Gas Tangguh siap dialihkan untuk domestik

Senin, 13 Februari 2012 - 10:12 WIB
Gas Tangguh siap dialihkan...
Gas Tangguh siap dialihkan untuk domestik
A A A
Sindonews.com - Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) siap mengalihkan seluruh volume ekspor gas alam cair Tangguh ke Sempra sebanyak 3,7 juta ton per tahun ke pembeli domestik.

Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas Gde Pradnyana mengatakan prinsipnya harga gas ke domestik mesti lebih baik dibandingkan Sempra sehingga akan menambah penerimaan negara.

"Kalau memang ada pembeli domestik yang pasti mau membeli dengan harga bagus, kenapa tidak," ujarnya kepada okezone di Jakarta, Senin (13/2/2012).

Menurutnya saat ini Sempra membeli harga gas Tangguh sekitar USD7-9 per MMBTU. "Kalau ditambah tarif buat Sempra sebesar USD1 per MMBTU maka pembeli domestik mesti membayar harga gas Tangguh sekitar USD8-10 per MMBTU," tegasnya.

Dirinya mengungkapkan berbeda dengan ekspor LNG Tangguh ke Fujian harga gas Tangguh ke Sempra memakai patokan Henry Hub tanpa batas atas (ceiling price).

"Sesuai kontrak, ekspor LNG Tangguh ke Sempra bisa dialihkan 50 persen dari 3,7 juta ton per tahun atau 1,85 juta ton per tahun ke pembeli lain dengan memberikan tarif sekitar USD1 per MMBTU ke perusahaan asal AS tersebut sebagai kompensasi," ungkapnya.

Dirinya menjelaskan BP Migas sejauh ini sudah mengalihkan sebagian ekspor LNG Sempra ke pembeli lain di Jepang, India, dan Thailand.

"Namun, di luar klausul kontrak itu, dimungkinkan pula pengalihan ekspor LNG Sempra sisanya menyusul penemuan shale gas cukup besar di AS. Kami sudah ada pembicaraan. Tapi, fokus pertama adalah pengalihan 50 persen volume sesuai kontrak. Di luar itu, kalau kita mau ambil, maka harus izin sama mereka," jelasnya.

Lebih lanjut Gde menambahkan pembeli domestik yang menginginkan gas Tangguh bisa segera menyampaikannya ke BP Migas. Namun demikian agar pembeli domestik juga menjajaki kemungkinan impor LNG sepanjang harga lebih murah dari domestik.

"Harga LNG domestik sekarang USD11 per MMBTU. Kalau dapat dari impor antara USD5-6 per MMBTU, tentunya lebih menguntungkan. Impor bisa dari Qatar atau Australia," pungkasnya.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
15 menit yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
28 menit yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
1 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
1 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
1 jam yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
2 jam yang lalu
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Larang Ondel-ondel Digunakan untuk Ngamen di Jalanan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved