Cadangan devisa masih aman topang ekonomi RI

Sabtu, 28 April 2012 - 14:33 WIB
Cadangan devisa masih...
Cadangan devisa masih aman topang ekonomi RI
A A A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) mencatatkan cadangan devisa (Cadev) pada bulan April mengalami peningkatan dibandingkan dengan akhir Maret 2012. Posisi cadev tersebut dinilai masih cukup aman untuk menopang pertumbuhan ekonomi RI.

Direktur Grup Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juda Agung mengatakan cadangan devisa sampai dengan akhir Maret 2012, mencapai USD110,5 miliar atau setara dengan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Sedangkan jika dilihat pada bulan April 2012 tercatat sebesar USD114,9 miliar atau setara dengan 6,12 bulan impor dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Posisi cadev memang mengalami kenaikan, ini dikarenakan masuknya portofilo FDI (Foreign Direct Investment), selain itu juga ada pemasukan dari Devisa Hasil Ekspor (DHE)," ungkapnya di Grand Royal Panghegar, Bandung, Sabtu (28/4/2012).

Posisi cadev tersebut setara dengan 7,75 bulan impor barang dan masih diatas level kecukupan cadev per group yaitu 6,7 bulan impor. Juda menegaskan, bahwa cadangan devisa masih cukup aman menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan.

"Rasio short term debt to reserve juga menunjukkan bahwa cadev pada tingkat aman," pungkasnya.

Sebelumnya BI mencatatkan cadangan devisa hingga akhir Februari 2012 meningkat hingga USD112,22 miliar dari sebelumnya USD111,99 miliar atau setara dengan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Dengan cadangan devisa yang tetap menyokong maka pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2012 diperkirakan mencapai 6,5 persen dan akan berlanjut pada triwulan II-2012 meskipun tidak setinggi pertumbuhan di triwulan I-2012.

Gubernur BI Darmin Nasution juga menjelaskan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2012 diperkirakan akan mencatat surplus yang lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya.

"Penurunan surplus neraca pembayaran terutama disebabkan oleh defisit transaksi berjalan yang lebih besar, karena melambatnya ekspor sejalan dengan perlambatan permintaan dunia di tengah impor yang terus meningkat, seiring dengan kuatnya permintaan domestik dan tingginya konsumsi BBM," tandasnya. (ank)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
6 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
6 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
6 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
8 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
8 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
8 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved