Pasokan beras mulai tersendat
Senin, 14 November 2011 - 16:39 WIB
Pasokan beras mulai tersendat
A
A
A
Sindonews.com – Pasokan beras kualitas medium dan premium ke sejumlah pasar tradisional di Jawa Barat mulai tersendat. Akibatnya, terjadi keterbatasan volume beras di tingkat pengecer.
Menurut salah seorang pedagang beras di Pasar Cileunyi Kabupaten Bandung, Cecep, mulai berkurangnya pasokan beras ke pasar tradisional telah terjadi sejak satu minggu lalu. Saat ini saja, stok beras miliknya, hanya mencukupi untuk satu minggu kedepan. Namun demikian, Cecep tidak bisa berbuat banyak, lantaran suplai beras mulai tidak menentu.
"Selain suplai tidak menentu, juga terjadi kenaikan harga beras kualitas medium dan premium. Bahkan, untuk harga beras medium, tidak jauh beda dengan beras kualitas premium," timpal dia saat ditemui, Senin (14/11/2011).
Menurut dia, sejak satu minggu lalu, beras medium naik sekitar Rp400 per kg dari Rp6.800 menjadi Rp7.200 per kg. Sementara untuk beras kualitas premium pada kisaran Rp7.500 per kg.
Mulai berkurangnya suplai beras ke tingkat pengecer juga diakui Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DPD Jabar Dadang Suganda. Menurut dia, kendati suplai beras dari distributor tidak berkurang, namun suplai beras ke tingkat pengecer mulai tersendat. Dia memperkirakan, tersendatnya pasokan beras ke pengecer, bisa disebabkan adanya permainan spekulan.
"Bisa jadi ada permainan spekulan. Karena, sejauh ini, pasokan beras dari distributor ke sejumlah pasar tradisional masih pada kisaran 20 truk per minggu," terang Dadang di Bandung.
Dia memperkirakan, permainan spekulan beras terkait prediksi akan melambungnya harga beras pada bulan Desember 2011 dan Januari 2012 mendatang. Terlebih, volume panen pada tahun ini menurun, akibat kekeringan yang melanda Indonesia beberapa bulan lalu.
Saat ini saja, harga beras sudah mulai merangkak naik pada kisaran 5-10 persen per kg. Kenaikan tidak hanya terjadi pada beras kualitas premium, tapi juga beras medium. Untuk di tingkat pengecer, harga beras bisa di jumpai dari kisaran Rp7.000 sampai dengan Rp9.000 per kg.
"Pemerintah harus segera mengintensifkan operasi pasar (OP) agar harga beras tetap terkendali. Volume beras untuk OP pun harus dinaikkan sehingga dampaknya bisa terasa," imbuh dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Provinsi Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif menjelaskan, kenaikan harga beras disertai minimnya pasokan beras bisa jadi ulah para spekulan. Namun, lanjut dia, kenaikan harga jual beras lebih banyak terjadi pada beras kualitas premium.
Karena, pemerintah melalui Perum Bulog telah menyiapkan sekitar 10.000 ton beras untuk operasi pasar. Selain itu, sampai saat ini Bulog masih menyalurkan beras raskin dengan harga murah.
"Untuk menggelar operasi pasar pun ada aturannya. Yaitu ketika kenaikan harga beras telah mencapai 10 persen," terang dia.
Menurut Ferry, tersendatnya suplai beras dan kenaikan harga pada bulan ini, diakibatkan minimnya volume panen petani pada tahun ini. Selain itu, terjadi kemunduran jadwal tanam para petani. Sehingga, panen di tahun 2012 diperkirakan baru terjadi pada bulan Maret 2012.
Menurut salah seorang pedagang beras di Pasar Cileunyi Kabupaten Bandung, Cecep, mulai berkurangnya pasokan beras ke pasar tradisional telah terjadi sejak satu minggu lalu. Saat ini saja, stok beras miliknya, hanya mencukupi untuk satu minggu kedepan. Namun demikian, Cecep tidak bisa berbuat banyak, lantaran suplai beras mulai tidak menentu.
"Selain suplai tidak menentu, juga terjadi kenaikan harga beras kualitas medium dan premium. Bahkan, untuk harga beras medium, tidak jauh beda dengan beras kualitas premium," timpal dia saat ditemui, Senin (14/11/2011).
Menurut dia, sejak satu minggu lalu, beras medium naik sekitar Rp400 per kg dari Rp6.800 menjadi Rp7.200 per kg. Sementara untuk beras kualitas premium pada kisaran Rp7.500 per kg.
Mulai berkurangnya suplai beras ke tingkat pengecer juga diakui Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DPD Jabar Dadang Suganda. Menurut dia, kendati suplai beras dari distributor tidak berkurang, namun suplai beras ke tingkat pengecer mulai tersendat. Dia memperkirakan, tersendatnya pasokan beras ke pengecer, bisa disebabkan adanya permainan spekulan.
"Bisa jadi ada permainan spekulan. Karena, sejauh ini, pasokan beras dari distributor ke sejumlah pasar tradisional masih pada kisaran 20 truk per minggu," terang Dadang di Bandung.
Dia memperkirakan, permainan spekulan beras terkait prediksi akan melambungnya harga beras pada bulan Desember 2011 dan Januari 2012 mendatang. Terlebih, volume panen pada tahun ini menurun, akibat kekeringan yang melanda Indonesia beberapa bulan lalu.
Saat ini saja, harga beras sudah mulai merangkak naik pada kisaran 5-10 persen per kg. Kenaikan tidak hanya terjadi pada beras kualitas premium, tapi juga beras medium. Untuk di tingkat pengecer, harga beras bisa di jumpai dari kisaran Rp7.000 sampai dengan Rp9.000 per kg.
"Pemerintah harus segera mengintensifkan operasi pasar (OP) agar harga beras tetap terkendali. Volume beras untuk OP pun harus dinaikkan sehingga dampaknya bisa terasa," imbuh dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Provinsi Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif menjelaskan, kenaikan harga beras disertai minimnya pasokan beras bisa jadi ulah para spekulan. Namun, lanjut dia, kenaikan harga jual beras lebih banyak terjadi pada beras kualitas premium.
Karena, pemerintah melalui Perum Bulog telah menyiapkan sekitar 10.000 ton beras untuk operasi pasar. Selain itu, sampai saat ini Bulog masih menyalurkan beras raskin dengan harga murah.
"Untuk menggelar operasi pasar pun ada aturannya. Yaitu ketika kenaikan harga beras telah mencapai 10 persen," terang dia.
Menurut Ferry, tersendatnya suplai beras dan kenaikan harga pada bulan ini, diakibatkan minimnya volume panen petani pada tahun ini. Selain itu, terjadi kemunduran jadwal tanam para petani. Sehingga, panen di tahun 2012 diperkirakan baru terjadi pada bulan Maret 2012.
()