Cuaca ekstrem, nelayan butuh bantuan

Senin, 09 Januari 2012 - 15:49 WIB
Cuaca ekstrem, nelayan...
Cuaca ekstrem, nelayan butuh bantuan
A A A
Sindonews.com - Nelayan harus mendapatkan bantuan pangan dari pemerintah. Hal ini dimaksudkan, untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka di saat gagal melaut karena cuaca buruk.

Demikian disampaikan Tamsil Linrung Anggota Komisi IV DPR RI, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (9/1/2012).

Tamsil menambahkan, siklus ini akan berulang di setiap tahun, oleh karena itu pemerintah harus serius memperhatikannya. Nelayan tradisional itu kaum yang paling rentan terhadap dampak cuaca buruk.

“Seperti diberitakan sebelumnya, nelayan di Cilincing, Polewali Mandar (Sulawesi Barat), Kwandang (Gorontalo) dan di kawasan pesisir lainnya mengalami kelesuan hasil tangkapan ikan. Alat tangkap nelayan tradisional memang belum bisa survive untuk cuaca yang ekstrem,” kata dia.

Akibat cuaca ekstrem juga mempengaruhi harga ikan laut di Kota Jayapura, Papua, sejak sepekan ini terus merangkak naik. Menurut para nelayan di Kota Jayapura kenaikan harga ikan di atas harga normalnya ini disebabkan cuaca ekstrem yang melanda perairan Papua hingga para nelayan enggan melaut.

"Sejak akhir Desember, harga ikan memang sudah naik. Karena hasil tangkapan kami memang sedikit akibat cuaca yang buruk,” ungkap Udin salah satu nelayan di Kota Jayapura.

Saat ini, harga ikan di Kota Jayapura dijual mulai dari kisaran harga Rp30 ribu hingga Rp350 ribu. Untuk satu tumpuk (biasanya lima sampai enam ekor ikan) ikan kembung ukuran kecil, dibandrol dengan harga Rp30 ribu sampai Rp35 ribu, ikan tuna ukuran sedang seharga Rp70 ribu-Rp90 ribu per ekornya, ikan puri per tumpuk seharga Rp25 ribu.

Harga ikan laut di Kota Jayapura, diperkirakan akan terus naik hingga Februari bulan depan, beberapa waktu lalu Balai Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura menyatakan gelombang setinggi tiga meter akan terjadi di perairan Papua yakni perairan Biak Numfor, Samudra Pasifik serta sebelah utara Papua Barat dan perairan Raja Ampat Sorong.

Dengan karakteristik yaitu lahan garapnya yang berupa laut, merupakan perairan yang bersifat milik bersama dan dimanfaatkan oleh hampir seluruh sektor pembangunan. Bantuan dari pemerintah dalam kondisi cuaca buruk seperti ini, adalah wajib hukumnya, sebagai solusi atas gagal melaut para nelayan tradisional.

Kondisi ini, lanjut Tamsil, diperburuk dengan adanya ketergantungan pinjaman modal terhadap tengkulak. Saat musim paceklik, kebutuhan pinjaman modal sangat tinggi, dan akan dibayarkan disaat musim ikan.

“Namun, kenyataannya nelayan tak akan dapat melunasi di saat jatuh tempo. Akhirnya, terjadi penumpukan dan ketergantungan yang sangat tinggi. Alias hubungan eksploitatif,” tegas Tamsil politisi PKS ini.

()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
20 menit yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
29 menit yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
46 menit yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
2 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
2 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
2 jam yang lalu
Infografis
Negara-negara Arab Kutuk...
Negara-negara Arab Kutuk Langkah Israel Blokir Bantuan ke Gaza
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved