Kerjasama RI-Rusia akan semakin intens
Kamis, 26 Januari 2012 - 12:44 WIB
Kerjasama RI-Rusia akan semakin intens
A
A
A
Sindonews.com - Para pengusaha muda Indonesia yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mulai melirik Rusia, sebagai tujuan pengembangan usaha.
Ketua Hipmi Raja Sapta Oktohari mengatakan Rusia masih memiliki pangsa pasar sebesar 18 juta penduduk muslim. Karenanya, dia akan meninjau langsung ke Rusia peluang usaha ini. Menurutnya, kerja sama Indonesia-Rusia harus dikembangkan karena berpotensi tinggi untuk Indonesia.
"Saya akan ke sana dalam waktu dekat, melihat Rusia. Kita akan membuka peluang ke Rusia, faktanya banyak yang lupa. Kerja sama dengan Rusia sebenarnya sudah lama karena potensinya besar," ungkap Okto ketika berbincang dengan wartawan di Hipmi Centre, Palma One, Jakarta, Rabu (25/1/2012) malam.
Okto mengatakan, Rusia sangat tertarik dengan pariwisata Indonesia. Dia melanjutkan, di Bali, bahasa Rusia sudah lazim digunakan di bandara tersebut. Karenanya, dia optimistis peluang usaha akan berjalan dengan lancar.
"Turis dari Rusia, animo mereka ke Indonesia cukup tinggi, bahkan ada beberapa pihak meminta fasilitas layanan penerbangan ke sana. Animo tinggi harus ada feedback yang tinggi. Ini bisa jadi pasar buat Himpi," lanjutnya.
Walaupun demikian, dia tidak memungkiri saat ini masih ada kendala hubungan kedua negara ini. Salah satunya adalah kendala bahasa, di mana bahasa Rusia kurang menarik di Indonesia. "Kendalanya masih di kendala enggak familiar, dan bahasa juga tapi sekarang pusat studi bahasa Indonesia banyak di sana," pungkasnya.
Kerja sama antara Indonesia dan Rusia hingga saat ini masih tergolong kecil. Hal ini dapat dilihat dari nilai investasi Rusia di Indonesia pada tahun 2010 yang hanya USD1,7 Miliar dan ini masih sangat rendah dibanding negara Asean lainnya.
Duta besar Indonesia untuk Rusia Djauhari Oratmangun mengatakan rendahnya kerja sama Indonesia dengan Rusia ini salah satunya disebabkan karena adanya perbedaan sistem perbankan antara Indonesia dan Rusia.
"Tapi nilai perdagangan meningkat 12,11 persen dalam lima tahun terakhir. Investasi masih rendah di banding negara Asean lainnya," ungkapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk ekspor Indonesia ke Rusia saat ini juga masih tergolong kecil, yaitu hanya USD1,6 miliar. Walaupun demikian dia menargetkan ekspor ke Rusia ini akan tembus USD5 miliar pada tahun 2014-2015 nanti. Selain ekspor menurutnya pariwisata Indonesia juga sangat menjanjikan di mata Rusia.
"Ekspor ke Rusia kopi, CPO, coklat ,pakaian. Tapi sektor pariwisata kita sangat menjanjikan dan dilihat dari pada tahun 2005 hanya 20 ribu dan sekarang sudah tembus 80 ribu," imbuhnya.
Ketua Hipmi Raja Sapta Oktohari mengatakan Rusia masih memiliki pangsa pasar sebesar 18 juta penduduk muslim. Karenanya, dia akan meninjau langsung ke Rusia peluang usaha ini. Menurutnya, kerja sama Indonesia-Rusia harus dikembangkan karena berpotensi tinggi untuk Indonesia.
"Saya akan ke sana dalam waktu dekat, melihat Rusia. Kita akan membuka peluang ke Rusia, faktanya banyak yang lupa. Kerja sama dengan Rusia sebenarnya sudah lama karena potensinya besar," ungkap Okto ketika berbincang dengan wartawan di Hipmi Centre, Palma One, Jakarta, Rabu (25/1/2012) malam.
Okto mengatakan, Rusia sangat tertarik dengan pariwisata Indonesia. Dia melanjutkan, di Bali, bahasa Rusia sudah lazim digunakan di bandara tersebut. Karenanya, dia optimistis peluang usaha akan berjalan dengan lancar.
"Turis dari Rusia, animo mereka ke Indonesia cukup tinggi, bahkan ada beberapa pihak meminta fasilitas layanan penerbangan ke sana. Animo tinggi harus ada feedback yang tinggi. Ini bisa jadi pasar buat Himpi," lanjutnya.
Walaupun demikian, dia tidak memungkiri saat ini masih ada kendala hubungan kedua negara ini. Salah satunya adalah kendala bahasa, di mana bahasa Rusia kurang menarik di Indonesia. "Kendalanya masih di kendala enggak familiar, dan bahasa juga tapi sekarang pusat studi bahasa Indonesia banyak di sana," pungkasnya.
Kerja sama antara Indonesia dan Rusia hingga saat ini masih tergolong kecil. Hal ini dapat dilihat dari nilai investasi Rusia di Indonesia pada tahun 2010 yang hanya USD1,7 Miliar dan ini masih sangat rendah dibanding negara Asean lainnya.
Duta besar Indonesia untuk Rusia Djauhari Oratmangun mengatakan rendahnya kerja sama Indonesia dengan Rusia ini salah satunya disebabkan karena adanya perbedaan sistem perbankan antara Indonesia dan Rusia.
"Tapi nilai perdagangan meningkat 12,11 persen dalam lima tahun terakhir. Investasi masih rendah di banding negara Asean lainnya," ungkapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk ekspor Indonesia ke Rusia saat ini juga masih tergolong kecil, yaitu hanya USD1,6 miliar. Walaupun demikian dia menargetkan ekspor ke Rusia ini akan tembus USD5 miliar pada tahun 2014-2015 nanti. Selain ekspor menurutnya pariwisata Indonesia juga sangat menjanjikan di mata Rusia.
"Ekspor ke Rusia kopi, CPO, coklat ,pakaian. Tapi sektor pariwisata kita sangat menjanjikan dan dilihat dari pada tahun 2005 hanya 20 ribu dan sekarang sudah tembus 80 ribu," imbuhnya.
()