Mobil mewah dilarang pakai premium tak efektif

Jum'at, 13 April 2012 - 09:46 WIB
Mobil mewah dilarang...
Mobil mewah dilarang pakai premium tak efektif
A A A
Sindonews.com - Usulan melarang mobil pribadi dengan kapasitas mesin 1.500 cc ke atas untuk menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dinilai tidak efektif.

Direktur Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pelarangan itu dipastikan mendorong masyarakat mampu untuk lebih banyak mengonsumsi BBM nonsubsidi. Meski demikian, dia menilai langkah itu tidak akan menekan angka subsidi secara signifikan. Sebab, pembatasan berdasarkan kapasitas mesin tersebut tidak berarti menyetop orang-orang kaya membeli dan menggunakan BBM bersubsidi yang seharusnya menjadi hak warga tidak mampu.

“Orang-orang kaya tetap diperbolehkan membeli premium,” kata Direktur Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto di Jakarta kemarin.

Sebelumnya pemerintah berharap pembatasan maupun pelarangan itu akan efektif menjaga kuota BBM bersubsidi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012 sebesar 40 juta kiloliter (kl). Tanpa pengendalian, konsumsi BBM bersubsidi dikhawatirkan bakal bengkak hingga 46–47 juta kl. Saat ini konsumsi premium bersubsidi terbesar adalah oleh mobil pribadi yang mencapai 53 persen.

Sementara, industri automotif nasional mengkhawatirkan rencana pembatasan tersebut. Ketua II Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sekaligus Presiden Direktur PT Isuzu Astra MotorIndonesia (IMAI) Yohannes Nangoi mengatakan,peraturan yang melarang mobil pribadi berkapasitas mesin di atas 1.500 cc membeli premium dipastikan berdampak terhadap penjualan mobil nasional.

Namun, pihaknya masih belum bisa memperkirakan seberapa besar dampaknya.“Memang ada dampaknya terhadap penjualan dan industri automotif.Tapi,seberapa besar dampaknya sulit untuk diprediksi,” kata Yohannes ketika dihubungi kemarin. Kendati demikian,dampak terhadap penjualan tersebut hanya akan berlangsung sementara. Setelah beberapa waktu,permintaan mobil akan kembali normal.

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Joko Trisanyoto mengatakan, pihaknya akan menunggu dan melihat seberapa besar dampak dari peraturan tersebut. “Karena DP (down payment) kendaraan naik lalu tadinya harga bahan bakar akan naik, dan lain sebagainya. Jadi, saya belum ada prediksi.Kita hadapi saja semuanya,”kata Joko.

Sementara, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan meminta upaya menekan pembengkakan subsidi dicontohkan secara langsung oleh pemerintah. Dia menilai program penghematan itu baru akan efektif jika disertai tindakan nyata dari pemerintah.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
38 menit yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
53 menit yang lalu
Kepercayaan Konsumen...
Kepercayaan Konsumen Antarkan KARA Raih Empat Penghargaan IOB Award 2026
53 menit yang lalu
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
1 jam yang lalu
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Risiko Investasi Reksa Dana sebelum Mulai Berinvestasi
1 jam yang lalu
KAI Logistik Kelola...
KAI Logistik Kelola 8,7 Juta Ton Angkutan Barang di Semester I 2026
1 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved