Konversi ke BBG jalan jika harga BBM naik

Rabu, 15 Februari 2012 - 15:56 WIB
Konversi ke BBG jalan...
Konversi ke BBG jalan jika harga BBM naik
A A A


Sindonews.com - Pemerintah menyatakan program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) akan berjalan jika harga BBM bersubsidi naik Rp6.000 hingga Rp7.000.

"Program konversi jalan kalau harga BBM-nya naik. Kalau misalnya enggak naik ya enggak bakal jalan konversi ini. Kan dari Rp4.100 ke Rp4.500 selisihnya kecil sekali, kalau misalnya tahun ini naik jadi Rp6.000, lalu tahun depan naik lagi jadi Rp7.000, orang akan pindah ke BBG karena harganya lebih murah," ujar Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo yang ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (15/2/2012).

Menurutnya, jika ada kenaikan harga BBM bersubsidi maka masyarakat akan beralih menjadi pemakai BBG. "Nanti orang yang protes tidak akan banyak. Kalau BBG-nya ada pasti orang beralih ke sana, apalagi tiap tahun harga BBM-nya naik, maka akan ada peralihan ke BBG," ujarnya.

Dirinya juga mengimbau agar pemerintah melakukan transparansi penghematan subsidi apabila adanya kenaikan harga BBM bersubsidi. "Ada saja perubahan-perubahan itu. Uang dari hasil penghematan subsidi itu juga harus jelas untuk apa, misalnya untuk infrastruktur gas. Saya lebih setuju di-APBNP dulu, lalu kita punya uang dulu buat infrastruktur. Jadi lebih cepat membangun transportasi umum dan infrastruktur lebih baik," jelasnya.

Widjajono mencontohkan di Paris, New York dan Tokyo yang kebanyakan memakai transportasi umum yang berarti mereka menghemat konsumsi BBM karena transportasi di sana sudah bagus. "Mereka pakai BBM untuk undangan, ke gereja, kalau hari biasa mereka naik transportasi umum. Kalau di Indonesia disuruh kayak begitu kan pada teriak, transportasi umumnya saja masih ada orang yang diperkosa, kan enggak bener," ungkapnya.

Lebih lanjut dirinya menambahkan untuk APBNP jangan terlalu terburu-buru sehingga nantinya tidak ada kesalahan dari pemerintah untuk masalah kenaikan harga. "Bisa maju atau mundur. Kajiannya mengatakan dua minggu selesai, saya masih tidak tahu langkahnya. Masih akan dibicarakan di DPR lalu ke Kementerian Keuangan. Jadi tidak harus buru-buru," pungkasnya. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Genera-Z Berbakti BCA...
Genera-Z Berbakti BCA Siapkan Mahasiswa Implementasikan Solusi bagi Desa Wisata
5 jam yang lalu
Kapal Tanker Kembali...
Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
5 jam yang lalu
Pertamina Evaluasi Insiden...
Pertamina Evaluasi Insiden Mobil Tangki di Cianjur, Pasokan BBM Dipastikan Aman
6 jam yang lalu
Bertemu PM Modi, Prabowo...
Bertemu PM Modi, Prabowo Minta QRIS Segera Bisa Dipakai di India
6 jam yang lalu
Setelah 24 Tahun Vakum,...
Setelah 24 Tahun Vakum, Sumur LLA-5 PHE ONWJ Hasilkan Minyak 780 Barel per Hari
6 jam yang lalu
Pulihkan Harapan, Brantas...
Pulihkan Harapan, Brantas Abipraya Bersama PU Hadir dalam Penanganan Pascabencana di Sumatera
6 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved