Tata niaga gas kacau bisa jadi bumerang

Selasa, 19 Juni 2012 - 10:37 WIB
Tata niaga gas kacau...
Tata niaga gas kacau bisa jadi bumerang
A A A
Sindonews.com - Menanggapi berbagai persoalan terkait pricing policy sektor energi terutama Bahan Bakar Mineral (BBM) dan Gas, sungguh memprihatinkan. Berbagai usulan dan saran yang diberikan kepada pemerintah tidak pernah dijadikan rujukan perbaikan berbagai persoalan.

Anggota Komisi VII DPR RI Dewi Aryani menjelaskan, Khusus soal tata niaga gas yang sudah karut marut ini tidak terkendali dipermainkan pasar seenaknya. Kebutuhan domestik atau Domestic Market Obligation tidak terurus sesuai rencana dan amanat konstitusi.

"Seharusnya PLN mendapat prioritas karena PLN sebagai single producer dan pelayanan listrik. Selama ini defisit keuangan PLN harus di bayar mahal oleh rakyat. Pabrik pupuk dan industri strategis sektor pangan harus menjadi prioritas berikutnya selain sektor transportasi. Mobil dinas dan moda transportasi umum harusnya diarahkan menggunakan gas mulai kini dan ke depan," tutur Dewi melalui siaran persnya yang diterima Sindonews, Selasa (18/6/2012).

Kader PDI Perjuangan ini menjelaskan, selama bertahun-tahun masalah pricing policy gas dan asumsi lifting produktivitas gas seperti momok yang tak kunjung sirna. Hanya hitungan di atas kertas tapi tak pernah terimplementasi melalui berbagai kebijakan yang seharusnya segera digelontorkan oleh pemerintah termasuk dialog dengan semua stakeholder terkait sebelum policy diturunkan.

Tentu gas yang melimpah, lanjut Dewi, harus dikelola sendiri demi kepentingan rakyat dan jangan sampai karena negosiasi politik sehingga gas ini menjadi kendali asing.

"Jangan sampai gas kita yang melimpah kembali dikuasai asing dan kembali lagi rakyat hanya mendapatkan derita dan harus membayar mahal untuk persoalan kebutuhan dasar yaitu pemenuhan sektor energi terutama gas sebagai bagian dari modal utama kegiatan perekonomian bangsa," ucapnya.

Selain itu, Dewi mendesak pemerintah untuk segera menangani persoalan gas. "Jangan sampai kita terlambat menangani sektor ini karena suatu saat akan jadi bumerang bangsa ini, ibarat peribahasa ayam mati di lumbung berasnya sendiri," pungkas Dewi.
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
57 menit yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
1 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
1 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
2 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
2 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
3 jam yang lalu
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved