Industri lesu, teknisi sepatu pilih alih profesi

Jum'at, 21 Oktober 2011 - 08:52 WIB
Industri lesu, teknisi...
Industri lesu, teknisi sepatu pilih alih profesi
A A A
Sindonews.com - Para pengrajin sepatu seperti sudah bosan mengeluhkan kesulitannya yang membuat produksi dalam negeri melambat. Namun mereka tak bosan meminta pemerintah untuk lebih pro aktif menggerakkan industri sepatu di tengah situasi global yang masih krisis dan mengancam ekspor sepatu nasional.

Wakil Ketua Kadin Jabar bidang kemitraan dan UMKM Iwan Hernawan mengatakan, salah satu program yang perlu digiatkan lagi adalah memaksimakan peranan unit pelayanan teknis produk alas kaki. Unit tersebut diharapkan mampu mencetak tenaga ahli sepatu di tengah lesunya peminat pada industri sepatu.

"Yang dibutuhkan saat ini adalah kembali menggerakkan industri sepatu dengan memunculkan SDM baru pada bidang alas kaki. Dan itu perlu dukungan pemerintah," kata Iwan di Bandung, Kamis (20/10/2011).

Kalau tidak, lanjut dia, industri sepatu dalam negeri terutama Jabar akan semakin melambat. Hal itu disebabkan minimnya tenaga ahli alas kaki. Iwan melanjutkan, industri alas kaki masih banyak mengalami kekurangan tenaga kerja. Kondisi tersebut saat ini menjadi masalah besar bagi para pengusaha. Padahal, prospek industri sepatu dalam negeri saat ini diperkirakan akan tumbuh. Sayangnya, peminat pekerja pada industri tersebut sangat kurang. Mereka menganggap persaingan usaha paska diberlakukannya pedagangan bebas di sektor tersebut menjadi sangat sulit.

Imbasnya, pelaku industri sepatu lebih memilih beralih profesi. Sementara saat ini, industri sepatu mulai kembali bergairah. Sayangnya, sejumlah SDM ahli telah beralih profesi. Sementara industri sepatu memerlukan tenaga ahli untuk menggenjot produksi sesuai pesanan.

"Bila pemerintah ingin menjadikan kembali Jawa Barat sebagai sentra industri alas kaki, mereka harus bergerak. Giatkan kembali program yang sudah ada," pinta Iwan.

Optimisme membaiknya industri sepatu dalam negeri diakui oleh salah seorang perajin asal Cimahi. "Saat ini pun saya lagi kebanjiran order, selain dari Riau, dan Aceh pemesanan pun datang dari Timor Leste," jelas Soleh Yusuf, pengrajin sepatu Cimahi merk Sae Collections.

Namun demikian, industrinya cukup kesulitan memenuhi pesanan tersebut. Itu disebabkan kurangnya tenaga ahli yang bisa menjahit sepatu secara rapi. "Pengrajin memang banyak yang menerima orderan, tapi mereka kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang ahli di bidang itu," tegas dia. Bila kondisi tersebut terus terjadi, dia khawatir akan menggangu volume produksi yang mestinya dipenuhi.

Order industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki asal Jawa Barat terancam menurun di tahun 2012. Hal itu terkait krisis di Amerika dan Eropa yang merupakan negara tujuan ekspor utama TPT dan alas kaki asal Jabar.

Ketua Kadin Jabar Agung S Sutisno mengatakan, imbas krisis di AS dan Eropa baru akan terasa pada tahun 2012. Diperkirakan, negara di kawasan tersebut akan mengurangi nilai kontrak ekspor TPT dan alas kaki dari Jabar. Menurunnya daya beli dari AS dan Eropa karena kondisi ekonomi belum stabil. Dan memaksa mereka mengurangi belanja barang.

"Imbas krisis AS dan Eropa, saat ini memang belum terasa. Karena kita masih menggunakan perjanjian kontrak yang telah disepakati sebelum terjadi krisis. Kalaupun nanti ada dampaknya, mungkin tahun 2012 baru terasa imbasnya bagi industri kita," jelas Agung.

Agung memprediksi, ekspor TPT dan alas kaki ke AS dan Eropa di awal tahun 2012 akan menurun hingga sekira 20 persen. Ketika disinggung kemungkinan terjadi pembatalan kontrak di akhir tahun, Agung mengaku belum ada laporan.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Ditutup Total, Siap-siap Harga Minyak Bisa Meroket
17 menit yang lalu
Bandara Banda Neira...
Bandara Banda Neira Bakal Dibangun Ulang, Pesawat Kapasitas Besar Bisa Mendarat
1 jam yang lalu
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
3 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
5 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
5 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
6 jam yang lalu
Infografis
Krisis Militer Inggris,...
Krisis Militer Inggris, 15.000 Tentara Inggris Pilih Mundur
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved