Hobi menyulam membawa sukses berbisnis tas & alas kaki
Jum'at, 30 Desember 2011 - 10:06 WIB
Hobi menyulam membawa sukses berbisnis tas & alas kaki
A
A
A
Sindonews.com - Keterampilan apapun jika diasah bisa menghasilkan rupiah. Bermula dari hobi sulam pita, Amiek Indriastuti sukses memproduksi ratusan tas dan alas kaki yang dipasarkan secara online.
Deretan tas manis tertata rapi di stand UKM “Za’nis” yang menjadi salah satu peserta dalam pameran UKM bertajuk “Pasar Indonesia Goes to Mall” yang digelar Bank Mandiri di Cilandak Townsquare Jakarta beberapa waktu lalu.
Dari puluhan model tas yang dipajang, tak satu pun yang kembar atau sama. Menurut sang pemilik stand, Amiek Indriastuti, tas ala Za’nis merupakan tas buatan tangan (handmade) yang tidak diproduksi massal seperti tas pabrikan. Satu model tas belum tentu diproduksi dalam jumlah banyak, kecuali ada pesanan khusus dari pembeli atau pelanggan. “Saya bikinnya sesuai hati dan tergantung jumlah pesanan,” ucapnya kepada Koran Sindo.
Merintis usaha di Bandung sejak empat tahun lalu, Amiek berprinsip pelan, tapi pasti. Ia tak ingin lantaran mengejar omzet besar lalu memproduksi barang dalam jumlah banyak, tapi kualitasnya diragukan atau modelnya pasaran. Itulah sebabnya, ibunda dari Zahra dan Nisa ini tetap bertahan dengan tas buatan tangan yang menuntut keterampilan menyulam dan kreativitas tinggi.
“Usaha ini memang berawal dari hobi sulam pita,” ungkap Amiek. Alumnus Teknik Sipil Universitas Trisakti ini mengaku tertarik dengan keterampilan sulam-menyulam lantaran setiap hari melihat sang bunda menjahit dan menyulam pita di rumahnya di Bandung.
Setelah mencoba, Amiek mendapati sulam pita yang mulai populer di Indonesia pada awal 2000 itu ternyata menyenangkan. “Untuk memperdalam, saya mencoba ikut les sulam pita di Bandung,” ungkapnya.
Sebagai permulaan, Amiek mengaplikasikan sulam pita pada pakaian. Namun, lantaran sudah banyak pemain sulam pita untuk baju, ia pun beralih ke tas. Bekerjasama dengan perajin tas, Amiek mulai memproduksi tas perdana berjenis tas pesta yang mudah digenggam tangan (clutch bag).
Tas-tas dengan balutan kain aneka warna itu tentu diberi pemanis sulam pita yang dikerjakan sendiri oleh tangan Amiek. “Awalnya saya cuma memasarkan ke teman-teman dan kenalan saja. Dari situ mulai banyak yang pesan,” tutur Amiek, yang memulai usaha dengan modal sekitar Rp5 juta. Melihat respons pasar cukup positif, Amiek kian bersemangat menciptakan tas dengan beragam bentuk, model, dan fungsi.
Antara lain tas bentuk kotak, gepeng, oval, serta tas behel. Pilihan tas yang tersedia juga bisa disesuaikan kebutuhan, misalnya tas untuk ke pesta, jalan-jalan, sehari-hari, tempat kosmetik, mukena, hingga sajadah. Selain ornamen andalan sulam pita, beberapa tas juga divariasikan dengan hiasan lain seperti payet, batu-batuan, dan kristal swarovky.
Menurut Amiek, salah satu jenis tas yang sempat difavoritkan pembeli adalah tas bentuk gepeng. Saat ia mengikuti sebuah pameran kerajinan tangan, tas seharga Rp200 ribu-250 ribu itu laris terjual. Kini Amiek sudah memproduksi tas gepeng model kedua yang dikombinasikan dengan tas kosmetik. Adapun yang terbaru adalah tas besar model speedy serta clutch bag lipit dengan ornamen payet dan batuan tabur.
Amiek mengungkapkan, pembuatan tas model lipit cukup lama dan rumit karena banyak melibatkan pekerjaan tangan. Pengerjaannya bertahap mulai dari melipit kain taveta yang akan dipakai untuk melapisi tas, pemasangan kain ke badan tas, lalu proses pemasangan payet, dan ornamen lainnya.
Taveta merupakan jenis kain dengan tekstur halus dan agak mengkilat, sehingga hasil akhirnya adalah tas yang terkesan mewah. “Untuk membuat satu tas ini, saya bisa melibatkan tiga orang yang berbeda,” sebut wanita yang kini menghidupi lima karyawan ini. Selain terus berinovasi dengan model-model tas baru, atas permintaan pelanggan, Amiek juga mulai merambah pada produk alas kaki.
Fokusnya adalah sandal wanita dan selop yang didesain satu set dengan tas. Jika harga tas produksi Za’nis berkisar Rp125 ribu-300 ribu, satu set tas plus sepatu dengan warna senada rata-rata dibanderol Rp300 ribu-350 ribu. Dengan penjualan lebih dari 30 item per bulan, Amiek bisa mengantongi omzet sekitar Rp10 juta per bulan.
Untuk membantu pengembangan usaha, sejak dua tahun lalu Amiek bekerja sama dengan Bank Mandiri. Sebagai UKM Mitra Binaan Bank Mandiri, ia berkesempatan memperoleh pinjaman dana pengembangan usaha serta diikutsertakan dalam pameran dan berbagai pelatihan wirausaha.
Menurut Amiek, dana yang diperoleh sebagian besar ia pakai untuk membeli bahan dan proses produksi. “Karena untuk bahan kain kan kami butuh stok,” ujarnya. Kendati saat ini pengusaha tas dan alas kaki handmade makin menjamur, Amiek tetap percaya diri, produknya punya segmen peminat dan pelanggan tersendiri. Kuncinya terus berinovasi dan menciptakan produk berkualitas dan tidak pasaran.
Untuk memperluas pangsa pasar, sejak 2009 Amiek juga memanfaatkan media internet, website, dan situs jejaring sosial untuk berpromosi. Dari hasil promosi online ini, Amiek mampu menjaring pelanggan dari berbagai kota di Indonesia, bahkan ada juga pemesan dari Malaysia.
“Model pemasaran online dengan menampilkan gambar produk di website atau Facebook ini lebih efektif ketimbang sistem penjualan konvensional. Produk handmade ini saya perhatikan peminatnya juga kalangan tertentu, tidak semua orang suka,” sebut Amiek.
Deretan tas manis tertata rapi di stand UKM “Za’nis” yang menjadi salah satu peserta dalam pameran UKM bertajuk “Pasar Indonesia Goes to Mall” yang digelar Bank Mandiri di Cilandak Townsquare Jakarta beberapa waktu lalu.
Dari puluhan model tas yang dipajang, tak satu pun yang kembar atau sama. Menurut sang pemilik stand, Amiek Indriastuti, tas ala Za’nis merupakan tas buatan tangan (handmade) yang tidak diproduksi massal seperti tas pabrikan. Satu model tas belum tentu diproduksi dalam jumlah banyak, kecuali ada pesanan khusus dari pembeli atau pelanggan. “Saya bikinnya sesuai hati dan tergantung jumlah pesanan,” ucapnya kepada Koran Sindo.
Merintis usaha di Bandung sejak empat tahun lalu, Amiek berprinsip pelan, tapi pasti. Ia tak ingin lantaran mengejar omzet besar lalu memproduksi barang dalam jumlah banyak, tapi kualitasnya diragukan atau modelnya pasaran. Itulah sebabnya, ibunda dari Zahra dan Nisa ini tetap bertahan dengan tas buatan tangan yang menuntut keterampilan menyulam dan kreativitas tinggi.
“Usaha ini memang berawal dari hobi sulam pita,” ungkap Amiek. Alumnus Teknik Sipil Universitas Trisakti ini mengaku tertarik dengan keterampilan sulam-menyulam lantaran setiap hari melihat sang bunda menjahit dan menyulam pita di rumahnya di Bandung.
Setelah mencoba, Amiek mendapati sulam pita yang mulai populer di Indonesia pada awal 2000 itu ternyata menyenangkan. “Untuk memperdalam, saya mencoba ikut les sulam pita di Bandung,” ungkapnya.
Sebagai permulaan, Amiek mengaplikasikan sulam pita pada pakaian. Namun, lantaran sudah banyak pemain sulam pita untuk baju, ia pun beralih ke tas. Bekerjasama dengan perajin tas, Amiek mulai memproduksi tas perdana berjenis tas pesta yang mudah digenggam tangan (clutch bag).
Tas-tas dengan balutan kain aneka warna itu tentu diberi pemanis sulam pita yang dikerjakan sendiri oleh tangan Amiek. “Awalnya saya cuma memasarkan ke teman-teman dan kenalan saja. Dari situ mulai banyak yang pesan,” tutur Amiek, yang memulai usaha dengan modal sekitar Rp5 juta. Melihat respons pasar cukup positif, Amiek kian bersemangat menciptakan tas dengan beragam bentuk, model, dan fungsi.
Antara lain tas bentuk kotak, gepeng, oval, serta tas behel. Pilihan tas yang tersedia juga bisa disesuaikan kebutuhan, misalnya tas untuk ke pesta, jalan-jalan, sehari-hari, tempat kosmetik, mukena, hingga sajadah. Selain ornamen andalan sulam pita, beberapa tas juga divariasikan dengan hiasan lain seperti payet, batu-batuan, dan kristal swarovky.
Menurut Amiek, salah satu jenis tas yang sempat difavoritkan pembeli adalah tas bentuk gepeng. Saat ia mengikuti sebuah pameran kerajinan tangan, tas seharga Rp200 ribu-250 ribu itu laris terjual. Kini Amiek sudah memproduksi tas gepeng model kedua yang dikombinasikan dengan tas kosmetik. Adapun yang terbaru adalah tas besar model speedy serta clutch bag lipit dengan ornamen payet dan batuan tabur.
Amiek mengungkapkan, pembuatan tas model lipit cukup lama dan rumit karena banyak melibatkan pekerjaan tangan. Pengerjaannya bertahap mulai dari melipit kain taveta yang akan dipakai untuk melapisi tas, pemasangan kain ke badan tas, lalu proses pemasangan payet, dan ornamen lainnya.
Taveta merupakan jenis kain dengan tekstur halus dan agak mengkilat, sehingga hasil akhirnya adalah tas yang terkesan mewah. “Untuk membuat satu tas ini, saya bisa melibatkan tiga orang yang berbeda,” sebut wanita yang kini menghidupi lima karyawan ini. Selain terus berinovasi dengan model-model tas baru, atas permintaan pelanggan, Amiek juga mulai merambah pada produk alas kaki.
Fokusnya adalah sandal wanita dan selop yang didesain satu set dengan tas. Jika harga tas produksi Za’nis berkisar Rp125 ribu-300 ribu, satu set tas plus sepatu dengan warna senada rata-rata dibanderol Rp300 ribu-350 ribu. Dengan penjualan lebih dari 30 item per bulan, Amiek bisa mengantongi omzet sekitar Rp10 juta per bulan.
Untuk membantu pengembangan usaha, sejak dua tahun lalu Amiek bekerja sama dengan Bank Mandiri. Sebagai UKM Mitra Binaan Bank Mandiri, ia berkesempatan memperoleh pinjaman dana pengembangan usaha serta diikutsertakan dalam pameran dan berbagai pelatihan wirausaha.
Menurut Amiek, dana yang diperoleh sebagian besar ia pakai untuk membeli bahan dan proses produksi. “Karena untuk bahan kain kan kami butuh stok,” ujarnya. Kendati saat ini pengusaha tas dan alas kaki handmade makin menjamur, Amiek tetap percaya diri, produknya punya segmen peminat dan pelanggan tersendiri. Kuncinya terus berinovasi dan menciptakan produk berkualitas dan tidak pasaran.
Untuk memperluas pangsa pasar, sejak 2009 Amiek juga memanfaatkan media internet, website, dan situs jejaring sosial untuk berpromosi. Dari hasil promosi online ini, Amiek mampu menjaring pelanggan dari berbagai kota di Indonesia, bahkan ada juga pemesan dari Malaysia.
“Model pemasaran online dengan menampilkan gambar produk di website atau Facebook ini lebih efektif ketimbang sistem penjualan konvensional. Produk handmade ini saya perhatikan peminatnya juga kalangan tertentu, tidak semua orang suka,” sebut Amiek.
()