Penyaluran KUR Jabar masih seret
Rabu, 23 November 2011 - 12:45 WIB
Penyaluran KUR Jabar masih seret
A
A
A
Sindonews.com – Perbankan perlu meningkatkan komposisi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) terutama di wilayah Jawa Barat. Per September 2011, total penyaluran KUR tercatat baru mencapai Rp3,8 triliun dari terget penyaluran KUR di awal tahun sebesar Rp5 triliun.
Pemimpin Kantor Bank Indonesia Bandung, Lucky F.A. Hadibrata mengakui, baru sebagian kecil perbankan yang menyalurkan KUR dalam jumlah besar. Bank dengan oustanding penyaluran KUR terbesar yaitu Bank BRI (Rp1,5 triliun) dan Bank BJB (Rp1,1 triliun). Pinjaman tersebut, lanjut dia, mampu terserap oleh sekitar 770.574 debitur di seluruh Jabar.
Penyaluran KUR, memberikan manfaat cukup positif bagi masyarakat yang ingin mendapatkan kredit dengan bunga ringan. Skema KUR memberikan bunga 22 persen untuk kredit di bawah Rp5 juta dan 14 persen untuk kredit di atas Rp50 juta. “Kami optimis penyaluran KUR di Jawa Barat bisa mencapai Rp4 triliun sampai akhir 2011,” jelas Lucky di Bandung, Selasa (22/11/2011). Jumlah tersebut, lanjut dia, akan jauh lebih baik dari penyaluran KUR tahun 2010.
Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk menggenjot penyerapan KUR yaitu membuat sejumlah skema penyaluran kredit. Seperti halnya program kemitraan (linkage program) dengan koperasi dan Baitul Mal Watamwil (BMT). “Kami pun menyalurkan KUR melalui program kemitraan di luar perbankan. Skema penyaluran KUR secara linkage dengan lembaga keuangan mikro itu telah berjalan sekitar enam bulan,” katanya.
Targetnya, bisa semakin memperluas penetrasi serapan kredit program pemerintah kepada rakyat. Sejauh ini, penyerapan KUR oleh koperasi dan BMT telah memberikan dampak cukup positif. Terutama menggenjot kinerja pelaku industri sekala mikro. Melihat potensi tersebut, BI Bandung berencana memperluas skema kerjasama dengan BMT dan koperasi di tahun 2012. Tujuannya, menggenjot penyaluran KUR lebih besar lagi. Setidaknya, mereka berkesempatan ikut menyalurkan KUR dengan plafon maksimal Rp2 miliar.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mkro Kecil dan Menengah (KUMKM) Provinsi Jawa Barat, Wawan Hernawan mengatakan serapan KUR di Jawa barat cukup terbantu dengan banyaknya koperasi simpan pinjam yang ikut menjadi penyalur kredit melalui skema linkage.
Setidaknya, terdapat sekira 50 koperasi yang menerima kredit KUR dari bank penyalur, untuk kemudian disalurkan kembali ke anggotanya. Koperasi tersebut berhasil menyumbangkan serapan KUR sekitar 10 persen dari total penyaluran KUR per September 2011. Pada 2010, koperasi yang menerima dana KUR dari perbankan melalui mekanisme linkage hanya mencapai 29 koperasi.
Kedepannya, pihaknya berharap, perbankan bisa meningkatkan menjalin kerjasama dengan koperasi untuk penyaluran KUR. Di Jawa Barat, setidaknya masih ada 300 BMT dengan nasabah yang cukup loyal.
Sebelumnya, pengusaha kakap Sandiaga Uno mengakui adanya "diskriminasi" pendanaan dari perbankan antara pasar saham dengan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Menurutnya, akses pendanaan pada sektor UKM semestinya dipermudah. Pasalnya UKM diklaim sebagai tulang punggung bagi perekonomian nasional. "Ada kesenjangan pendanaan yang benar-benar terasa sekarang ini, antara pendanaan di bursa dan di level UKM. Disinilah kita harus mencari solusi agar financing gap ini bisa diselesaikan," ungkap Sandiaga.
Dia melanjutkan, kesulitan dalam pembiayaan ini, dialami sendiri olehnya saat membesarkan usahanya. "Padahal, peran UKM kita kuat, potensi UKM kita besar dan baik dengan potensi dari 245 juta penduduknya," keluhnya.
Karenanya, guna mengatasi perbedaan financial gap ini, salah satu hal yang harus dilakukan adalah memperbaiki siklus pendanaan UKM.
"Pendanaan dan pendataan UKM itu penting. Karena kalau tidak, UKM terjebak pada pendanaan tradisional seperti pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) atau modal ventura," tandasnya.
Pemimpin Kantor Bank Indonesia Bandung, Lucky F.A. Hadibrata mengakui, baru sebagian kecil perbankan yang menyalurkan KUR dalam jumlah besar. Bank dengan oustanding penyaluran KUR terbesar yaitu Bank BRI (Rp1,5 triliun) dan Bank BJB (Rp1,1 triliun). Pinjaman tersebut, lanjut dia, mampu terserap oleh sekitar 770.574 debitur di seluruh Jabar.
Penyaluran KUR, memberikan manfaat cukup positif bagi masyarakat yang ingin mendapatkan kredit dengan bunga ringan. Skema KUR memberikan bunga 22 persen untuk kredit di bawah Rp5 juta dan 14 persen untuk kredit di atas Rp50 juta. “Kami optimis penyaluran KUR di Jawa Barat bisa mencapai Rp4 triliun sampai akhir 2011,” jelas Lucky di Bandung, Selasa (22/11/2011). Jumlah tersebut, lanjut dia, akan jauh lebih baik dari penyaluran KUR tahun 2010.
Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk menggenjot penyerapan KUR yaitu membuat sejumlah skema penyaluran kredit. Seperti halnya program kemitraan (linkage program) dengan koperasi dan Baitul Mal Watamwil (BMT). “Kami pun menyalurkan KUR melalui program kemitraan di luar perbankan. Skema penyaluran KUR secara linkage dengan lembaga keuangan mikro itu telah berjalan sekitar enam bulan,” katanya.
Targetnya, bisa semakin memperluas penetrasi serapan kredit program pemerintah kepada rakyat. Sejauh ini, penyerapan KUR oleh koperasi dan BMT telah memberikan dampak cukup positif. Terutama menggenjot kinerja pelaku industri sekala mikro. Melihat potensi tersebut, BI Bandung berencana memperluas skema kerjasama dengan BMT dan koperasi di tahun 2012. Tujuannya, menggenjot penyaluran KUR lebih besar lagi. Setidaknya, mereka berkesempatan ikut menyalurkan KUR dengan plafon maksimal Rp2 miliar.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mkro Kecil dan Menengah (KUMKM) Provinsi Jawa Barat, Wawan Hernawan mengatakan serapan KUR di Jawa barat cukup terbantu dengan banyaknya koperasi simpan pinjam yang ikut menjadi penyalur kredit melalui skema linkage.
Setidaknya, terdapat sekira 50 koperasi yang menerima kredit KUR dari bank penyalur, untuk kemudian disalurkan kembali ke anggotanya. Koperasi tersebut berhasil menyumbangkan serapan KUR sekitar 10 persen dari total penyaluran KUR per September 2011. Pada 2010, koperasi yang menerima dana KUR dari perbankan melalui mekanisme linkage hanya mencapai 29 koperasi.
Kedepannya, pihaknya berharap, perbankan bisa meningkatkan menjalin kerjasama dengan koperasi untuk penyaluran KUR. Di Jawa Barat, setidaknya masih ada 300 BMT dengan nasabah yang cukup loyal.
Sebelumnya, pengusaha kakap Sandiaga Uno mengakui adanya "diskriminasi" pendanaan dari perbankan antara pasar saham dengan Usaha Kecil Menengah (UKM).
Menurutnya, akses pendanaan pada sektor UKM semestinya dipermudah. Pasalnya UKM diklaim sebagai tulang punggung bagi perekonomian nasional. "Ada kesenjangan pendanaan yang benar-benar terasa sekarang ini, antara pendanaan di bursa dan di level UKM. Disinilah kita harus mencari solusi agar financing gap ini bisa diselesaikan," ungkap Sandiaga.
Dia melanjutkan, kesulitan dalam pembiayaan ini, dialami sendiri olehnya saat membesarkan usahanya. "Padahal, peran UKM kita kuat, potensi UKM kita besar dan baik dengan potensi dari 245 juta penduduknya," keluhnya.
Karenanya, guna mengatasi perbedaan financial gap ini, salah satu hal yang harus dilakukan adalah memperbaiki siklus pendanaan UKM.
"Pendanaan dan pendataan UKM itu penting. Karena kalau tidak, UKM terjebak pada pendanaan tradisional seperti pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) atau modal ventura," tandasnya.
()