Operasikan 3 PLTU, PLN hemat Rp19,9 triliun/tahun
Kamis, 29 Desember 2011 - 09:26 WIB
Operasikan 3 PLTU, PLN hemat Rp19,9 triliun/tahun
A
A
A
Sindonews.com - Tiga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang baru saja dioperasikan PT PLN (Persero) untuk memperkuat sistem kelistrikan Jawa-Bali akan menghemat subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp19,9 triliun per tahun.
Adapun ketiga PLTU tersebut di baru saja diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kemarin. Acara tersebut bersamaan dengan peresmian dimulainya konstruksi (ground breaking) proyek pemanfaatan residu atau residual fluid catalytic cracking (RFCC) yang terdapat di Unit IV Kilang Minyak Pertamina, Cilacap.
Ketiga proyek PLTU yang diresmikan terdiri atas PLTU 1 Banten-Suralaya di Cilegon berdaya 625 megawatt (MW); PLTU 3 Banten Unit 1 Tangerang, Banten, berdaya 315 MW; dan PLTU Tanjung Jati Ekspansi Unit 3 di Jepara, Jateng, berdaya 66 MW.Dua PLTU pertama yaitu Suralaya dan Lontar adalah bagian dari proyek percepatan pengadaan listrik 10 ribu MW tahap I.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan, pengoperasian ketiga PLTU tersebut untuk memenuhi kebutuhan listrik, khususnya wilayah Jawa-Madura-Bali yang peningkatannya cukup pesat. ”Total kapasitas PLTU yang diresmikan adalah 1.600 MW,” kata Nur yang mengikuti acara peresmian melalui video conference di PLTU 1 Banten- Suralaya, Cilegon, Banten.
Menurut dia, pengoperasian tiga PLTU tersebut akan menambah pasokan listrik ke sistem interkoneksi Jawa-Bali sehingga meningkatkan keandalan sistem. Saat ini beban puncak rata-rata pada sistem kelistrikan Jawa-Bali mencapai sekitar 19.700 MW. Di samping itu, Nur Pamudji mengungkapkan, pembangunan PLTU tersebut merupakan upaya diversifikasi pembangkit non-BBM,sehingga biaya pokok penyediaan listrik menjadi lebih murah dan mengurangi subsidi listrik.
Dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar, ketiga PLTU akan menghemat subsidi BBM sebesar Rp19,9 triliun per tahun. Sementara, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, nilai investasi proyek RFCC Cilacap mencapai USD1,4 miliar. Karen mengungkapkan, RFCC merupakan salah satu proyek yang masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) terkait dengan pembangunan infrastruktur energi guna meningkatkan ketahanan energi nasional.
Proyek ini akan menghasilkan premium beroktan tinggi sebanyak 1,9 juta kiloliter per tahun, elpiji 352 ribu ton per tahun, dan propilena 142 ribu ton per tahun. ”Saat ini Pertamina memiliki enam kilang dengan total kapasitas pengolahan minyak mentah sekitar satu juta barel per hari dan memproduksi BBM 41 juta kl (kiloliter) per tahun,” kata dia.
Adapun ketiga PLTU tersebut di baru saja diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kemarin. Acara tersebut bersamaan dengan peresmian dimulainya konstruksi (ground breaking) proyek pemanfaatan residu atau residual fluid catalytic cracking (RFCC) yang terdapat di Unit IV Kilang Minyak Pertamina, Cilacap.
Ketiga proyek PLTU yang diresmikan terdiri atas PLTU 1 Banten-Suralaya di Cilegon berdaya 625 megawatt (MW); PLTU 3 Banten Unit 1 Tangerang, Banten, berdaya 315 MW; dan PLTU Tanjung Jati Ekspansi Unit 3 di Jepara, Jateng, berdaya 66 MW.Dua PLTU pertama yaitu Suralaya dan Lontar adalah bagian dari proyek percepatan pengadaan listrik 10 ribu MW tahap I.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan, pengoperasian ketiga PLTU tersebut untuk memenuhi kebutuhan listrik, khususnya wilayah Jawa-Madura-Bali yang peningkatannya cukup pesat. ”Total kapasitas PLTU yang diresmikan adalah 1.600 MW,” kata Nur yang mengikuti acara peresmian melalui video conference di PLTU 1 Banten- Suralaya, Cilegon, Banten.
Menurut dia, pengoperasian tiga PLTU tersebut akan menambah pasokan listrik ke sistem interkoneksi Jawa-Bali sehingga meningkatkan keandalan sistem. Saat ini beban puncak rata-rata pada sistem kelistrikan Jawa-Bali mencapai sekitar 19.700 MW. Di samping itu, Nur Pamudji mengungkapkan, pembangunan PLTU tersebut merupakan upaya diversifikasi pembangkit non-BBM,sehingga biaya pokok penyediaan listrik menjadi lebih murah dan mengurangi subsidi listrik.
Dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar, ketiga PLTU akan menghemat subsidi BBM sebesar Rp19,9 triliun per tahun. Sementara, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, nilai investasi proyek RFCC Cilacap mencapai USD1,4 miliar. Karen mengungkapkan, RFCC merupakan salah satu proyek yang masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) terkait dengan pembangunan infrastruktur energi guna meningkatkan ketahanan energi nasional.
Proyek ini akan menghasilkan premium beroktan tinggi sebanyak 1,9 juta kiloliter per tahun, elpiji 352 ribu ton per tahun, dan propilena 142 ribu ton per tahun. ”Saat ini Pertamina memiliki enam kilang dengan total kapasitas pengolahan minyak mentah sekitar satu juta barel per hari dan memproduksi BBM 41 juta kl (kiloliter) per tahun,” kata dia.
()