Industri otomotif mulai relokasi dari Thailand
Senin, 14 November 2011 - 04:54 WIB
Industri otomotif mulai relokasi dari Thailand
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah perusahaan otomotif yang berbasis di Thailand mulai melakukan pemindahan order suku cadang ke negara lain termasuk ke Indonesia. Langkah tersebut diambil untuk memastikan produksi tetap berjalan sampai akhir tahun 2011. Kepastian pemindahan order beberapa komponen otomotif dari Thailand dipastikan oleh PT Toyota Astra Motor.
Menurut President Director PT Toyota Astra Motor Johnny Dharmawan, Toyota telah mulai melakukan pemindahan order suku cadang. Order tidak lagi berasal dari Thailand, tapi negara lain salah satunya Indonesia. Kepastian tersebut, dalam rangka dimulainya lagi operasional produksi Toyota secara maksimal yang ditargetkan mulai pada 21 November 2011.
"Kita mulai pindah dari Thailand, ini solusi fix untuk produksi di luar Thailand. Pasokan suku cadang dari negara lain termasuk Indonesia," jelas Johnny kepada wartawan di Bandung, Minggu 13 November 2011.
Namun demikian, Johnny belum bisa memastikan apakah perpindahan order suku cadang seluruhnya ke Indonesia. Ada kemungkinan, selain Indonesia ada beberapa negara lain yang memasok suku cadang untuk Toyota.
"Saya tidak tahu Indonesia kebagian berapa persennya. Tapi ini sifatnya belum relokasi besar-besaran. Tapi baru sebatas pemindahan order suku cadang dari Thailand ke industri lokal," kata dia.
Misalnya komponen ringan seperti kabel. Kedepannya, relokasi tetap akan dilakukan dalam waktu dekat. Karena, industri induk dari Jepang telah diam-diam mulai melakukan pemindahan produksi.
Menurut dia, keputusan relokasi Toyota dari Thailand setelah tidak adanya kepastian terkait solusi Banjir di negeri Gajah Putih itu. Selain itu, produksi pun tidak mungkin sepenuhnya dilakukan di Jepang, mengingat semakin tingginya cost produksi dan biaya tenaga kerja.
Ketika disinggung soal investasi relokasi, Johnny memastikan akan cukup tinggi. Sebagai contoh, investasi menaikkan produksi menjadi 7.000 unit saja butuh investasi sekitar Rp2,9 triliun.
Jumlah tersebut akan melonjak beberapa kali lipat, bila relokasi dilakukan secara menyeluruh. Artinya, negara tujuan relokasi dijadikan sebagai basis industri. Karena, relokasi besar besaran akan memindahkan logistik utama. Logistik utama sendiri, menyokong harga komponen semakin mahal atau mencapai 30%.
"Bila relokasi dilakukan total ke Indonesia, kita bisa memproduksi mobil dengan harga murah. Kedepannya, Indonesia akan menjadi negara yang selalu dipertimbangkan ketika ikut tender internasional," timpal dia.
Namun demikian, Johnny memastikan, relokasi ke Indonesia akan sulit dilakukan bila kondisi insfrastruktur tak berubah. Terutama terkait jalan, bandara, pelabuhan, pasokan listrik, dan lainnya.
"Pemerintah harus segera mengambil tindakan bila Indonesia ingin dilirik sebagai tujuan investasi," imbuh dia. Dia meyakinkan, relokasi ke Indonesia mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Menurut President Director PT Toyota Astra Motor Johnny Dharmawan, Toyota telah mulai melakukan pemindahan order suku cadang. Order tidak lagi berasal dari Thailand, tapi negara lain salah satunya Indonesia. Kepastian tersebut, dalam rangka dimulainya lagi operasional produksi Toyota secara maksimal yang ditargetkan mulai pada 21 November 2011.
"Kita mulai pindah dari Thailand, ini solusi fix untuk produksi di luar Thailand. Pasokan suku cadang dari negara lain termasuk Indonesia," jelas Johnny kepada wartawan di Bandung, Minggu 13 November 2011.
Namun demikian, Johnny belum bisa memastikan apakah perpindahan order suku cadang seluruhnya ke Indonesia. Ada kemungkinan, selain Indonesia ada beberapa negara lain yang memasok suku cadang untuk Toyota.
"Saya tidak tahu Indonesia kebagian berapa persennya. Tapi ini sifatnya belum relokasi besar-besaran. Tapi baru sebatas pemindahan order suku cadang dari Thailand ke industri lokal," kata dia.
Misalnya komponen ringan seperti kabel. Kedepannya, relokasi tetap akan dilakukan dalam waktu dekat. Karena, industri induk dari Jepang telah diam-diam mulai melakukan pemindahan produksi.
Menurut dia, keputusan relokasi Toyota dari Thailand setelah tidak adanya kepastian terkait solusi Banjir di negeri Gajah Putih itu. Selain itu, produksi pun tidak mungkin sepenuhnya dilakukan di Jepang, mengingat semakin tingginya cost produksi dan biaya tenaga kerja.
Ketika disinggung soal investasi relokasi, Johnny memastikan akan cukup tinggi. Sebagai contoh, investasi menaikkan produksi menjadi 7.000 unit saja butuh investasi sekitar Rp2,9 triliun.
Jumlah tersebut akan melonjak beberapa kali lipat, bila relokasi dilakukan secara menyeluruh. Artinya, negara tujuan relokasi dijadikan sebagai basis industri. Karena, relokasi besar besaran akan memindahkan logistik utama. Logistik utama sendiri, menyokong harga komponen semakin mahal atau mencapai 30%.
"Bila relokasi dilakukan total ke Indonesia, kita bisa memproduksi mobil dengan harga murah. Kedepannya, Indonesia akan menjadi negara yang selalu dipertimbangkan ketika ikut tender internasional," timpal dia.
Namun demikian, Johnny memastikan, relokasi ke Indonesia akan sulit dilakukan bila kondisi insfrastruktur tak berubah. Terutama terkait jalan, bandara, pelabuhan, pasokan listrik, dan lainnya.
"Pemerintah harus segera mengambil tindakan bila Indonesia ingin dilirik sebagai tujuan investasi," imbuh dia. Dia meyakinkan, relokasi ke Indonesia mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
()