Produk ritel merangkak naik

Jum'at, 11 November 2011 - 00:17 WIB
Produk ritel merangkak...
Produk ritel merangkak naik
A A A
Sindonews.com - Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor dikhawatirkan akan memperbesar kenaikan harga sejumlah produk ritel dan kebutuhan pokok di Tanah Air dalam beberapa bulan ke depan.

Kondisi cuaca dan serta adanya penyesuaian harga internasional, dipastikan menjadi pemicu utama kenaikan sejumlah produk dalam negeri. Berdasarkan pantauan SINDO di sejumlah minimarket dan pasar modern, telah terjadi kenaikan beberapa produk ritel keluaran pabrik pada kisaran 5-10 persen.

"Memang untuk produk keluaran pabrik selalu ada penyesuaian harga," jelas Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jabar Hendri Hendarta di Bandung, Kamis (10/11/2011).

Tapi, kenaikan tersebut tidak terlalu signifikan, yaitu pada kisaran 5 persen. Juga tidak terjadi di semua barang. Hanya barang tertentu, terutama produk dalam negeri yang mengandalkan bahan baku impor sebagai konten produknya.

"Kenaikannya biasanya tidak serta merta. Tapi dilakukan bertahap. Kalau sekaligus, akan membebani rakyat," timpal dia.

Ancaman kenaikan harga barang di dalam negeri juga telah diwanti-wanti para pengusaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar Deddy Widjaya mengaku, kenaikan sejumlah produk di dalam negeri pasti terjadi. Utamanya produk buatan pabrik.

Hal itu di sebabkan adanya kenaikan harga bahan baku internasional akhir-akhir ini. Sementara sebagian besar produk dalam negeri masih mengandalkan bahan baku impor.

Menurut dia, kenaikan bahan baku internasional disebabkan negara pengimpor lebih memilih menahan penjualan bahan baku ke negara lain, di tengah ancaman krisis pangan dunia.

Mereka lebih memilih mengamankan stok pangan di negaranya ketimbang mengimpor bahan baku ke nagara lain. Belum lagi, adanya ancaman bencana alam seperti hujan dan banjir, membuat harga bahan baku semakin mahal.

"Hampir semua produk kita masih tergentung pada bahan baku dari negara lain. Kondisi ini diperparah, tingginya bea masuk bahan baku ke dalam negeri. Tentu, perusahaan harus melakukan penyesuaian harga ketimbang harus menanggung rugi," beber Deddy.

Beberapa produk dalam negeri yang masih mengandalkan bahan baku impor, di antaranya kapas dan benang, otomotif, bahan baku produk rumah tangga, tepung terigu, kacang-kacangan, susu, dan lainnya.

Produk yang mengandalkan bahan baku impor tersebut dipastikan naik. Kalangan perusahaan, lanjut dia, telah mulai melakukan penyesuaian harga dengan menaikkan harga jual. Bahkan, sejumlah perusahaan tidak lagi memikirkan apakah dengan harga tersebut bisa laku atau tidak di pasaran. Mereka pun harus bersaing dengan produk impor yang dikenakan bea masuk 0%.

Apindo, lanjut dia, sudah beberapa kali menjelaskan kondisi tersebut kepada pemerintah. Sayangnya, sampai saat ini belum ada solusi. Termasuk soal ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.

"Kita tidak bisa berbuat banyak ketika harga bahan baku internasional naik," timpal dia.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
1 jam yang lalu
Modi Incar Harta Karun...
Modi Incar Harta Karun Terlarang Australia demi Terangi Negaranya
3 jam yang lalu
Sucofindo Catatkan Laba...
Sucofindo Catatkan Laba Bersih 100,7% dari Target RKAP 2025
3 jam yang lalu
Nasib Belang Gurita...
Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya
4 jam yang lalu
Masa Transisi ke B50...
Masa Transisi ke B50 Berlangsung hingga September, Penyaluran Dilakukan Bertahap
6 jam yang lalu
Selat Hormuz Dikunci...
Selat Hormuz Dikunci Rapat Iran, Jalur Minyak Terpenting Dunia Kembali Mandek
7 jam yang lalu
Infografis
6 Brigjen Naik Pangkat...
6 Brigjen Naik Pangkat Jadi Mayjen TNI usai Dapat Promosi Jabatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved