Pembangunan 20 titik geothermal dipercepat
Selasa, 08 November 2011 - 16:27 WIB
Pembangunan 20 titik geothermal dipercepat
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah berencana mempercepat pembukaan 20 titik sumber energi panas bumi atau geotermal di beberapa wilayah di Indonesia untuk mempercepat diversifikasi energi. Langkah tersebut juga merupakan upaya pemerintah dalam rangka menjamin pasokan energi nasional di luar energi yang berasal dari minyak bumi.
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo mengatakan, selain batubara, saat ini pemerintah sedang berupaya mendorong di bukanya 20 titik sumber geotermal baru. Termasuk sumber geotermal yang ada di Jawa Barat. Komitmen tersebut sesuai dengan intruksi Menteri ESDM Jero Wacik agar mempercepat pembukaan sumber energi gas dan geotermal.
“Menteri sudah instruksikan untuk segera merealisasikan pembukaan beberapa titik geotermal di Indonesia,” jelas Widjajono Partowidagdo di sela-sela acara Seminar & Pameran Teknologi dan Bisnis Ketenagalistrikan Nasional 2011 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari, Kota Bandung, Selasa (8/11/2011).
Menurut dia, dalam beberapa hari kedepan, pihaknya akan mengadakan pertemuan dengan Kementrian Kehutanan terkait rencana tersebut. Terutama soal penggunaan lahan geotermal di beberapa wilayah. Namun demikian, Widjajono telah mendapat sinyalemen positif bahwa ke-20 sumber energi panas bumi mendapat dukungan dari Departemen Kehutanan.
“Dari 20 sumber energi geotermal tersebut, beberapa di antaranya berada di Jawa Barat. Termasuk di kawasan Tangkuban Perahu,” kata dia. Selain kawasan Tangkuban Perahu, masih ada beberapa titik lainnya di Jawa Barat yang akan di bangun sumber energi geotermal. Jawa Barat, lanjut dia, memiliki potensi energi geotermal cukup besar di banding daerah lainnya di Indonesia. Terutama di daerah pegunungan. Seperti halnya sumber geotermal Wayang Windu di Kabupaten Bandung.
Lebih lanjut Widjajono Partowidagdo mengatakan, pada dasarnya sumber energi non minyak di Indonesia diperkirakan lebih besar dari cadangan minyak nasional. Sumber energi tersebut berasal dari panas bumi dengan potensi 27,51 gigawatt (gw), gas bumi (57,6 TSCF), Batubara (13,3 miliar ton), biomass 49,81 gw, micro hidro (500 megawatt), dan lainnya.
Sayangnya, lanjut dia, potensi tersebut belum seluruhnya di optimalkan. Beberapa hambatan yang menyebabkan lambatnya eksplorasi energi akibat lambatnya proses perizinan. Selain itu, proses pembebasan lahan yang cenderung lambat membuat eksplorasi enegeri terhambat. “Rakyat lebih segan melakukan pembebasan tanah ke pemerintah. Sementara untuk ke investor, mereka justru akan menaikkan harga tanah setinggi-tingginya. Ya, kalau seperti ini susah,” pungkas dia.
Widjajono pun menyindir, pembagian keuntungan antara investor dan pemerintah menjadi penghambat lambatnya eksplorasi energi di Indonesia. Investor, terutama asing, lebih tertarik menggarap energi di negara lain seperti Malaysia, karena keuntungan yang di dapat lebih besar. “Bagi hasil migas dan batubara beda jauh. Makanya sumber energi batubara lebih di minati investor,” timpal dia.
Sebagaimana diketahu, Indonesia memiliki banyak potensi geothermal sebagai sumber energi alternatif yang diperkirakan mencapai 26 ribu megawatt (mw).
Saat ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus memfokuskan untuk pemanfaatan panas bumi sehingga merupakan prioritas pertama pengembangan energi baru di Indonesia.
Dia mengatakan, meski memiliki potensi panas bumi cukup besar, namun sayangnya belum mampu dimanfaatkan secara optimal. "Kita baru bisa manfaatkan sekira 1.200 Mega Watt saja," kata ujar Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi Unggul Priyanto beberapa waktu lalu. Karena itulah, pemerintah ke depan akan lebih memprioritaskan untuk pengelolaan energi panas bumi sebagai energi alternatif baru.
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo mengatakan, selain batubara, saat ini pemerintah sedang berupaya mendorong di bukanya 20 titik sumber geotermal baru. Termasuk sumber geotermal yang ada di Jawa Barat. Komitmen tersebut sesuai dengan intruksi Menteri ESDM Jero Wacik agar mempercepat pembukaan sumber energi gas dan geotermal.
“Menteri sudah instruksikan untuk segera merealisasikan pembukaan beberapa titik geotermal di Indonesia,” jelas Widjajono Partowidagdo di sela-sela acara Seminar & Pameran Teknologi dan Bisnis Ketenagalistrikan Nasional 2011 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Tamansari, Kota Bandung, Selasa (8/11/2011).
Menurut dia, dalam beberapa hari kedepan, pihaknya akan mengadakan pertemuan dengan Kementrian Kehutanan terkait rencana tersebut. Terutama soal penggunaan lahan geotermal di beberapa wilayah. Namun demikian, Widjajono telah mendapat sinyalemen positif bahwa ke-20 sumber energi panas bumi mendapat dukungan dari Departemen Kehutanan.
“Dari 20 sumber energi geotermal tersebut, beberapa di antaranya berada di Jawa Barat. Termasuk di kawasan Tangkuban Perahu,” kata dia. Selain kawasan Tangkuban Perahu, masih ada beberapa titik lainnya di Jawa Barat yang akan di bangun sumber energi geotermal. Jawa Barat, lanjut dia, memiliki potensi energi geotermal cukup besar di banding daerah lainnya di Indonesia. Terutama di daerah pegunungan. Seperti halnya sumber geotermal Wayang Windu di Kabupaten Bandung.
Lebih lanjut Widjajono Partowidagdo mengatakan, pada dasarnya sumber energi non minyak di Indonesia diperkirakan lebih besar dari cadangan minyak nasional. Sumber energi tersebut berasal dari panas bumi dengan potensi 27,51 gigawatt (gw), gas bumi (57,6 TSCF), Batubara (13,3 miliar ton), biomass 49,81 gw, micro hidro (500 megawatt), dan lainnya.
Sayangnya, lanjut dia, potensi tersebut belum seluruhnya di optimalkan. Beberapa hambatan yang menyebabkan lambatnya eksplorasi energi akibat lambatnya proses perizinan. Selain itu, proses pembebasan lahan yang cenderung lambat membuat eksplorasi enegeri terhambat. “Rakyat lebih segan melakukan pembebasan tanah ke pemerintah. Sementara untuk ke investor, mereka justru akan menaikkan harga tanah setinggi-tingginya. Ya, kalau seperti ini susah,” pungkas dia.
Widjajono pun menyindir, pembagian keuntungan antara investor dan pemerintah menjadi penghambat lambatnya eksplorasi energi di Indonesia. Investor, terutama asing, lebih tertarik menggarap energi di negara lain seperti Malaysia, karena keuntungan yang di dapat lebih besar. “Bagi hasil migas dan batubara beda jauh. Makanya sumber energi batubara lebih di minati investor,” timpal dia.
Sebagaimana diketahu, Indonesia memiliki banyak potensi geothermal sebagai sumber energi alternatif yang diperkirakan mencapai 26 ribu megawatt (mw).
Saat ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus memfokuskan untuk pemanfaatan panas bumi sehingga merupakan prioritas pertama pengembangan energi baru di Indonesia.
Dia mengatakan, meski memiliki potensi panas bumi cukup besar, namun sayangnya belum mampu dimanfaatkan secara optimal. "Kita baru bisa manfaatkan sekira 1.200 Mega Watt saja," kata ujar Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi Unggul Priyanto beberapa waktu lalu. Karena itulah, pemerintah ke depan akan lebih memprioritaskan untuk pengelolaan energi panas bumi sebagai energi alternatif baru.
()