Soal EBT, Indonesia harus belajar dari Jerman
Kamis, 05 Juli 2012 - 11:33 WIB
Soal EBT, Indonesia harus belajar dari Jerman
A
A
A
Sindonews.com - Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Nazir Foead mengatakan Indonesia harus belajar dari Jerman dalam pengembangan energi. Pasalnya, Jerman berhasil kembangkan 70 persen energi terbarukan terutama energi angin dikarenakan adanya dukungan yang sangat besar dari pemerintah.
"Pemerintah Jerman mendukung penuh pengembangan energi terbarukan, makanya bauran energi di Jerman 70 persen berasal dari energi baru terbarukan (EBT) seperti angin dan biomass," kata Nazir di acara Igniting the Ring of Fire : A Vision for Developing Indonesia's Geothermal Power, di Hotel Mulia Senayan, Kamis (5/7/2012).
Salah satu dukungan besar dari pemerintah Jerman, menurutnya adalah jaminan harga feed and tariff selama 15 tahun. Tercatat sampai 15 tahun belakangan membuat dari petani hingga pengusaha berlomba-lomba mengembangkan energi terbarukan.
Bahkan dia menuturkan, pihak perbankkan pun sangat terbuka memberikan pinjaman kepada pihak yang mengembangkan energi terbarukan. "Ya karena dengan jaminan harga atau feed and tariff selama 15 tahun, bank pun merasa diuntungkan," tegasnya.
Kemudian, dia menilai Indonesia memiliki potensi terbesar di dunia. Jika itu digarap dengan optimal, maka dapat dimanfaatkan, khususnya di dalam negeri.
"Dari diskusi kami dengan Anggito Abimanyu, dia bilang, gampang caranya panas bumi berkembang di Indonesia, ya PLN menjamin membeli listrik dari panas bumi dalam jangka panjang dengan harga yang sesuai," terangnya.
Nazir menegaskan, jika ingin energi terbarukan di Indonesia bisa berkembang pesat, harus ada keseriusan dari pemerintah. Karena dari kebijakan energi nasional yang ditargetkan seperti panas bumi menyokong bauran 5 persen energi nasional pada 2025.
"Hal tersebut tidak akan tercapai kalau pemerintah tidak sunguh-sunguh memberikan dukungan, apalagi target WWF-Indonesia pada 2050 energi nasional 100 persen disokong energi terbarukan," tandasnya.
"Pemerintah Jerman mendukung penuh pengembangan energi terbarukan, makanya bauran energi di Jerman 70 persen berasal dari energi baru terbarukan (EBT) seperti angin dan biomass," kata Nazir di acara Igniting the Ring of Fire : A Vision for Developing Indonesia's Geothermal Power, di Hotel Mulia Senayan, Kamis (5/7/2012).
Salah satu dukungan besar dari pemerintah Jerman, menurutnya adalah jaminan harga feed and tariff selama 15 tahun. Tercatat sampai 15 tahun belakangan membuat dari petani hingga pengusaha berlomba-lomba mengembangkan energi terbarukan.
Bahkan dia menuturkan, pihak perbankkan pun sangat terbuka memberikan pinjaman kepada pihak yang mengembangkan energi terbarukan. "Ya karena dengan jaminan harga atau feed and tariff selama 15 tahun, bank pun merasa diuntungkan," tegasnya.
Kemudian, dia menilai Indonesia memiliki potensi terbesar di dunia. Jika itu digarap dengan optimal, maka dapat dimanfaatkan, khususnya di dalam negeri.
"Dari diskusi kami dengan Anggito Abimanyu, dia bilang, gampang caranya panas bumi berkembang di Indonesia, ya PLN menjamin membeli listrik dari panas bumi dalam jangka panjang dengan harga yang sesuai," terangnya.
Nazir menegaskan, jika ingin energi terbarukan di Indonesia bisa berkembang pesat, harus ada keseriusan dari pemerintah. Karena dari kebijakan energi nasional yang ditargetkan seperti panas bumi menyokong bauran 5 persen energi nasional pada 2025.
"Hal tersebut tidak akan tercapai kalau pemerintah tidak sunguh-sunguh memberikan dukungan, apalagi target WWF-Indonesia pada 2050 energi nasional 100 persen disokong energi terbarukan," tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :