Ekspor produk rotan bakal makin prospektif

Selasa, 08 November 2011 - 18:24 WIB
Ekspor produk rotan...
Ekspor produk rotan bakal makin prospektif
A A A
Sindonews.com – Pengusaha rotan di Jawa Barat optimistis, produk turunan rotan akan kembali menggeliat dalam kurun waktu satu tahun kedepan seiring terpenuhinya pasokan bahan baku rotan dalam negeri.

Ketua Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Sentra Cirebon, Sumartja mengatakan, optimisme kembali menggeliatnya produksi kerajinan rotan setelah pemerintah berencana menghentikan ekspor bahan baku rotan. Kebijakan tersebut, lanjut dia membuat pengusaha produk rotan berencana menjajal bisnis tersebut. Karena, lesunya bisnis produk rotan beberapa tahun terakhir, akibat kelangkaan bahan baku rotan.

“Saya optimis, akan bermunculan sentra sentra kerajinan rotan di Indonesia. Pusatnya tidak lagi hanya ada di Cirebon. Tapi juga daerah lainnya seperti Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Termasuk di provinsi lainnya seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah,” jelas Sumartja, Selasa (8/11/2011). Optimisnye tersebut, juga didorong prospektifnya pasar internasional pada produk rotan.

Sejauh ini, lanjut dia, beberapa negara telah menunjukkan ketertarikannya terhadap produk rotan dalam negeri. Seperti Jepang, Amerika Serikat, Eropa Barat, Eropa Timur, dan Afrika. Bila terwujud, volume ekspor dari sentra Cirebon bisa mencapai lebih dari 9.000 kontainer setiap bulannya. Menurut dia, potensi tersebut, pada dasarnya telah ada sejak beberapa tahun lalu. Tapi akibat kelangkaan bahan baku, sentra industri rotan tidak sanggup memenuhi permintaan pasar.

Dia pun menolak anggapan bahwa perajin rotan hanya menyerap sebagian kecil komoditi rotan mentah. Menurut dia, saat pasokan bahan baku rotan stabil, sentra industri rotan di Cirebon membutuhkan sekitar 9.000 ton rotan mentah setiap bulan. Saat ini saja, dengan kondisi sulit bahan baku, volume ekspor produk rotan dari Cirebon mencapai 3.000 ton setiap bulannya. Di mana, pada setiap kontainer butuh sekitar 3 ton rotan mentah. Cirebon sendiri, lanjut dia menyokong sekitar 30% produksi rotan nasional.

Namun demikian, Sumartja mengakui, pulihnya industri produk rotan Tanah Air diperkirakan baru terasa dalam kurun waktu satu tahun kedepan. Hal itu disebabkan adanya penyesuaian sentra industri dengan suplai bahan baku. Tapi Sumartja mewanti-wanti, proses tersebut akan berjalan lebih lambat bila Surat Keputusan (SK) terkait penghentian ekspor rotan tidak segera diterbitkan oleh Pemerintah melalui Keputusan Menteri Perdagangan RI.

“Harusnya SK segera diterbitkan. Karena, sebelumnya telah ada kesepakatan antara Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Kehutanan, serta didukung beberapa gubernur di Kalimantan dan Sulawesi untuk melarang ekspor rotan,” beber dia. Akan tetapi, Sumartja sendiri mengaku belum menerima laporan bahwa SK tersebut telah di terbitkan.

Sementara itu, prospek industri rotan juga diyakini makin cerah seiring minat investor asal Taiwan dan China untuk berinvestasi di Indonesia terutama di sektor furnitur rotan.

"Memang, butuh waktu untuk memacu pertumbuhan industri. Setelah sempat anjlok karena kekurangan bahan baku dan pasar kita juga terganggu. Tapi, dengan menutup ekspor, produsen furnitur akan mulai melirik membangun industri di sini. Karena, bahan baku di sini tersedia dan harga bahan baku yang mereka peroleh di dalam negeri lebih baik," kata Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Hatta Sinatra.

Hatta mensinyalir, ada praktik under value dari harga ekspor yang berlaku selama ini. Pasalnya, kata dia, harga ekspor yang tercatat di Bea dan Cukai lebih rendah dibandingkan harga yang berlaku di dalam negeri.

Harga rata-rata ekspor rotan W/S adalah USD0,88 per kilogram (kg), rotan poles USD1,16 per kg, hati USD1,37 per kg, dan kulit USD1,84 per kg.

Hatta mengaku, industri membeli harga yang lebih tinggi dari harga tersebut di dalam negeri. Benny memperkirakan, keluhan harga tinggi bisa saja terjadi. Meski, ujar dia, harga yang tercatat di Bea dan Cukai rendah.

Menurut dia, kondisi itu bisa disebabkan oleh kebijakan bea keluar ekspor rotan. Akibatnya, harga yang berlaku ditekan agar bea keluar yang diterapkan juga rendah. Kemudian, pedagang menjual harga tinggi di pasar.

"Tapi, saya tidak mau asal menuduh. Hanya saja, kalau ada keluhan harga tinggi, padahal yang tercatat hanya rata-rata sekira USD1 per kg," tandasnya.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
1 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
3 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
3 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
4 jam yang lalu
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
6 jam yang lalu
Selat Hormuz Dikunci...
Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
7 jam yang lalu
Infografis
6 Produk Buatan China...
6 Produk Buatan China yang Digemari Konsumen Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved