Margin harga gas hulu & hilir terlalu tinggi

Kamis, 21 Juni 2012 - 15:16 WIB
Margin harga gas hulu...
Margin harga gas hulu & hilir terlalu tinggi
A A A


Sindonews.com - Pasca-kenaikan harga gas di industri hilir yang cukup membuat panik kalangan industri, pemerintah kini tengah mengkaji ulang harga gas bagi industri hulu.

Direktur Pembinaan Usaha Hulu Minyak dan Gas Kementerian ESDM Edy Hermantoro mengatakan, saat ini Kementerian ESDM belum dapat menentukan seberapa besar kenaikannya. Pengecekan tersebut, akan dilakukan dalam tujuh hari ke depan.

"Agar di hilir mampu, agar industri mampu seperti apa? Mungkin kenaikannya bertahap," kata dia dalam Round Table Discussion 'Renegosiasi Harga Gas Bumi dan Permasalahannya' di Warung Daun, Cikini Jakarta, Kamis (21/6/2012).

"Ini kan waktu itu di sisi BP Migas, tapi yang menetapkan pemerintah, prosesnya seperti itu, goverment view bisa beda, kita lihat dari sisi hulu dan hilir juga," tambah Edy.

Di tempat yang sama, Vice President Gas Resources & Subsidiary Management Gas&Power PT Pertamina EP, Jarwo Sanyoto mengakui harga gas di hulu dan hilir memang memiliki perbedaan. Harga gas di hulu lebih tinggi karena memiliki banyak risiko.

"Risiko tinggi karena banyak gagalnya. Harganya tinggi bisa USD10 juta sampai USD12 juta per sumur. Kalau di hilir sedikit mudah," jelasnya.

Karena itu, Jarwo meminta pemerintah juga harus meregulasi harga gas di hulu. Menurut Jarwo, harga gas hulu sudah dipatok tinggi, karenanya harga gas hilir tidak mengikuti harga gas hulu yang sudah tinggi. "Seharusnya dari hilir jangan banyak-banyak untungnya. Kalau harga gas yang sekarang di pasaran sudah USD14. Padahal, dari produsen maksimal USD6-7, ini terlalu tinggi marginnya," jelas Jarwo.

Sekadar informasi, pemerintah melalui Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) telah menaikkan harga gas terhadap beberapa pembeli gas, termasuk Perusahaan Gas Negara (PGN).

BP Migas mengatakan, telah terdapat 11 Perjanjian Jual Beli Gas (PJB G) yang telah menyetujui kenaikan harga gas menjadi sekitar USD6 per juta British Thermal unit (mmbtu). Dengan begitu, penerimaan negara dari sektor gas dapat bertambah Rp6 triliun tahun ini. (bro)
()
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram
10 menit yang lalu
IHSG Dibuka Menguat...
IHSG Dibuka Menguat ke 5.709 Pagi Ini, Mayoritas Sektor Bergerak Positif
45 menit yang lalu
Aset Kripto Rp18 Triliun...
Aset Kripto Rp18 Triliun Lenyap Diretas, AI Bisa Jadi Andalan Keamanan Baru
1 jam yang lalu
Prabowo Pangkas 1.000...
Prabowo Pangkas 1.000 BUMN Menjadi 250, Bagaimana Nasib Karyawan?
1 jam yang lalu
Pasokan Minyak Iran...
Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
2 jam yang lalu
RSM Indonesia Umumkan...
RSM Indonesia Umumkan Bergabungnya Mahendra Siregar sebagai Senior Advisor
11 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved