Investasi manufaktur ditargetkan tembus Rp120 T
Selasa, 31 Januari 2012 - 20:08 WIB
Investasi manufaktur ditargetkan tembus Rp120 T
A
A
A
Sindonews.com - Investasi di sektor manufaktur nasional ditargetkan bisa mencapai Rp120 triliun pada tahun ini. Jumlah itu mengalami kenaikan dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp99,87 triliun dari 2.645 proyek.
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, dalam rencana strategis Kementerian Perindustrian (Kemenperin), investasi dari sembilan cabang industri manufaktur pada 2012 ditargetkan mencapai Rp147,26 triliun.
“Kalau investasi di sektor petrokimia dan logam-baja masuk tahun ini, saya rasa target renstra itu bisa tercapai. Dari proyek tahap I Krakatau Posco saja bisa terealisasi 50 persen tahun ini. Belum lagi investasi lain. Setidaknya, investasi manufaktur tahun ini bisa mencapai Rp120 triliun,” kata Hidayat di Jakarta.
Hidayat menjelaskan, saat ini, hingga 70 persen realisasi investasi masih terpusat di Jawa. Dia berharap, penyebaran bisa dilakukan hingga ke luar Jawa dengan program hilirisasi industri.
“Terutama dengan pembangunan smelter-smelter pertambangan, dalam rangka hilirisasi industri. Untuk awal, kita bidik porsi investasi di luar pulau Jawa mencapai 40 persen,” ucapnya.
Sementara, Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto memperkirakan, investasi di sektor hilir industri tekstil dan produk tekstil (TPT) bisa mencapai Rp2,5 triliun pada tahun ini.
Untuk tahun ini, lanjutnya anggaran untuk merestrukturisasai mesin industri alas kaki dan TPT adalah sebesar Rp172 miliar. Dari jumlah itu, anggaran yang diberikan bagi sektor TPT adalah sekitar Rp150 miliar.
“Artinya, ada investasi Rp1,5 triliun untuk pembelian mesin oleh industri TPT. Secara total, potensi investasi TPT hilir bisa sekitar Rp2,5 triliun,” kata Panggah.
Sementara, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Industri, Riset, dan Teknologi Bambang Sujagad mengatakan, krisis ekonomi di beberapa kawasan Eropa dan terbitnya UU Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Publik menjadi faktor positif bagi investasi di Indonesia. Namun, kata dia, masalah perburuhan menjadi salah satu kendala investasi di Indonesia .
“Dunia usaha dalam posisi serba dilema. Target investasi yang dicanangkan bisa saja tercapai. Tapi, kalau kondisi seperti kemarin, ketika hukum kalah dengan otot maka akan mengganggu iklim investasi di dalam negeri. Padahal tahun 2015, pasar ASEAN terintegrasi jadi satu. Bisa-bisa, investor akan memilih satu lokasi investasi. Keluar dari Indonesia, pindah ke negara lain. Toh, pasarnya sudah terintegrasi jadi satu,” jelasnya. (ank)
Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, dalam rencana strategis Kementerian Perindustrian (Kemenperin), investasi dari sembilan cabang industri manufaktur pada 2012 ditargetkan mencapai Rp147,26 triliun.
“Kalau investasi di sektor petrokimia dan logam-baja masuk tahun ini, saya rasa target renstra itu bisa tercapai. Dari proyek tahap I Krakatau Posco saja bisa terealisasi 50 persen tahun ini. Belum lagi investasi lain. Setidaknya, investasi manufaktur tahun ini bisa mencapai Rp120 triliun,” kata Hidayat di Jakarta.
Hidayat menjelaskan, saat ini, hingga 70 persen realisasi investasi masih terpusat di Jawa. Dia berharap, penyebaran bisa dilakukan hingga ke luar Jawa dengan program hilirisasi industri.
“Terutama dengan pembangunan smelter-smelter pertambangan, dalam rangka hilirisasi industri. Untuk awal, kita bidik porsi investasi di luar pulau Jawa mencapai 40 persen,” ucapnya.
Sementara, Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto memperkirakan, investasi di sektor hilir industri tekstil dan produk tekstil (TPT) bisa mencapai Rp2,5 triliun pada tahun ini.
Untuk tahun ini, lanjutnya anggaran untuk merestrukturisasai mesin industri alas kaki dan TPT adalah sebesar Rp172 miliar. Dari jumlah itu, anggaran yang diberikan bagi sektor TPT adalah sekitar Rp150 miliar.
“Artinya, ada investasi Rp1,5 triliun untuk pembelian mesin oleh industri TPT. Secara total, potensi investasi TPT hilir bisa sekitar Rp2,5 triliun,” kata Panggah.
Sementara, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Industri, Riset, dan Teknologi Bambang Sujagad mengatakan, krisis ekonomi di beberapa kawasan Eropa dan terbitnya UU Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Publik menjadi faktor positif bagi investasi di Indonesia. Namun, kata dia, masalah perburuhan menjadi salah satu kendala investasi di Indonesia .
“Dunia usaha dalam posisi serba dilema. Target investasi yang dicanangkan bisa saja tercapai. Tapi, kalau kondisi seperti kemarin, ketika hukum kalah dengan otot maka akan mengganggu iklim investasi di dalam negeri. Padahal tahun 2015, pasar ASEAN terintegrasi jadi satu. Bisa-bisa, investor akan memilih satu lokasi investasi. Keluar dari Indonesia, pindah ke negara lain. Toh, pasarnya sudah terintegrasi jadi satu,” jelasnya. (ank)
()