Pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,3%
Rabu, 16 November 2011 - 19:33 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,3%
A
A
A
Sindonews.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2012 diperkirakan stagnan atau lebih kecil dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 sebesar 6,5 persen. Melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan, akibat krisis di kawasan Eropa.
Regional Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (BNI) sekaligus ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Rina Indiastuti mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan pada kisaran 6,3 persen.
Angka tersebut lebih optimis dari World Bank yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 dimulai dari 4,1 persen sampai 6,3 persen. Yaitu, 4,1 persen bila efek krisis sangat buruk, 5,5 persen efek krisis sedang, dan 6,3 persen efek krisis lemah.
"Neraca perdagangan Indonesia dan Eropa tidak besar, sehingga efek krisis Eropa diprediksikan lemah. Dengan begitu, kita masih optimis pertumbuhan ekonomi Nasional pada tahun 2012 bisa mencapai 6,3 persen," jelas Rina Indiastuti saat menjadi pembicara pada Economic Outlook 2012 di Hotel The Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Rabu (16/11/2011).
Saat ini, ekspor Indonesia masih mendominasi beberapa negara di kawasan Amerika dan Asia. Namun demikian, Rina tetap mengingatkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jatuh pada angka 5,5 persen pada tahun 2012, bila external shock turut berperan dalam ekonomi nasional.
Peringatan anjloknya ekonomi nasional tetap akan terjadi, kendati fundamental ekonomi nasional cukup kokoh. Namun demikian, Rina tetap optimis, Indonesia tidak akan terperosok pada titik terlemah pertumbuhan ekonomi di 2012 sebesar 4,1 persen.
Pengamat Ekonomi Unpad, Kodrat Wibowo menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia akan lebih kokoh pada tahun 2012 bila pemerintah lebih terbuka menerima arus investasi asing. Terutama investasi jangka panjang.
Menurut dia, pertumbuhan investasi ke Indonesia akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama mendongkrak rendahnya harga kebutuhan pokok masyarakat. "Investasi akan berimbas pada peningkatan sektor konsumsi masyarakat Indonesia, di tengah ketergantungan Indonesia pada produk impor," jelas Kodrat.
Keterbukaan tersebut, semestinya lebih diarahkan pada pemerataan investasi di semua daerah. Misalnya di Jawa Barat.
Wilayah Bandung Raya meliputi Kota dan Kabupaten Bandung menguasai sekitar 36,26 persen investasi, Kota/Kabupaten Bekasi 29,61 persen, Karawang 9,79 persen, dan sisanya investasi di daerah lainya dalam jumlah minim. Tasikmalaya, Sukabumi, Cirebon, dan Kuningan adalah daerah yang paling tidak dilirik investor domestik atau asing.
Sementara itu, CEO Regional Bandung PT BNI Dhias Widhiyati menyatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, Bank BNI akan lebih fokus menggarap sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sektor tersebut dinilai kokoh dan resisten terhadap gejolak ekonomi global.
Tahun 2012, Bank BNI akan berusaha meningkatkan rasio penyaluran kredit kepada UMKM. Hal itu juga yang telah ditunjukkan pada periode Januari-September 2011, dengan penyaluran kredit mencapai Rp6,1 triliun.
"Dari total kredit tersebut, khusus sektor UMKM, BNI menyalurkan kredit senilai Rp3,1 triliun. Atau menguasai 50,9 persen dari total penyaluran kredit Bank BNI," timpal dia.
Regional Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (BNI) sekaligus ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Rina Indiastuti mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 diperkirakan pada kisaran 6,3 persen.
Angka tersebut lebih optimis dari World Bank yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 dimulai dari 4,1 persen sampai 6,3 persen. Yaitu, 4,1 persen bila efek krisis sangat buruk, 5,5 persen efek krisis sedang, dan 6,3 persen efek krisis lemah.
"Neraca perdagangan Indonesia dan Eropa tidak besar, sehingga efek krisis Eropa diprediksikan lemah. Dengan begitu, kita masih optimis pertumbuhan ekonomi Nasional pada tahun 2012 bisa mencapai 6,3 persen," jelas Rina Indiastuti saat menjadi pembicara pada Economic Outlook 2012 di Hotel The Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Rabu (16/11/2011).
Saat ini, ekspor Indonesia masih mendominasi beberapa negara di kawasan Amerika dan Asia. Namun demikian, Rina tetap mengingatkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa jatuh pada angka 5,5 persen pada tahun 2012, bila external shock turut berperan dalam ekonomi nasional.
Peringatan anjloknya ekonomi nasional tetap akan terjadi, kendati fundamental ekonomi nasional cukup kokoh. Namun demikian, Rina tetap optimis, Indonesia tidak akan terperosok pada titik terlemah pertumbuhan ekonomi di 2012 sebesar 4,1 persen.
Pengamat Ekonomi Unpad, Kodrat Wibowo menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia akan lebih kokoh pada tahun 2012 bila pemerintah lebih terbuka menerima arus investasi asing. Terutama investasi jangka panjang.
Menurut dia, pertumbuhan investasi ke Indonesia akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama mendongkrak rendahnya harga kebutuhan pokok masyarakat. "Investasi akan berimbas pada peningkatan sektor konsumsi masyarakat Indonesia, di tengah ketergantungan Indonesia pada produk impor," jelas Kodrat.
Keterbukaan tersebut, semestinya lebih diarahkan pada pemerataan investasi di semua daerah. Misalnya di Jawa Barat.
Wilayah Bandung Raya meliputi Kota dan Kabupaten Bandung menguasai sekitar 36,26 persen investasi, Kota/Kabupaten Bekasi 29,61 persen, Karawang 9,79 persen, dan sisanya investasi di daerah lainya dalam jumlah minim. Tasikmalaya, Sukabumi, Cirebon, dan Kuningan adalah daerah yang paling tidak dilirik investor domestik atau asing.
Sementara itu, CEO Regional Bandung PT BNI Dhias Widhiyati menyatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, Bank BNI akan lebih fokus menggarap sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sektor tersebut dinilai kokoh dan resisten terhadap gejolak ekonomi global.
Tahun 2012, Bank BNI akan berusaha meningkatkan rasio penyaluran kredit kepada UMKM. Hal itu juga yang telah ditunjukkan pada periode Januari-September 2011, dengan penyaluran kredit mencapai Rp6,1 triliun.
"Dari total kredit tersebut, khusus sektor UMKM, BNI menyalurkan kredit senilai Rp3,1 triliun. Atau menguasai 50,9 persen dari total penyaluran kredit Bank BNI," timpal dia.
()