2012, kredit Bank Mutiara diprediksi tumbuh 18,4%
Kamis, 29 Desember 2011 - 09:49 WIB
2012, kredit Bank Mutiara diprediksi tumbuh 18,4%
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) menargetkan pertumbuhan kredit sekitar Rp11,6 triliun di tahun 2012. Jumlah itu tumbuh 18,4 persen dibandingkan proyeksi kredit akhir tahun 2011 sebesar Rp9,4 triliun.
Pertumbuhan kredit ini akan difokuskan kepada segmen konsumer terutama di Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Tanpa Agunan (KTA). Direktur Utama Bank Mutiara Maryono mengatakan, tahun depan perseroan memang akan lebih memfokuskan penyaluran kredit kepada segmen kredit konsumer karena melihat peluang bisnis yang baik serta memiliki yield tinggi.
“Khusus untuk segmen SME, perseroan akan memberikan kredit kepada jenisjenis industri yang menarik serta kepada rekanan perusahaan medium dan korporasi yang telah dibiayai oleh Mutiara,” ujar Maryono di Jakarta kemarin.
Menurut Maryono, strategi ini juga dilakukan mengingat Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) kepada segmen kredit ini hanya sekitar 50 persen sehingga selain bisa menyalurkan kredit rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/ CAR) dapat dijaga di level 9,7 persen di akhir 2012.
“Kita memang arahnya akan masuk ke proyek atau segmen ekonomi yang ATMR-nya 20-50 persen, kalau bisa nol persen. Sehingga kita harapkan ekspansi bisnis kredit bisa di atas target,” katanya.
Secara umum, Maryono memperkirakan kinerja tahun 2011 ini akan ditutup dengan pencapaian seperti total aset mencapai sekitar Rp13,2 triliun naik 19 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai sekitar Rp10,8 triliun naik 17 persen, ekuitas sekitar Rp1 triliun naik 23 persen, dan laba sekitar Rp290,6 miliar naik 25 persen.
Adapun rasio-rasio keuangan lain seperti CAR dikisaran 9,1 persen, NPL gross dikisaran 5,5 persen, Net Interest Margin/NIM dikisaran 1,6 persen, BOPO sekitar 81,8 persen dan rasio pinjaman terhadap kredit (Loan to Deposit Ratio/DLR) 87,4 persen. Executive Vice President Bank Mutiara Candra Utama menambahkan, dari tambahan penyaluran kredit Rp2,1 triliun di 2012, sebesar Rp1,1 triliun akan disumbangkan segmen konsumer.
Dari total Rp1,1 triliun tersebut, komposisinya sebesar Rp400 miliar dari personal loan, dan KPR akan menyumbang Rp700 miliar. Khusus untuk kredit multifinance, sambung dia, pertumbuhanya akan cenderung stagnan dan lebih diarahkan dalam mempertahankan outstanding.
Menurut Candra, untuk mendukung segmen KPR, strategi perseroan adalah dengan masuk ke segmen pasar menengah, fokus di daerah Jakarta atau sebanyak 80 persen dan akan membidik pasar rumah baru. “Kita akan masuk pasar menengah karena bar-gaining nya masih setara, kalau rumah second, kita akan kerja sama dengan broker. Dengan strategi ini kita bisa mencapai target,” ungkapnya.
Managing Direktur Bank Mutiara Benny Purnomo menambahkan, pertumbuhan DPK yang diproyeksikan sekitar Rp10,8 triliun naik 17 persen dibandingkan Desember 2010 tidak terlepas dari konsentrasi DPK yang masih besar di deposito. Tapi kedepan porsi dana murah dan deposito akan diarahkan menjadi 13:87. “Nanti akan turunkan dari high cost ke low cost yang kita perkirakan dari 10 persen menjadi 13 persen,” tukasnya.
Maryono menambahkan, proyeksi laba tahun ini masih banyak dikontribusikan oleh hasil recovery aset. Tahun ini saja, kata dia, recovery aset yang berhasil dikoleksi telah mencapai sekitar Rp750 miliar dari total sekitar Rp2,5 triliun. Menurut dia, masih terdapat sisa sekitar Rp4,3 trilun dan sebagian besar berada di surat-surat berharga.
Pertumbuhan kredit ini akan difokuskan kepada segmen konsumer terutama di Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Tanpa Agunan (KTA). Direktur Utama Bank Mutiara Maryono mengatakan, tahun depan perseroan memang akan lebih memfokuskan penyaluran kredit kepada segmen kredit konsumer karena melihat peluang bisnis yang baik serta memiliki yield tinggi.
“Khusus untuk segmen SME, perseroan akan memberikan kredit kepada jenisjenis industri yang menarik serta kepada rekanan perusahaan medium dan korporasi yang telah dibiayai oleh Mutiara,” ujar Maryono di Jakarta kemarin.
Menurut Maryono, strategi ini juga dilakukan mengingat Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) kepada segmen kredit ini hanya sekitar 50 persen sehingga selain bisa menyalurkan kredit rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/ CAR) dapat dijaga di level 9,7 persen di akhir 2012.
“Kita memang arahnya akan masuk ke proyek atau segmen ekonomi yang ATMR-nya 20-50 persen, kalau bisa nol persen. Sehingga kita harapkan ekspansi bisnis kredit bisa di atas target,” katanya.
Secara umum, Maryono memperkirakan kinerja tahun 2011 ini akan ditutup dengan pencapaian seperti total aset mencapai sekitar Rp13,2 triliun naik 19 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai sekitar Rp10,8 triliun naik 17 persen, ekuitas sekitar Rp1 triliun naik 23 persen, dan laba sekitar Rp290,6 miliar naik 25 persen.
Adapun rasio-rasio keuangan lain seperti CAR dikisaran 9,1 persen, NPL gross dikisaran 5,5 persen, Net Interest Margin/NIM dikisaran 1,6 persen, BOPO sekitar 81,8 persen dan rasio pinjaman terhadap kredit (Loan to Deposit Ratio/DLR) 87,4 persen. Executive Vice President Bank Mutiara Candra Utama menambahkan, dari tambahan penyaluran kredit Rp2,1 triliun di 2012, sebesar Rp1,1 triliun akan disumbangkan segmen konsumer.
Dari total Rp1,1 triliun tersebut, komposisinya sebesar Rp400 miliar dari personal loan, dan KPR akan menyumbang Rp700 miliar. Khusus untuk kredit multifinance, sambung dia, pertumbuhanya akan cenderung stagnan dan lebih diarahkan dalam mempertahankan outstanding.
Menurut Candra, untuk mendukung segmen KPR, strategi perseroan adalah dengan masuk ke segmen pasar menengah, fokus di daerah Jakarta atau sebanyak 80 persen dan akan membidik pasar rumah baru. “Kita akan masuk pasar menengah karena bar-gaining nya masih setara, kalau rumah second, kita akan kerja sama dengan broker. Dengan strategi ini kita bisa mencapai target,” ungkapnya.
Managing Direktur Bank Mutiara Benny Purnomo menambahkan, pertumbuhan DPK yang diproyeksikan sekitar Rp10,8 triliun naik 17 persen dibandingkan Desember 2010 tidak terlepas dari konsentrasi DPK yang masih besar di deposito. Tapi kedepan porsi dana murah dan deposito akan diarahkan menjadi 13:87. “Nanti akan turunkan dari high cost ke low cost yang kita perkirakan dari 10 persen menjadi 13 persen,” tukasnya.
Maryono menambahkan, proyeksi laba tahun ini masih banyak dikontribusikan oleh hasil recovery aset. Tahun ini saja, kata dia, recovery aset yang berhasil dikoleksi telah mencapai sekitar Rp750 miliar dari total sekitar Rp2,5 triliun. Menurut dia, masih terdapat sisa sekitar Rp4,3 trilun dan sebagian besar berada di surat-surat berharga.
()