Para group bertransformasi jadi CT Corp
Jum'at, 02 Desember 2011 - 10:19 WIB
Para group bertransformasi jadi CT Corp
A
A
A
Sindonews.com - Pengusaha Chairul Tanjung (CT) melakukan transformasi bisnis dengan mengubah nama grup usaha yang menaungi bisnisnya selama ini, Para Group menjadi CT Corp.
Peluncuran nama dengan logo baru ini sekaligus menandai 30 tahun Chairul Tanjung menjalankan bisnisnya. “Logo baru ini merupakan pernyataan kuat tentang masa depan Indonesia yang cerah yang datang dari kebebasan untuk bermimpi dan komitmen untuk memberi,” ujar Chairul Tanjung di Jakarta sebagaimana dikutip dari Harian Seputar Indonesia, Jumat (2/12/2011).
CT Corp memiliki tiga perusahaan sub-holding,yakni Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources dengan spektrum bisnis yang luas, seperti layanan finansial, media, ritel, gaya hidup, dan sumber daya alam.
Sejumlah perusahaan yang berada di bawah naungan bendera CT Group antara lain PT Bank Mega Tbk, Bank Mega Syariah, Mega life, Asuransi Mega, Mega Finance, Mega Capital, Trans TV, Trans 7, Detik, Carrefour, Trans Fashion, Trans Studio di Makassar dan Bandung, Baskin Robbins, Antatour, dan Vayatour. Dalam kesempatan tersebut, Chairul juga mengumumkan rencana aksi korporasi terbarunya yakni mengakuisisi 30% saham Bank Pembangunan daerah (BPD) Sulut ke dalam lini bisnis keuangan CT Corp sebelum akhir 2012.
“Persentase kepemilikan saham itu telah disetujui dalam rapat umum pemegang saham (RUPS),” paparnya.
Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini menjelaskan, langkah pengambilalihan ini akan dilakukan melalui dua tahap, menyesuaikan dengan aturan Bank Indonesia (BI). Sesuai dengan aturan BI, batas maksimum pengambilalihan langsung yang dibolehkan tanpa seizin BI maksimal 25 persen. “Jadi, kita bisa lakukan dua tahap, 25 persen dan kemudian lima berikutnya,” jelasnya.
Menurut dia, pengambilalihan saham BPD Sulut akan memudahkan pengembangan bisnis bank daerah ini, yakni dengan menyinergikan operasionalnya dengan Bank Mega. “Bisa pakai jaringan informasi dan teknologi (IT) Bank Mega, kalau mau buka cabang di Jakarta juga mereka enggak perlu buka banyak,” tuturnya.
Chairul menambahkan, dalam hal ini pihaknya tidak berencana menjadi pemilik mayoritas di BPD Sulut. Akuisisi ini, tegas dia, lebih ke tujuan mengembangkan bank tersebut yang pada akhirnya bisa pula kembali dilepas ke pasar. “Kita juga ingin bantu daerah khususnya di kawasan Timur, makanya kita ambil BPD di sana. Ke depannya, apabila sudah lebih baik dari saat ini, kita bisa lepas lagi ke pasar, dengan harga pasar tentunya,” ungkap dia.
Selain keuntungan nonfinansial, lanjut dia, akuisisi ini juga akan memperkuat permodalan Bank Sulut. Lebih lanjut dia menuturkan, CT Corp juga tidak menutup kemungkinan untuk bersinergi dengan BPD lainnya yang sejalan dengan lini bisnis perseroan. “Kami tetap membuka diri mengenai hal ini,” tegasnya.
Sekedar informasi, awalnya kelompok ini mendirikan usaha ekspor sepatu anak-anak dengan bermodalkan sebesar Rp150 juta, yang diperolehnya dari Bank Exim. Tahun 1996, Para Group mengakusisi Mega Bank dan mengubah namanya menjadi Bank Mega. Kemudian kelompok ini mengembangkan bisnisnya lewat kompleks pertokoan Bandung Supermall. Dalam kondisi yang tidak terlalu menguntungkan, Para Group mengambil alih Bank Tugu dan mengganti namanya menjadi Bank Mega Syariah Indonesia.
Setelah beberapa tahun kemudian, Bank Mega pelan-pelan mengalami perbaikan. Pada 28 Maret 2001, bank ini berhasil mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Jakarta seharga Rp1.125 per lembar. Dua tahun kemudian, Bank Mega menjadi sumber dana terbesar bagi Grup Para dengan kontribusinya sekitar 40 persen.
Peluncuran nama dengan logo baru ini sekaligus menandai 30 tahun Chairul Tanjung menjalankan bisnisnya. “Logo baru ini merupakan pernyataan kuat tentang masa depan Indonesia yang cerah yang datang dari kebebasan untuk bermimpi dan komitmen untuk memberi,” ujar Chairul Tanjung di Jakarta sebagaimana dikutip dari Harian Seputar Indonesia, Jumat (2/12/2011).
CT Corp memiliki tiga perusahaan sub-holding,yakni Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources dengan spektrum bisnis yang luas, seperti layanan finansial, media, ritel, gaya hidup, dan sumber daya alam.
Sejumlah perusahaan yang berada di bawah naungan bendera CT Group antara lain PT Bank Mega Tbk, Bank Mega Syariah, Mega life, Asuransi Mega, Mega Finance, Mega Capital, Trans TV, Trans 7, Detik, Carrefour, Trans Fashion, Trans Studio di Makassar dan Bandung, Baskin Robbins, Antatour, dan Vayatour. Dalam kesempatan tersebut, Chairul juga mengumumkan rencana aksi korporasi terbarunya yakni mengakuisisi 30% saham Bank Pembangunan daerah (BPD) Sulut ke dalam lini bisnis keuangan CT Corp sebelum akhir 2012.
“Persentase kepemilikan saham itu telah disetujui dalam rapat umum pemegang saham (RUPS),” paparnya.
Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini menjelaskan, langkah pengambilalihan ini akan dilakukan melalui dua tahap, menyesuaikan dengan aturan Bank Indonesia (BI). Sesuai dengan aturan BI, batas maksimum pengambilalihan langsung yang dibolehkan tanpa seizin BI maksimal 25 persen. “Jadi, kita bisa lakukan dua tahap, 25 persen dan kemudian lima berikutnya,” jelasnya.
Menurut dia, pengambilalihan saham BPD Sulut akan memudahkan pengembangan bisnis bank daerah ini, yakni dengan menyinergikan operasionalnya dengan Bank Mega. “Bisa pakai jaringan informasi dan teknologi (IT) Bank Mega, kalau mau buka cabang di Jakarta juga mereka enggak perlu buka banyak,” tuturnya.
Chairul menambahkan, dalam hal ini pihaknya tidak berencana menjadi pemilik mayoritas di BPD Sulut. Akuisisi ini, tegas dia, lebih ke tujuan mengembangkan bank tersebut yang pada akhirnya bisa pula kembali dilepas ke pasar. “Kita juga ingin bantu daerah khususnya di kawasan Timur, makanya kita ambil BPD di sana. Ke depannya, apabila sudah lebih baik dari saat ini, kita bisa lepas lagi ke pasar, dengan harga pasar tentunya,” ungkap dia.
Selain keuntungan nonfinansial, lanjut dia, akuisisi ini juga akan memperkuat permodalan Bank Sulut. Lebih lanjut dia menuturkan, CT Corp juga tidak menutup kemungkinan untuk bersinergi dengan BPD lainnya yang sejalan dengan lini bisnis perseroan. “Kami tetap membuka diri mengenai hal ini,” tegasnya.
Sekedar informasi, awalnya kelompok ini mendirikan usaha ekspor sepatu anak-anak dengan bermodalkan sebesar Rp150 juta, yang diperolehnya dari Bank Exim. Tahun 1996, Para Group mengakusisi Mega Bank dan mengubah namanya menjadi Bank Mega. Kemudian kelompok ini mengembangkan bisnisnya lewat kompleks pertokoan Bandung Supermall. Dalam kondisi yang tidak terlalu menguntungkan, Para Group mengambil alih Bank Tugu dan mengganti namanya menjadi Bank Mega Syariah Indonesia.
Setelah beberapa tahun kemudian, Bank Mega pelan-pelan mengalami perbaikan. Pada 28 Maret 2001, bank ini berhasil mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Jakarta seharga Rp1.125 per lembar. Dua tahun kemudian, Bank Mega menjadi sumber dana terbesar bagi Grup Para dengan kontribusinya sekitar 40 persen.
()