Produktivitas kebun teh belum maksimal
Jum'at, 18 November 2011 - 03:38 WIB
Produktivitas kebun teh belum maksimal
A
A
A
Sindonews.com - Kendati Jawa Barat menyuplai 80% kebutuhan teh nasional, namun produktivitas perkebunan teh rakyat di Jawa Barat masih belum maksimal. Padahal, potensi hasil pertanian pada sektor ini cukup prospektif terutama mengejar pasar ekspor.
Wakil Ketua Asisiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Jawa Barat Endang Sopari mengatakan, produksi teh rakyat dari Jawa Barat pada angka 500-700 kg per hektare, pada dasarnya bisa lebih digenjot menjadi 2 ton per hektare per tahun, bila ada keingian dari semua pihak. Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap, bahkan setiap tahunnya, produktivitas perkebunan teh terus menurun.
"Rendahnya produktivitas perkebunan teh rakyat di Jawa Barat akibat semakin sedikitnya populasi teh dalam satu hektare lahan. Saat ini saja, rata-rata populasi pohon teh milik rakyat hanya tersisa 30-40 persen dari populasi ideal 11.000 pohon per hektare," jelas Endang Sopari di sela-sela Seminar Pertehan Nasional di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Kamis 17 November 2011.
Menurut dia, masalah tersebut menjadi kendala serius perkebunan teh milik rakyat. Dengan populasi rendah, hasil yang didapat petani pun identik lebih sedikit. Namun demikian, Endang tidak bisa berbuat banyak, lantaran petani kesusahan melakukan peremajaan pohon teh.
Hal itu terkait dengan modal usaha yang cenderung minim. Sementara, keuntungan hasil panen, lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kebuntuan siklus tersebut, membuat petani tidak bisa berbuat banyak. Tidak sedikit, pemilik kebun teh memilih menjual lahan atau alih fungsi lahan untuk usaha lainnya. Kondisinya, luas areal lahan perkebunan teh di Jawa Barat saat ini tersisa sekitar 50 ribu hektare.
Terjadi pengurangan sekitar 3.000-4.000 hektare sejak beberapa tahun lalu. Penurunan luas lahan perkebunan teh juga terjadi secara nasional. Dari 160.000 hektare lahan, saat ini hanya tersisa sekitar 120.000 hektare lahan.
"Bila bisnis perkebunan ini semakin tidak propektif, akan semakin banyak perkebunan teh rakyat yang beralih fungsi," terang dia.
Padahal, perkebunan teh rakyat menguasai sekitar 50% dari total areal teh di Indonesia. Sisanya, sebanyak 20% perkebunan milik swasta, dan 30% lainnya dikelola oleh negara. Tak heran, luas lahan perkebunan teh yang semestinya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia masih melakukan impor teh dari Vietnam, Kenya, Srilanka, dan India.
Sementara itu, Ketua Bidang Unit Pengelola Hasil (UPH) SHG Unin Rustandi mengatakan, pihaknya optimis produktivitas teh akan meningkat cukup signifikan sejak mulainya musim penghujan. Namun demikian, pihaknya berharap harga teh kering masih bertahan pada posisi Rp2.500 per kg.
Sehingga, petani bisa mendapatkan keuntungan lebih besar. "Kami pun berkomitmen menaikkan areal lahan dari 300 hektare menjadi 500 hektare," timpal dia.
Wakil Ketua Asisiasi Petani Teh Indonesia (Aptehindo) Jawa Barat Endang Sopari mengatakan, produksi teh rakyat dari Jawa Barat pada angka 500-700 kg per hektare, pada dasarnya bisa lebih digenjot menjadi 2 ton per hektare per tahun, bila ada keingian dari semua pihak. Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap, bahkan setiap tahunnya, produktivitas perkebunan teh terus menurun.
"Rendahnya produktivitas perkebunan teh rakyat di Jawa Barat akibat semakin sedikitnya populasi teh dalam satu hektare lahan. Saat ini saja, rata-rata populasi pohon teh milik rakyat hanya tersisa 30-40 persen dari populasi ideal 11.000 pohon per hektare," jelas Endang Sopari di sela-sela Seminar Pertehan Nasional di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Kamis 17 November 2011.
Menurut dia, masalah tersebut menjadi kendala serius perkebunan teh milik rakyat. Dengan populasi rendah, hasil yang didapat petani pun identik lebih sedikit. Namun demikian, Endang tidak bisa berbuat banyak, lantaran petani kesusahan melakukan peremajaan pohon teh.
Hal itu terkait dengan modal usaha yang cenderung minim. Sementara, keuntungan hasil panen, lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kebuntuan siklus tersebut, membuat petani tidak bisa berbuat banyak. Tidak sedikit, pemilik kebun teh memilih menjual lahan atau alih fungsi lahan untuk usaha lainnya. Kondisinya, luas areal lahan perkebunan teh di Jawa Barat saat ini tersisa sekitar 50 ribu hektare.
Terjadi pengurangan sekitar 3.000-4.000 hektare sejak beberapa tahun lalu. Penurunan luas lahan perkebunan teh juga terjadi secara nasional. Dari 160.000 hektare lahan, saat ini hanya tersisa sekitar 120.000 hektare lahan.
"Bila bisnis perkebunan ini semakin tidak propektif, akan semakin banyak perkebunan teh rakyat yang beralih fungsi," terang dia.
Padahal, perkebunan teh rakyat menguasai sekitar 50% dari total areal teh di Indonesia. Sisanya, sebanyak 20% perkebunan milik swasta, dan 30% lainnya dikelola oleh negara. Tak heran, luas lahan perkebunan teh yang semestinya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia masih melakukan impor teh dari Vietnam, Kenya, Srilanka, dan India.
Sementara itu, Ketua Bidang Unit Pengelola Hasil (UPH) SHG Unin Rustandi mengatakan, pihaknya optimis produktivitas teh akan meningkat cukup signifikan sejak mulainya musim penghujan. Namun demikian, pihaknya berharap harga teh kering masih bertahan pada posisi Rp2.500 per kg.
Sehingga, petani bisa mendapatkan keuntungan lebih besar. "Kami pun berkomitmen menaikkan areal lahan dari 300 hektare menjadi 500 hektare," timpal dia.
()