Pemerintah bangun infrastruktur gas senilai Rp77,93 T
Rabu, 18 Januari 2012 - 15:44 WIB
Pemerintah bangun infrastruktur gas senilai Rp77,93 T
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah merencanakan pembangunan 13 proyek infrastruktur gas senilai Rp77,93 triliun mulai tahun 2012 hingga 2017.
Menurut anggota Komite Badan Pelaksana Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Qoyum Tjandranegara, pada 2017 infrastruktur gas tersebut bakal mensubstitusi pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 17,38 juta kiloliter (kl).
"Proyek gas bumi akan menghemat subsidi BBM dalam jumlah besar," ujarnya kala ditemui dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/1/2012).
Ke-13 proyek itu terdiri dari lima pipa transmisi yakni, jalur Natuna-Jawa bagian barat berkapasitas 1.200 mmscfd, pipa Kalimantan Timur-Jawa Tengah 900 mmscfd, Cirebon-Semarang 400 mmscfd, Semarang-Surabaya 400 mmscfd, dan Sumsel-Jawa bagian barat (SSWJ) tahap ketiga 1.200 mmscfd.
"Lalu, tiga proyek kilang gas alam cair (Liqufied Natural Gas/LNG) di Papua 534 mmscfd, Maluku 534 mmscfd, dan Sulawesi 356 mmscfd," jelasnya.
Sedangkan untuk proyek terminal LNG direncanakan di tiga lokasi yakni Sumut 250 mmscfd, Jakarta 250 mmscfd, dan Jatim 500 mmscfd.
"Proyek lainnya adalah kompresor untuk peningkatan kapasitas SSWJ I dan II menjadi 1.100 mmscfd, dan infrastruktur CNG yang terdiri dari 120 mother station dan 960 daugther station," pungkasnya.
Masih menurut Qoyum, pembangunan infrakstruktur ini akan menekan kehilangan devisa negara saat ini sebesar Rp410,4 triliun, akibat tidak memaksimalkan penggunaan gas bumi yang harganya jauh lebih murah ketimbang BBM.
"Kita kehilangan devisa negara tahun 2006 sebesar Rp91,9 triliun, di 2007 Rp101,2 triliun, di 2008 Rp140 triliun dan 2009 Rp77,3 triliun, sehingga total kehilangan devisa negara sebesar Rp410,4 triliun," ujar Qoyum.
Menurutnya, kehilangan potensi tersebut karena Sejak 2006-2009 Indonesia lebih memilih mengimpor minyak ketimbang memaksimalkan potensi gas bumi.
"Ini jelas-jelas merugikan negara karena hasil jual energi murah dialokasikan untuk membeli bahan bakar yang lebih mahal (minyak)," katanya. (bro)
()