Tak ada alasan menaikkan harga BBM

Kamis, 16 Februari 2012 - 15:39 WIB
Tak ada alasan menaikkan...
Tak ada alasan menaikkan harga BBM
A A A
Sindonews.com - Berbeda dengan banyak pihak yang mendorong pemerintah memilih opsi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan justru menekankan bahwa sebenarnya tidak ada alasan bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan kenaikan BBM.

"Baik secara politis global atau pun secara fiskal, tidak ada desakan ataupun dorongan untuk menaikkan harga BBM. Maka dari itu alasan apa yang diangkat untuk menaikkan harga tersebut?" ungkap Fauzi di Hotel Mulia Senayan Jakarta, Kamis (16/2/2012).

Alasan fiskal, menurut Fauzi, lebih tidak menunjukkan bukti yang begitu kuat karena tercatat pada tahun 2011 lalu Indonesia menempati defisit yang rendah.

"Secara fiskal juga tidak ada buktinya, kita lihat defisit APBN tahun lalu target 2,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), realisasinya 1,3 persen dengan Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) mencapai USD4,2 miliar. Sehingga jangan sampai mengatasnamakan fiskal dalam persoalan ini," paparnya.

Lebih idealnya lagi, menurut Fauzi, kalau memang kenaikan BBM itu terjadi artinya akan adanya nanti pengurangan subsidi dan proses percepatan pembangunan infrastruktur pun akan terealisasi.

"Idealnya subsidi dikurangi selisihnya dan digunakan untuk bangun proyek. Tetapi realisasi untuk pembangunan proyek pun dengan dana yang ada akan lambat, jadi analis akan mempertanyakan. Maka sudahlah, karena proyek daya serap APBN rendah maka kita pilih saja dalam bentuk subsidi, lebih sederhana," ungkapnya.

Dia menambahkan rakyat miskin adalah kalangan yang akan sangat dirugikan jika kenaikan itu terjadi, maka dari itu kata Fauzi selama belum ada alternatif untuk menyelamatkan kalangan tersebut, lebih baik jangan naikkan harga BBM.

"Kalaupun harga BBM dinaikkan tentu harus ada kompensasinya sebab walaupun kalangan miskin itu hanya penikmat kurang dari 10 persen subsidi BBM. Tetapi jika harga BBM naik mereka pasti terpuruk, hingga harus ada kebijakan kompensasi lalu apakah melalui BLT? Apakah melalu subsidi langsung? itu tergantung pemerintah," pungkasnya. (ank)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
1 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
1 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
1 jam yang lalu
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Dorong Pensiunan Tetap Produktif dan Sejahtera
2 jam yang lalu
Personal Branding Berbasis...
Personal Branding Berbasis Kepercayaan Jadi Kunci Peluang Bisnis
2 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
2 jam yang lalu
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved