robi Agustiar memperkirakan, jumlah peternak sapi perah di Jawa Barat akan terus menyusut. Itu terlihat pada penurunan volume produksi susu tahun 2011 sekira 10-15 persen dari tahun lalu. Di mana, produksi susu di tahun 2010 mencapai 475.469 kg/hari dan menurun menjadi 441.975 kg/hari di tahun 2011. Angka tersebut didasarkan rata-rata produksi susu dari awal tahun sampai bulan September 2011.
“Penurunan produksi susu akibat faktor cuaca, biasanya tidak lebih dari lima persen. Ini mengindikasikan adanya penurunan jumlah sapi dan peternak sapi perah di Jabar,” tegas Robi Agustiar di Jalan Ciliwung, Kota Bandung, Rabu (19/10/2011).
Penurunan produksi susu Jabar tercatat pada KPSBU Lembang dari 140 ton/hari menjadi 110 ton/hari, Koperasi Tandang Sari dari 35 ton/hari menjadi 30 ton/hari, dan KUD Bayonbong dari 24 ton/hari menjadi 20 ton/hari.
Populasi sapi perah di tahun 2010 mencapai 111.237 ekor dan turun menjadi 90.469 ekor di tahun 2011 dengan jumlah peternak mencapai 30 peternak. Sementara peternak sapi perah berskala kecil memilih menjual sapinya. Begitupun dengan peternak sapi berskala besar yang memilih beralih industri.
Menurut Robi, turunnya jumlah peternak sapi perah di Jabar akibat sejumlah permasalahan yang tidak kunjung diselesaikan. Yang paling mengkhawatirkan adalah tidak adanya kenaikan harga susu segar dari tingkat petani selama tiga tahun terakhir.
PPSKI mencatat, harga susu segar dari tahun 2008 di tingkat petani antara Rp2.700-3.200 per liter. Sayangnya, hanya sekira lima persen susu segar petani yang dihargai Rp3.200 per loter. Sementara sisanya dijual ke Industri Pengolahan Susu (IPS) seharga Rp2.700 per liter.
“Sementara harga konsentrat sapi perah dari tahun 2008 sampai tahun 2011 naik hampir 30 persen. Hal itu semakin membebani petani sapi perah,” jelas dia.
Untuk diketahui, tahun 2008 harga konsentrat sapi dipatok Rp1.500 per kg. Sementara saat ini harganya mencapai Rp2.200 per kg.
Dia khawatir, kondisi tersebut akan memaksa petani susu beralih profesi. Karena, saat ini saja, sebagian besar petani susu memilih bertahan lantaran tidak ada sumber pencaharian lainnya.
Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pembangunan Peternakan Indonesia (LSPPI) Rachmat Setiadi menjelaskan, pemerintah perlu memberikan insentif harga susu bagi para peternak susu. Intensif tersebut berupa subsidi harga susu sebesar Rp400 per liter.
Sehingga harga jual susu segar dari petani susu ke IPS lebih tinggi. “Itu untuk mencukupi biaya operasional dan pakan ternak yang semakin tinggi,” kata dia singkat.
Pihaknya meminta pemerintah provinsi Jabar untuk merealisasikan program susu anak sekolah. Dengan harapan, program tersebut bisa menggenjot produksi susu lokal dan menaikkan harga jual petani. “Bila program tersebut terlaksana, kami optimis susu dalam negeri bisa terserap dengan harga yang lebih baik,” imbuh dia.
()