Pemerintah harus perhatikan angkutan umum

Jum'at, 06 April 2012 - 10:34 WIB
Pemerintah harus perhatikan...
Pemerintah harus perhatikan angkutan umum
A A A
Sindonews.com – Penyedia jasa angkutan umum kebingungan untuk menaikkan tarif yang direncanakan akan dilakukan saat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, 1 April 2012.

Karena pemerintah menunda kenaikan BBM tersebut,para pengusaha masih mencari jalan agar dapat menyiasati kebijakan strategis yang diiringi kenaikan harga suku cadang kendaraan. Seperti diketahui,sebelumnya Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) telah mengajukan usulan kenaikan tarif mencapai 35 persen jika harga BBM naik. Ketua DPD Jawa Barat Aldo F Wiyana meminta pemerintah agar mau turun ke lapangan untuk mendapatkan data keluhan para pengusaha jasa angkutan umum.

“Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan harus mau mengecek langsung ke lapangan dengan melakukan inspeksi mendadak. Jadi, jangan hanya percaya dari data yang disodorkan seperti pengaruh kondisi jalan yang rusak,” ucap Aldo. Menurut dia, pemerintah juga harus peka terhadap kenaikan harga suku cadang.

“Hal ini perlu dilakukan agar bisa mendapat data akurat yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan,”kata Aldo. Selain itu, pihaknya juga berharap pemberian stimulus bagi sektor angkutan umum tetap terealisasi, meski kenaikan harga BBM bersubsidi tertunda selama enam bulan ke depan.

Walaupun terbilang kecil, dana stimulus sebesar Rp5 triliun tersebut akan menjadi angin segar bagi pelaku jasa angkutan umum. Dia pun meyakinkan jika pemerintah tidak juga memperhatikan nasib angkatan umum, maka ongkos yang dibebankan kepada masyarakat akan dinaikkan. “Kami akan lihat dua sampai tiga bulan ke depan. Jika pemerintah tidak bertindak dan memberikan perhatian kepada angkutan umum,maka kami akan menaikkan tarif seperti perhitungan sebelumnya yakni 30-35 persen,” ujar Aldo.

Dia menjanjikan pihaknya tidak melarang anggotanya menaikkan tarif angkutan umum. Namun, kenaikan tarif perlu dipertimbangkan secara masak agar tidak semakin menurunkan load factor angkutan.

“Kalaupun ada anggota yang menaikkan (tarif), paling hanya 15 persen tergantung keinginan mereka masing-masing. Tapi, kami khawatir kenaikan tarif malah akan menurunkan load factor.Saat ini saja ratarata tingkat isian penumpang hanya sekitar 40-50 persen,” katanya.

Temuan di lapangan, salah satu pengusaha angkutan umum Jawa Barat mengaku kebingungan pascapenundaan kenaikan harga BBM. Mereka ragu pemerintah tetap merealisasikan janjinya untuk memberikan stimulus kepada sektor transportasi sebesar Rp5 triliun. “Penundaan kenaikan BBM membuat kami pelaku usaha jadi semakin repot dan kebingungan, paling tidak selama enam bulan ke depan,” ujar Pengusaha Otobus Harum Aris Ferdiana.

Dia mengatakan, rencana kenaikan BBM membuat harga-harga suku cadang melambung tinggi dengan kenaikan bervariasi antara 5-15 persen,” ucapnya.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
BRI Life Hadirkan Solusi...
BRI Life Hadirkan Solusi Perlindungan Kesehatan dan Finansial
2 jam yang lalu
IHSG Naik 0,34% dalam...
IHSG Naik 0,34% dalam Sepekan, Ini Daftar Saham Cuan dan Rugi Terbesar
2 jam yang lalu
Perkuat Ekonomi Daerah,...
Perkuat Ekonomi Daerah, Dana Bagi Hasil Tambang Perlu Dievaluasi
3 jam yang lalu
Perpres Operasional...
Perpres Operasional Koperasi Desa Merah Putih Ditargetkan Terbit Pekan Depan, Atur Penyaluran Subsidi hingga Bansos
3 jam yang lalu
OJK Catat Transaksi...
OJK Catat Transaksi Kripto Rp23,01 Triliun, Pasar Futures Dinilai Kian Prospektif
4 jam yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 Jadi Rp2,61 Juta per Gram, Ini Rinciannya
4 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved