RI waspadai dampak krisis eropa

Rabu, 06 Juni 2012 - 06:59 WIB
RI waspadai dampak krisis...
RI waspadai dampak krisis eropa
A A A
Sindonews.com - Pemerintah mewaspadai dampak krisis Eropa terhadap perekonomian Indonesia. Dampak krisis tersebut bisa sampai ke Indonesia melalui perdagangan, keuangan ataupun kepercayaan investor.

Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengatakan, dari semua dampak yang bisa sampai ke Indonesia, yang paling dikhawatirkan adalah berkurangnya perhatian serta dukungan lembaga keuangan dunia terhadap kawasan Asia.

“Banyak lembaga keuangan yang mempunyai portofolio di Eropa dan mereka perlu melakukan konsolidasi, melakukan penyehatan perbankan. Mungkin (itu) bisa mengurangi peran mereka di dunia, termasuk di kawasan Asia,” papar Agus di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Potensi berkurangnya perhatian lembaga keuangan itulah yang membuat Agus Marto meminta semua pihak untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi krisis. Indonesia harus bisa mengatasi gejolak krisis yang mulai muncul, khususnya yang terkait dengan pasar uang.

Sebagai catatan, krisis Eropa yang terus memburuk ikut berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pekan lalu, misalnya, rupiah mengalami pelemahan cukup tajam hingga menyentuh level Rp9.550 per dolar Amerika Serikat (AS).

“Kita mesti jaga kondisi seperti yang terjadi dua minggu ini, yaitu adanya gejolak-gejolak yang nanti akan ada dampaknya terhadap pasar uang dan nanti ke pasar modal,” imbuhnya. Lebih lanjut, Agus menjelaskan Indonesia telah memiliki sejumlah perangkat untuk menangkal krisis sehingga dampaknya diharapkan tidak terlalu besar.

Perangkat tersebut berupa crisis management protocol, rasio utang yang sehat, perekonomian domestik yang kuat, serta kebijakan fiskal yang sehat. Mantan Direktur Utama Bank Mandiri tersebut mengungkapkan, krisis Eropa juga bisa berdampak ke perdagangan. Namun, lantaran Indonesia tidak terlalu bergantung dengan ekspor sehingga pengaruhnya tidak terlalu besar.

Mengenai pelemahan rupiah, Agus Marto melihat rupiah akan sulit kembali ke posisi sebelumnya dalam waktu dekat. Namun, melemahnya rupiah ini seharusnya dijadikan peluang untuk meningkatkan ekspor sehingga neraca perdagangan April yang mulai defisit bisa sedikit berkurang.

Sebagai catatan, neraca perdagangan April 2012 mencatatkan defisit sebesar USD641,1 juta. Defisit disebabkan tidak berimbangnya antara laju ekspor dan impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor pada April 2012 mencapai USD15,98 miliar, sementara impornya melampaui USD16,62 miliar. “Rupiah yang melemah ini baik untuk tetap membuat eksportir kita tetap punya daya saing dan bisa mengurangi keinginan impor barangbarang yang tidak prioritas,” ucapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Bambang PS Brodjonegoro mengingatkan neraca perdagangan yang mulai defisit berbahaya bagi neraca pembayaran. Pihaknya juga tidak bisa memprediksi kapan perlambatan ekspor berakhir. “Kalau neraca tidak bisa cepat recover, current account bisa defisit,” ujarnya.

Sementara itu, setelah melemah tajam pada perdagangan Senin lalu (4/6), IHSG pada perdagangan kemarin berhasil berbalik arah menuju teritori positif. IHSG naik 63,29 poin atau 1,73 persen dan ditutup pada level 3.717,876.

Analis PT Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, IHSG menguat lantaran terdorong bursa kawasan yang juga bergerak dalam zona hijau. Gerak IHSG juga ditopang aksi beli investor menyusul kondisi saham-saham unggulan yang sudah mengalami fase jenuh jual.

Bursa Asia kemarin kembali menguat di tengah harapan menjelang para pembuat kebijakan dari kelompok 7 negara industri maju (G-7) untuk meredam krisis Eropa.

Pertemuan khusus yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Jepang, Jerman, Prancis, Inggris, Italia, dan Kanada pada Selasa (5/6) waktu Washington itu disebut-sebut akan menyusun kerangka pembicaraan sebelum KTT G-20 yang akan berlangsung di Meksiko pekan ketiga bulan ini. Kemarin, mayoritas bursa Asia bergerak positif dipimpin Nikkei yang ditutup naik 1,04 persen ke level 8.382 poin.

Ini merupakan rebound yang cukup baik setelah sehari sebelumnya anjlok ke level terendah dalam 28 tahun. Di China, indeks Hang Seng juga menguat 0,4 persen, Kospi (Seoul, Korea Selatan) naik 1,05 persen, dan Straits Times menguat 0,5 persen.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
4 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
4 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
6 jam yang lalu
Infografis
Krisis Kepercayaan pada...
Krisis Kepercayaan pada F-35 Dorong Eropa Kembangkan Jet Tempur Gen 6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved