Peminat SR-004 cetak rekor
Selasa, 20 Maret 2012 - 09:50 WIB
Peminat SR-004 cetak rekor
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah menjaring 17.606 investor, jumlah tertinggi dalam penjualan sukuk ritel selama ini, dari penjualan sukuk negara ritel SR-004 yang penjualannya dilakukan pada periode 5-16 Maret 2012.
Sebagai informasi, penjualan sukuk ritel sebelumnya, yakni SR-001 hanya menjaring 14.295 orang investor, kemudian SR- 002 sebanyak 17.231 orang, dan SR-003 sebanyak 15.487 orang. Penjualan SR-004 yang melibatkan 24 agen penjual itu juga menyerap dana sebesar Rp13,6 triliun. Selama proses pemasaran SR-004, sebanyak 18 agen penjual bahkan meminta kenaikan kuota penjualan (upsize) sejumlah Rp5,4 triliun.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementererian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan,minat masyarakat terhadap sukuk ritel diyakini akan terus membesar. Selain ditandai meningkatnya jumlah pemesanan dan jumlah investor, jelas dia, minat lembaga keuangan untuk menjadi agen penjual pun terus bertambah. ”Ke depan kami ingin mendorong masyarakat yang biasa menabung, kita giring ke investasi dan SR merupakan yang paling potensial untuk dikembangkan,” ujar Rahmat di Jakarta kemarin.
Dia menjelaskan, dari penjualan SR-004, diperoleh data bahwa rata-rata pembelian per investor adalah Rp773,25 juta dengan minimal pembelian Rp5 juta dan maksimal Rp5 miliar.Sebagian besar investor, yakni 14.558 orang (82,6 persen) menyampaikan pemesanan pembelian maksimal Rp1 miliar dengan total volume pemesanan pembelian Rp4,2 triliun. ”Jumlah investor terbanyak, sekitar 50%,berada di wilayah Indonesia bagian barat selain Jakarta. Namun, volume pemesanan terbesar, sekitar 46 persen, tetap di Jakarta,” ujar Rahmat.
Yang menarik, imbuh Rahmat, volume pembelian terbesar (34 persen) datang dari kelompok umur 25–40 tahun tapi jumlah investor terbanyak (36 persen) adalah kelompok umur 41–55 tahun. Lebih lanjut Rahmat mengatakan, pemerintah akan terus meningkatkan penjualan SR sebagai diversifikasi sumber pembiayaan APBN.
SR juga diharapkan bisa memperluas basis investor surat berharga negara (SBN) di pasar domestik, memberikan alternatif instrumen ritel yang berbasis syariah bagi investor, pengembangan pasar keuangan syariah, serta memberikan kesempatan kepada investor kecil untuk berinvestasi dalam instrumen pasar modal yang menguntungkan. ”Investasi SR ini mengamankan masyarakat yang tidak memiliki uang pensiun dalam memasuki usia pensiun. Dengan penjualan SR ini, pemerintah juga bisa membiayai infrastruktur,”tuturnya.
Tingginya minat investor terhadap SBN sebelumnya juga disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brojonegoro. Selain investor lokal, asing tercatat cukup meminati SBN. Persentase kepemilikan asing dalam instrumen SBN menurut dia mencapai sekitar 30 persen. Sebagai informasi, kepemilikan asing di SBN per 8 Maret mencapai Rp227,27 triliun atau 29,25 persen dari total SBN domestik yang diperdagangkan.
Bambang menjelaskan, pada bulan Februari kepemilikan asing di SBN sempat turun didorong dengan turunnya imbal hasil pada Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan yang menyentuh level 1,5–2 persen. Namun, dia menilai fluktuasi kepemilikan asing di SBN adalah hal yang wajar. Terlebih, saat ini pemerintah tengah membahas perubahan-perubahan asumsi makro dalam RAPBN-P 2012.
Investor, kata dia, cenderung menarik dananya terlebih dahulu sambil menunggu penetapan asumsi makro yang baru, terutama soal inflasi. Pemerintah pun yakin kepemilikan asing tidak akan menurun tajam meskipun ada rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bisa mendongkrak inflasi. Investor diyakini sudah menghitung segala kemungkinan sebelum menempatkan dananya di Indonesia.
Sebagai informasi, penjualan sukuk ritel sebelumnya, yakni SR-001 hanya menjaring 14.295 orang investor, kemudian SR- 002 sebanyak 17.231 orang, dan SR-003 sebanyak 15.487 orang. Penjualan SR-004 yang melibatkan 24 agen penjual itu juga menyerap dana sebesar Rp13,6 triliun. Selama proses pemasaran SR-004, sebanyak 18 agen penjual bahkan meminta kenaikan kuota penjualan (upsize) sejumlah Rp5,4 triliun.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementererian Keuangan Rahmat Waluyanto mengatakan,minat masyarakat terhadap sukuk ritel diyakini akan terus membesar. Selain ditandai meningkatnya jumlah pemesanan dan jumlah investor, jelas dia, minat lembaga keuangan untuk menjadi agen penjual pun terus bertambah. ”Ke depan kami ingin mendorong masyarakat yang biasa menabung, kita giring ke investasi dan SR merupakan yang paling potensial untuk dikembangkan,” ujar Rahmat di Jakarta kemarin.
Dia menjelaskan, dari penjualan SR-004, diperoleh data bahwa rata-rata pembelian per investor adalah Rp773,25 juta dengan minimal pembelian Rp5 juta dan maksimal Rp5 miliar.Sebagian besar investor, yakni 14.558 orang (82,6 persen) menyampaikan pemesanan pembelian maksimal Rp1 miliar dengan total volume pemesanan pembelian Rp4,2 triliun. ”Jumlah investor terbanyak, sekitar 50%,berada di wilayah Indonesia bagian barat selain Jakarta. Namun, volume pemesanan terbesar, sekitar 46 persen, tetap di Jakarta,” ujar Rahmat.
Yang menarik, imbuh Rahmat, volume pembelian terbesar (34 persen) datang dari kelompok umur 25–40 tahun tapi jumlah investor terbanyak (36 persen) adalah kelompok umur 41–55 tahun. Lebih lanjut Rahmat mengatakan, pemerintah akan terus meningkatkan penjualan SR sebagai diversifikasi sumber pembiayaan APBN.
SR juga diharapkan bisa memperluas basis investor surat berharga negara (SBN) di pasar domestik, memberikan alternatif instrumen ritel yang berbasis syariah bagi investor, pengembangan pasar keuangan syariah, serta memberikan kesempatan kepada investor kecil untuk berinvestasi dalam instrumen pasar modal yang menguntungkan. ”Investasi SR ini mengamankan masyarakat yang tidak memiliki uang pensiun dalam memasuki usia pensiun. Dengan penjualan SR ini, pemerintah juga bisa membiayai infrastruktur,”tuturnya.
Tingginya minat investor terhadap SBN sebelumnya juga disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brojonegoro. Selain investor lokal, asing tercatat cukup meminati SBN. Persentase kepemilikan asing dalam instrumen SBN menurut dia mencapai sekitar 30 persen. Sebagai informasi, kepemilikan asing di SBN per 8 Maret mencapai Rp227,27 triliun atau 29,25 persen dari total SBN domestik yang diperdagangkan.
Bambang menjelaskan, pada bulan Februari kepemilikan asing di SBN sempat turun didorong dengan turunnya imbal hasil pada Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan yang menyentuh level 1,5–2 persen. Namun, dia menilai fluktuasi kepemilikan asing di SBN adalah hal yang wajar. Terlebih, saat ini pemerintah tengah membahas perubahan-perubahan asumsi makro dalam RAPBN-P 2012.
Investor, kata dia, cenderung menarik dananya terlebih dahulu sambil menunggu penetapan asumsi makro yang baru, terutama soal inflasi. Pemerintah pun yakin kepemilikan asing tidak akan menurun tajam meskipun ada rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang bisa mendongkrak inflasi. Investor diyakini sudah menghitung segala kemungkinan sebelum menempatkan dananya di Indonesia.
()